DARI apartemen berukuran 10 x 10 meter yang sederhana di Kota Seoul, Su Lee memulai perjalanan soniknya. Lagu dan video I’ll Just Dance yang meraih 750 ribu views hanya dalam satu bulan pertama membuat namanya dikenal luas. Kisah yang ia hadirkan amat terhubung dengan penonton yang merasa terjebak selama pandemi COVID-19.
I’ll Just Dance dengan cepat menarik perhatian banyak label musik di luar sana. Lee dan musiknya terbilang kontras dengan bintang pop tradisional yang kita lihat selama ini. Komitmennya terhadap kejujuran dan keaslian terus menarik banyak penggemar.
BACA JUGA:
'There and Back Again', Perjalanan Menghadapi Patah Hati Eric Nam
Kejujuran yang sama ia bawa dalam album perdananya, Messy Sexy, yang dirilis pekan lalu. Musisi dan produser asal Korea Selatan ini menjelajahi dunia baru dan melangkah ke proses kreatif nan kolaboratif. Album ini menjadi bukti kolaborasi perdana Lee dengan produser dari luar negeri, termasuk Ariza dari Kolombia, musisi pop dance, Sweater Beats, dan musisi indie asal Nashville, Miki Fiki.
Album ini merupakan kelanjutan dari single Lee sebelumnya, Super Happy/Jump dan Messy Sexy. “Album ini merupakan ekspresi dari kekacauan hidup. Sebuah kumpulan lagu yang menggambarkan sukacita, kesepian, kemarahan, kebingungan, kemenangan, dan berbagai emosi lainnya yang kita rasakan sebagai seorang manusia,” kata Lee dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com, Kamis (4/11).
Lewat album ini, Lee menunjukkan dirinya apa adanya, menggabungkan tema kesehatan mental dan emosi ke dalam musiknya nan khas. "Sweater Beats ialah orang pertama yang pernah menulis lagu denganku secara tatap muka,” katanya tentang kolaborasi perdana di album ini. Lee mengatakan ia menghabiskan setahun mengerjakan musik di apartemennya di Seoul. Ketika akhirnya datang ke Los Angeles, AS, untuk bertemu Sweater Beats, ia mengaku amat gugup. “Ini kali pertama aku membiarkan orang lain masuk ke dunia musikku sendiri. Namun, Sweater Beats membuatnya amat nyaman sehingga mudah bagiku,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Kolaborasi dengan Sweater Beats menghasilkan lagu-lagu yang menjadi tulang punggung album ini, yaitu Messy Sexy, Sonder, dan All the Time. “Kolaborasi perdana ini mendorongku memperluas lingkaranku, mengajak berbagai teman yang kemudian berkontribusi untuk proyek ini,” jelasnya.
Lagu lain yang menyampaikan kejujuran di album ini ialah Mayfly. Lee dengan gamblang menceritakan bagaimana kehidupan nomadik yang pernah ia jalani memengaruhi hubungannya dengan orang-orang yang ia sayangi. “Aku tidak berada di sebuah hubungan asmara yang berlangsung lama. Rasanya menyakitkan meninggalkan mereka yang aku sayangi. Aku menulis lagu ini dengan harapan aku tidak harus melakukan hal itu lagi kepada orang-orang yang aku sayangi sekarang,” katanya.
Kisah-kisah keseharian nan relatable ala Lee di album ini terasa makin dekat dengan musik nan ringan, tapi cukup menempel di telinga. Menyenangkan dan menenangkan. “Aku juga ingin menambahkan sedikit lamunan dan harapan besar untuk masa depan yang akan datang,” tutupnya.(dwi)
BACA JUGA:
Makna Lagu 'Lift Me Up' Rihanna untuk OST 'Black Panther: Wakanda Forever'