MERAHPUTIH.COM — SUNGAI Danube mengering akibat gelombang panas. Kekeringan ekstrem yang terjadi menyingkap kembali sedikitnya 20 bangkai kapal perang Nazi yang telah terkubur di dasar sungai selama 82 tahun. Kapal-kapal tersebut sengaja ditenggelamkan pasukan Jerman pada 1944 untuk mencegahnya jatuh ke tangan Tentara Merah yang terus bergerak maju.
Sungai Danube merupakan sungai terpanjang kedua di Eropa dengan panjang sekitar 2.850 km. Sungai ini berhulu di Black Forest, Jerman, mengalir ke tenggara melewati 10 negara dan bermuara di Laut Hitam lewat Delta Danube di Rumania
Bulan ini, permukaan air Danube yang mencapai titik terendah dalam sejarah memperlihatkan sedikitnya 20 kapal perang Jerman di dekat Prahovo, Serbia bagian timur. Lambung kapal yang berkarat dan tiang-tiang yang patah mulai muncul ke permukaan. Ini merupakan sisa-sisa armada Laut Hitam Nazi yang sengaja ditenggelamkan selama Perang Dunia II.
Bangkai kapal-kapal tersebut pernah muncul saat kekeringan sebelumnya. Namun, gelombang panas ekstrem dan kekeringan yang melanda musim panas ini membuat puluhan kapal kembali terlihat. Sebagian kapal diyakini masih membawa senjata dan bahan peledak sehingga kawasan sungai yang menjadi salah satu jalur pelayaran utama dan daya tarik wisata Eropa ini berubah menjadi semacam medan perang yang kembali terlihat.
Baca juga:
Bagi wisatawan yang menyusuri Danube dengan kapal pesiar sungai musim panas ini, surutnya permukaan air menghadirkan pemandangan sekaligus sejarah yang biasanya tersembunyi di bawah sungai.
Terkubur 82 Tahun di Bawah Danube
Kisah kapal-kapal tersebut berada di dasar Danube bermula lebih daripada delapan dekade lalu. Pada 1944, pasukan Jerman mulai mundur di Front Timur ketika pasukan Uni Soviet terus bergerak maju. Kondisi tersebut membuat sekitar 200 kapal Nazi dari armada Laut Hitam terjebak di wilayah yang dengan cepat berada di bawah kendali Soviet.
Danube menjadi jalur untuk melarikan diri. Namun, kawasan Iron Gates, bagian sungai yang sempit dan sejak dulu dikenal berbahaya, menjadi titik penyumbatan.
Pada September 1944, Laksamana Muda Jerman Paul-Willy Zieb memerintahkan lebih dari 200 kapal ditenggelamkan secara sengaja ketika Tentara Merah semakin mendekat. Kapal-kapal tersebut ditenggelamkan agar tidak jatuh ke tangan Soviet sekaligus menghambat laju pasukan Soviet.
Sebagian besar kapal tetap berada di bawah permukaan sungai sejak saat itu. Selain karena kondisi sungai, keberadaan kapal-kapal tersebut juga menjadi ancaman bagi pelayaran karena sebagian di antaranya masih diyakini menyimpan persenjataan dan amunisi yang belum meledak.
Pemerintah Serbia telah meluncurkan program yang diperkirakan bernilai €30 juta (sekira Rp 620,8 miliar) untuk menyingkirkan sejumlah kapal tersebut. Namun, prosesnya berjalan lambat karena pembersihan dasar sungai dan pengangkatan kapal harus dilakukan dengan sangat hati-hati demi menghindari risiko ledakan dan bahaya lainnya.
"Hari ini, Anda bisa duduk di dek kapal pesiar sungai sambil menikmati segelas anggur dan menyaksikan negara-negara indah ini berlalu. Namun, lanskap yang sama pernah menjadi saksi perang, fasisme, penindasan, dan penderitaan manusia yang luar biasa," kata seorang perencana perjalanan, Kenneth Reece, dikutip BBC.
Daya Tarik Wisata
Meski kapal-kapal itu terlihat seperti sebuah ancaman, para wisatawan malah menikmati kemunculan bangkai kapal tersebut sebagai pemandangan yang mencolok di sepanjang salah satu sungai terpanjang di Eropa tersebut. Danube membentang sekitar 2.850 kilometer melintasi 10 negara dan melewati wilayah yang menyimpan sejarah berabad-abad tentang keruntuhan kekaisaran serta perubahan aliansi politik.
Kenneth Reece, seorang perencana perjalanan yang baru-baru ini menyusuri Danube bagian hilir dengan kapal pesiar sungai Avalon Passion, mengatakan berbagai pengingat tentang sejarah kelam kawasan tersebut terus mengiringi perjalanan mereka.
Seperti dilansir BBC, Reece telah mengunjungi benteng-benteng abad pertengahan, mendengar kisah kehidupan di bawah komunisme dan kediktatoran, mempelajari perang-perang yang membentuk kawasan ini, dan melewati tempat-tempat yang sebagian sejarahnya masih berada dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.
"Mendengar tentang bangkai kapal Jerman dari era Perang Dunia II di bawah Danube menambahkan lapisan lain. Sejarah itu tidak hanya berada di museum atau monumen. Sebagiannya benar-benar berada tepat di bawah kami,” ujarnya.(dwi)
Baca juga:
Permukaan Air telah Capai Rekor Terendah, Kerangka Manusia Bermunculan di Waduk AS