Kopi dari 'Negeri Dalam Awan', Jalan Oksibil Papua Menuju Kemakmuran

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Sabtu, 05 Mei 2018
Kopi dari 'Negeri Dalam Awan', Jalan Oksibil Papua Menuju Kemakmuran

Bandara Kabupaten Oksibil Papua. Oksibil kerap disebut masyarakat setempat sebagai 'Negeri Dalam Awan'. Foto: youtube

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Berwarna hitam pekat, terasa pahit di mulut, tetapi meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalaman mencicipi kopi Oksibil dari Pegunungan Bintang, Papua.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi latte. Dibandingkan dengan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi ini paling terasa saat disajikan dengan metode tubruk.

"Tipikal rasa yang muncul dari arabika typica adalah rasa sitrun, yang dekat kaitannya dengan rasa berry, jeruk, peach atau apricot. Tidak jauh-jauh dari rasa asam," kata ahli kopi Hideo Gunawan, dikutip Antara, Sabtu (5/5).

Hideo, yang pada Februari lalu diundang Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua untuk mengajarkan cara penanaman dan teknik pengolahan kopi kepada warga setempat, menilai biji kopi dari daerah tersebut memiliki keunggulan dari segi rasa, kandungan gizi, maupun kualitas.

Kopi
Ilustrasi. Foto: Klinik Kopi

Varietas Pohon Kopi Terbaik

Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain. Pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 mdpl ini juga memiliki usia produktif lebih lama mencapai 30 tahun, dibandingkan jenis hibrida yang hanya 10 tahun.

Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak. "Salah satu varietas pohon kopi terbaik yang pernah saya temui di Indonesia ternyata ada di Oksibil," tutur Hideo.

Dari 34 distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, baru lima distrik yang sudah ditanami kopi, dua di antaranya telah dikunjungi Hideo, yaitu Distrik Okbi dan Okbab.

Umumnya, petani kopi di kedua distrik sudah mengerti cara penanaman kopi yang baik, begitu pun proses dari buah yang baru dipetik sampai menjadi biji atau bubuk kopi siap jual.

Bahkan, petani kopi di Kampung Sabin sudah menanami kebunnya dengan pohon penaung dan rumput untuk melindungi pohon kopi dari sinar matahari langsung, yang bisa mengurangi kualitas buahnya.

Untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang optimal, buah-buah kopi dikupas dengan tangan. Meski prosesnya lebih lambat daripada pengupasan dengan mesin, hasilnya akan lebih baik. "Kalau dikupas dengan mesin ada paparan panas, padahal panas adalah musuhnya kopi," ujar Hideo.

kopi oksibil
Biji pohon kopi di Oksibil Papua. Foto: Klinik Kopi

Belum Maksimal

Meski demikian, petani kopi di Oksibil perlu belajar untuk menanam pohon kopi pada saat yang sama sehingga pohon-pohon kopi di suatu perkebunan memiliki usia seragam. Petani juga perlu memperhatikan penanggulangan penyakit seperti karat daun yang memusnahkan populasi kopi arabika typica di Sumatera dan Jawa pada 1900-an.

Dari pengamatan Hideo, baru sekitar 20 persen lahan milik petani di dua distrik yang ditanami kopi. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki 1.000 pohon kopi yang bisa menghasilkan 300-600 kilogram biji kopi.

"Ini artinya potensinya masih besar sekali. Sayangnya masyarakat Pegunungan Bintang belum berpikir bahwa dengan menanam kopi mereka bisa mendapat uang dalam jumlah besar, sehingga belum banyak yang mau menanam kopi," ujar roaster Curious People Coffee, sebuah kafe di Cengkareng, Jakarta Barat itu.

Petani kopi juga menghadapi kendala dalam memasarkan produk mereka, karena tidak banyak orang tahu bahwa ada kopi berkualitas di Oksibil.

Tidak seperti kopi Wamena dari Pegunungan Jayawijaya yang sudah diekspor ke luar negeri, kopi Oksibil sebagian besar hanya dipasarkan di Jayapura sehingga belum banyak masyarakat Indonesia yang merasakan kenikmatan kopi ini.

kopi Oksibil
Biji pohon kopi di Oksibil Papua. Foto: Klinik Kopi

Untuk mendorong minat masyarakat menanam kopi Oksibil secara lebih luas, Bupati Pegunungan Bintang Costan Oktemka menginisiasi sebuah program pemberdayaan masyarakat yang disebut "koteka", kependekan untuk tiga komoditas andalan mereka, kopi, ternak, dan kakao.

Lewat program tersebut, Constan mengarahkan penduduk di 21 distrik untuk menanam kopi dan memulai strategi pemasaran baru dengan menggunakan koteka sebagai kemasan biji kopi. Di Jakarta, sekitar 300 gram kopi Oksibil yang dikemas dalam koteka dijual seharga Rp300 ribu.

"Kami baru melihat kopi sebagai komoditas unggulan yang bisa menambah pendapatan masyarakat. Saya menyadari kalau daerah ini selamanya ada di tengah pegunungan, sehingga yang bisa digarap hanya pertanian," kata Costan.

Kendala paling berat adalah membangun pemahaman masyarakat program penanaman kopi tidak bisa langsung dirasakan dampaknya karena pohon kopi baru berbuah setelah usia tiga tahun. Namun, Constan tetap pada usahanya mengembangkan kopi sebagai komoditas yang aman dan ramah lingkungan, juga bisa digunakan untuk promosi wisata.

