MerahPutih.com - Ruang Resonansi, Kalibata, Jakarta Selatan, menjadi lokasi digelarnya sesi dengar album kedua Dongker, Melankolia Radikal, pada Senin (24/8).
Meski hanya diikuti oleh sejumlah pendengar, sesi tersebut berlangsung dalam atmosfer yang intim dan penuh perhatian.
Terima kasih untuk kalian semua yang hadir dan menyempatkan waktu di hari kejepit ini mendengarkan album kami.
ujar vokalis sekaligus gitaris Dongker, Delpi Suhariyanto
Melankolia Radikal dijadwalkan resmi dirilis pada 28 Agustus 2026. Album ini menjadi upaya Dongker dalam melihat kesedihan dari sudut pandang yang lebih luas.
Bukan sekadar emosi yang muncul sementara, melainkan perasaan yang dapat tumbuh, bertahan, dan perlahan mengakar dalam kehidupan manusia muda.
Baca juga:
Dongker Perkenalkan Dollar, Maskot yang Mewakili Kesedihan di Album 'Melankolia Radikal'
Melankolia Radikal Rangkum Pengalaman Berharga Dongker
Selama kurang lebih 40 menit, 11 lagu dari Melankolia Radikal diperdengarkan kepada para tamu. Musik tersebut hadir bersama rangkaian visual yang diambil dari penampilan Dongker di Kolong Pasopati, Bandung, pada Jumat (17/8).
Suasana sesi dengar terasa hening dan dekat, dengan para pendengar serta personel band menyimak lagu demi lagu yang diputar melalui laptop.
Nama Melankolia Radikal sendiri memiliki makna yang erat dengan gagasan utama album. Secara etimologis, “melankolia” berasal dari bahasa Yunani melancholia, yang pada masa lampau dikaitkan dengan keadaan hati yang murung.
Sementara “radikal” berasal dari bahasa Latin radix, yang berarti akar. Dua kata tersebut kemudian dipertemukan Dongker untuk menggambarkan kesedihan yang telah tumbuh dan mengakar.
Baca juga:
'Melankolia Radikal', Album Kedua Dongker dengan Artwork Agan Harahap
Kesedihan dalam album ini tidak berhenti pada pengalaman personal masing-masing personel. Dongker turut melihatnya sebagai pengalaman bersama yang lahir dari berbagai hubungan dan lingkungan, mulai dari relasi antarmanusia, keluarga, tempat tinggal, hingga negara dan hal-hal yang berada di luar diri.
Perasaan tersebut kemudian tumbuh perlahan dan pada akhirnya memengaruhi cara seseorang memandang dunia.
“Ketika suatu kelompok manusia ditempatkan dalam kondisi yang sama, ada kesempatan bagi sebuah perasaan untuk tumbuh bersamaan, dialami dan dirasakan secara kolektif. Melankolia Radikal, adalah kumpulan dari rasa sedih, kecewa, marah, yang saya rasa telah dirasakan secara kolektif belakangan ini oleh rakyat, sebagai reaksi atas ruang yang menghimpunnya yaitu negara,” imbuh drummer Dongker, Dzikrie J. Arethusa.
Dongker Bawa 11 Lagu di Album Melankolia Radikal
Pandangan serupa juga disampaikan Arno Zarror. Menurutnya, kesedihan memang kerap menjadi emosi yang ingin dihindari, tetapi pada saat tertentu justru dibutuhkan untuk memahami diri dan keadaan.
“(Sedih) itu perasaan yang kadang kita tak inginkan, tapi kadang dibutuhkan. Sebab emosi yang paling jujur itu kadang keluar ketika sedih. Realita hari ini banyak manusia yang sedih tapi bersembunyi. Sepertinya album ini secara prosesnya banyak mengajarkan kami bentuk cara bertahan hidup.” tambah Arno Zarror, vokalis dan gitaris Dongker.
Bagi Delpi, Arno, dan Dzikrie, kesedihan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sebagai manusia muda. Mereka mengalami kekecewaan, menjadi pihak yang mengecewakan, kehilangan arah, sekaligus berusaha mencari pemahaman mengenai kehidupan.
Berbagai pengalaman itu diolah menjadi 11 lagu yang membangun lanskap emosional Melankolia Radikal.
Baca juga:
Dongker Rilis 'Lagu Selepas Hujan', Balada Reflektif Jelang Album 'Melankolia Radikal'
Perjalanan album ini juga melibatkan sejumlah kolaborator yang turut memperkaya warna musik Dongker. Salah satunya adalah Cholil Mahmud, yang dikenal melalui Efek Rumah Kaca lewat “Near Imajinasi” dan Banda Neira melalui “Lamunan Ringan di Singapura”.
Kehadirannya memberikan tambahan warna sekaligus memperluas kedalaman cerita yang ingin disampaikan melalui album tersebut.
“Kami merasakan kemuakkan dan kegilaan yang sama di ruang personal kami. Retaknya rumah tangga, hubungan yang tidak pernah berhasil, pajak yang tercerai berai, mungkin ini bukan rangkuman yang sempurna tapi Melankolia Radikal tercipta dengan kesadaran penuh sebagai warga negara Indonesia yang merasa negara telah gagal berdiri bersama rakyatnya," tutup vokalis dan gitaris Dongker, Delpi Suhariyanto. (far)