Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Kopi dari 'Negeri Dalam Awan', Jalan Oksibil Papua Menuju Kemakmuran

Wisnu Cipto - Sabtu, 05 Mei 2018

MerahPutih.com - Berwarna hitam pekat, terasa pahit di mulut, tetapi meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalaman mencicipi kopi Oksibil dari Pegunungan Bintang, Papua.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi latte. Dibandingkan dengan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi ini paling terasa saat disajikan dengan metode tubruk.

"Tipikal rasa yang muncul dari arabika typica adalah rasa sitrun, yang dekat kaitannya dengan rasa berry, jeruk, peach atau apricot. Tidak jauh-jauh dari rasa asam," kata ahli kopi Hideo Gunawan, dikutip Antara, Sabtu (5/5).

Hideo, yang pada Februari lalu diundang Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua untuk mengajarkan cara penanaman dan teknik pengolahan kopi kepada warga setempat, menilai biji kopi dari daerah tersebut memiliki keunggulan dari segi rasa, kandungan gizi, maupun kualitas.

Kopi
Ilustrasi. Foto: Klinik Kopi

Varietas Pohon Kopi Terbaik

Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain. Pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 mdpl ini juga memiliki usia produktif lebih lama mencapai 30 tahun, dibandingkan jenis hibrida yang hanya 10 tahun.

Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak. "Salah satu varietas pohon kopi terbaik yang pernah saya temui di Indonesia ternyata ada di Oksibil," tutur Hideo.

Dari 34 distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, baru lima distrik yang sudah ditanami kopi, dua di antaranya telah dikunjungi Hideo, yaitu Distrik Okbi dan Okbab.

Umumnya, petani kopi di kedua distrik sudah mengerti cara penanaman kopi yang baik, begitu pun proses dari buah yang baru dipetik sampai menjadi biji atau bubuk kopi siap jual.

Bahkan, petani kopi di Kampung Sabin sudah menanami kebunnya dengan pohon penaung dan rumput untuk melindungi pohon kopi dari sinar matahari langsung, yang bisa mengurangi kualitas buahnya.

Untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang optimal, buah-buah kopi dikupas dengan tangan. Meski prosesnya lebih lambat daripada pengupasan dengan mesin, hasilnya akan lebih baik. "Kalau dikupas dengan mesin ada paparan panas, padahal panas adalah musuhnya kopi," ujar Hideo.

kopi oksibil
Biji pohon kopi di Oksibil Papua. Foto: Klinik Kopi

Belum Maksimal

Meski demikian, petani kopi di Oksibil perlu belajar untuk menanam pohon kopi pada saat yang sama sehingga pohon-pohon kopi di suatu perkebunan memiliki usia seragam. Petani juga perlu memperhatikan penanggulangan penyakit seperti karat daun yang memusnahkan populasi kopi arabika typica di Sumatera dan Jawa pada 1900-an.

Dari pengamatan Hideo, baru sekitar 20 persen lahan milik petani di dua distrik yang ditanami kopi. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki 1.000 pohon kopi yang bisa menghasilkan 300-600 kilogram biji kopi.

"Ini artinya potensinya masih besar sekali. Sayangnya masyarakat Pegunungan Bintang belum berpikir bahwa dengan menanam kopi mereka bisa mendapat uang dalam jumlah besar, sehingga belum banyak yang mau menanam kopi," ujar roaster Curious People Coffee, sebuah kafe di Cengkareng, Jakarta Barat itu.

Petani kopi juga menghadapi kendala dalam memasarkan produk mereka, karena tidak banyak orang tahu bahwa ada kopi berkualitas di Oksibil.

Tidak seperti kopi Wamena dari Pegunungan Jayawijaya yang sudah diekspor ke luar negeri, kopi Oksibil sebagian besar hanya dipasarkan di Jayapura sehingga belum banyak masyarakat Indonesia yang merasakan kenikmatan kopi ini.

kopi Oksibil
Biji pohon kopi di Oksibil Papua. Foto: Klinik Kopi

Untuk mendorong minat masyarakat menanam kopi Oksibil secara lebih luas, Bupati Pegunungan Bintang Costan Oktemka menginisiasi sebuah program pemberdayaan masyarakat yang disebut "koteka", kependekan untuk tiga komoditas andalan mereka, kopi, ternak, dan kakao.

Lewat program tersebut, Constan mengarahkan penduduk di 21 distrik untuk menanam kopi dan memulai strategi pemasaran baru dengan menggunakan koteka sebagai kemasan biji kopi. Di Jakarta, sekitar 300 gram kopi Oksibil yang dikemas dalam koteka dijual seharga Rp300 ribu.

"Kami baru melihat kopi sebagai komoditas unggulan yang bisa menambah pendapatan masyarakat. Saya menyadari kalau daerah ini selamanya ada di tengah pegunungan, sehingga yang bisa digarap hanya pertanian," kata Costan.

Kendala paling berat adalah membangun pemahaman masyarakat program penanaman kopi tidak bisa langsung dirasakan dampaknya karena pohon kopi baru berbuah setelah usia tiga tahun. Namun, Constan tetap pada usahanya mengembangkan kopi sebagai komoditas yang aman dan ramah lingkungan, juga bisa digunakan untuk promosi wisata.

Pintu Masuk Wisata

PuncakMandala
Puncak Mandala, Pegunungan Bintang, Oksibil, Papua. Foto: Super Adventure

Melalui kopi, Bupati ingin menjual potensi wisata di Pegunungan Bintang yang disebutnya memiliki bentang alam yang indah dan kultur masyarakat yang kaya. Puncak Mandala, adalah satu dari tiga gunung di Papua yang puncaknya tertutup salju.

Pesona lain dari wilayah ini adalah Lembah Oksibil yang seringkali tertutup kabut karena dikelilingi pegunungan-pegunungan tinggi. Penduduk setempat sering menyebutnya "negeri di dalam awan".

Dalam bahasa masyarakat setempat, oksibil berarti "dekat air". Istilah ini karena wilayah itu tidak hanya memiliki sungai-sungai tetapi juga beberapa air terjun di antaranya air terjun Kolbung, Tembung, Anorbung, Kukop Bung, dan Okbon Bung. "Bung" adalah sebutan masyarakat lokal untuk air terjun.

Sayangnya, keindahan alam Oksibil belum bisa dinikmati banyak wisatawan karena kendala infrastruktur yang kurang memadai. Untuk mencapai Oksibil, wisatawan dari Jakarta harus menempuh perjalanan udara selama 4-5 jam menuju Sentani, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil selama 45 menit. Penerbangan dari Sentani ke Oksibil tersedia setiap hari dengan harga tiket sekitar Rp800 ribu. (*)

Baca Artikel Asli