Pintu Masuk Wisata

PuncakMandala
Puncak Mandala, Pegunungan Bintang, Oksibil, Papua. Foto: Super Adventure

Melalui kopi, Bupati ingin menjual potensi wisata di Pegunungan Bintang yang disebutnya memiliki bentang alam yang indah dan kultur masyarakat yang kaya. Puncak Mandala, adalah satu dari tiga gunung di Papua yang puncaknya tertutup salju.

Pesona lain dari wilayah ini adalah Lembah Oksibil yang seringkali tertutup kabut karena dikelilingi pegunungan-pegunungan tinggi. Penduduk setempat sering menyebutnya "negeri di dalam awan".

Dalam bahasa masyarakat setempat, oksibil berarti "dekat air". Istilah ini karena wilayah itu tidak hanya memiliki sungai-sungai tetapi juga beberapa air terjun di antaranya air terjun Kolbung, Tembung, Anorbung, Kukop Bung, dan Okbon Bung. "Bung" adalah sebutan masyarakat lokal untuk air terjun.

Sayangnya, keindahan alam Oksibil belum bisa dinikmati banyak wisatawan karena kendala infrastruktur yang kurang memadai. Untuk mencapai Oksibil, wisatawan dari Jakarta harus menempuh perjalanan udara selama 4-5 jam menuju Sentani, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil selama 45 menit. Penerbangan dari Sentani ke Oksibil tersedia setiap hari dengan harga tiket sekitar Rp800 ribu. (*)

#Kopi #Papua
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Karhutla di Papua Selatan Mulai Berkurang Berkat Modifikasi Cuaca
Upaya OMC memicu hujan di wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, serta bagian selatan Mappi.
Dwi Astarini - Kamis, 29 Oktober 2026
Karhutla di Papua Selatan Mulai Berkurang Berkat Modifikasi Cuaca
Indonesia
Marinir Satgas Pengamanan Perbatasan RI-PNG Sita Senjata Diduga Milik KKB Yahukimo
Prajurit menemukan beberapa senapan angin tanpa laras, selongsong amunisi kaliber 5,56 milimeter dan 9 milimeter, gelang bermotif Bintang Kejora, kamera, dan telepon genggam rusak
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 29 Oktober 2026
Marinir Satgas Pengamanan Perbatasan RI-PNG Sita Senjata Diduga Milik KKB Yahukimo
Berita Foto
Roemah Koffie Bawa Aroma Kopi Nusantara ke Trade Expo Indonesia 2026
Pengunjung mencicipi segelas kopi di Booth Roemah Koffie di Gelaran Trade Expo Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (17/10/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 17 Oktober 2026
Roemah Koffie Bawa Aroma Kopi Nusantara ke Trade Expo Indonesia 2026
Indonesia
TNI Tembak Mati Komandan OPM di Maybrat, 2 Anak Buahnya Hanyut di Sungai
Personel TNI disebut mendapat serangan saat menjalankan operasi tersebut hingga terjadi aksi saling tembak.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
TNI Tembak Mati Komandan OPM di Maybrat, 2 Anak Buahnya Hanyut di Sungai
Indonesia
Café & Brasserie Expo 2026 di NICE PIK 2: Ajang Terbesar untuk Pelaku dan Pencinta Industri Kopi
Kunjungi Café & Brasserie Expo (CBE) 2026 pada 9-11 Oktober 2026 di NICE PIK 2. Temukan pameran kopi, pelatihan barista, peluang bisnis kafe, dan promo spesial BCA.
Angga Yudha Pratama - Kamis, 08 Oktober 2026
Café & Brasserie Expo 2026 di NICE PIK 2: Ajang Terbesar untuk Pelaku dan Pencinta Industri Kopi
Indonesia
Pentolan OPM Dikabarkan Tewas Dalam Baku Tembak di Intan Jaya Papua Tengah
Saat peristiwa kontak senjata terjadi, Hermanus Hogajau-lah yang pertama kali menghujani Pasukan Timsus Yonif 315 Garuda dan Tim Taipur Koops TNI Habema di bawah kendali Kogabwilhan III
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Pentolan OPM Dikabarkan Tewas Dalam Baku Tembak di Intan Jaya Papua Tengah
Indonesia
Bos OPM Komplain Serangan Udara, Panglima TNI: Separatis Harus Ditumpas
Bos OPM Egianus Kogoya komplain serangan pesawat Super Tucano di Nduga. Panglima TNI Agus Subiyanto tegaskan separatis wajib ditumpas habis!
Wisnu Cipto - Senin, 28 September 2026
Bos OPM Komplain Serangan Udara, Panglima TNI: Separatis Harus Ditumpas
Indonesia
Panglima TNI Senang 8 Senjata Disita Dari OPM, Termasuk SS1 V1
Delapan pucuk senjata yang disebut Agus termasuk jenis SS1 V1 yang sebelumnya direbut OPM dari satuan TNI.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 27 September 2026
Panglima TNI  Senang 8 Senjata  Disita Dari OPM, Termasuk SS1 V1
Indonesia
4 Anggota OPM Tewas Dalam Kontak Senjata di Intan Jaya Papua Tengah
Personel TNI juga menyita sejumlah barang dari lokasi, antara lain satu pucuk SS2 V1, satu senjata api laras panjang dengan alat bidik Trijicon
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
 4 Anggota OPM Tewas Dalam Kontak Senjata di Intan Jaya Papua Tengah
Berita Foto
Kebun Kopi Sangga Buana dan Upaya Menjaga Ruang Hijau Jakarta
Petugas memilah biji kopi dari kebun kopi Sangga Buana di Kawasan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 23 September 2026
Kebun Kopi Sangga Buana dan Upaya Menjaga Ruang Hijau Jakarta
Bagikan