Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Konflik Timur Tengah masih Panas, Kemenpar Siapkan Langkah Mitigasi

Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026

MERAHPUTIH.COM — KONFLIK antara Amerika Serikat-Israel dan Iran masih panas. Sektor pariwisata menjadi salah satu yang terdampak. Kementerian Pariwisata RI menyebut menyiapkan langkah-langkah mitigasi strategis dampak konflik tersebut.

"Situasi ini masih terus kami pantau. Kami akan melihat laporan-laporan terbaru, termasuk perkembangan di Bali, untuk memastikan langkah mitigasi yang tepat bagi sektor pariwisata," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam keterangan resmi, dikutip ANTARA, Jumat (6/3).

Dalam kunjungannya ke Bali pada Kamis (5/3), Ni Luh menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi yang berkaitan dengan konektivitas penerbangan dari dan menuju kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut dikhawatirkan akan memengaruhi arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Dalam menyikapi perkembangan terkini situasi di Timur Tengah, Kemenpar berencana semakin memperkuat strategi promosi dan penetrasi pasar di kawasan Asia dan Pasifik sebagai langkah mitigasi terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah.

"Arahan dari Menteri Pariwisata, kita akan memperkuat pasar Asia dan Pasifik. Dengan strategi ini, dampak dari situasi di Timur Tengah diharapkan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja pariwisata Indonesia," ujar Ni Luh.

Baca juga:

Gejolak Konflik AS-Israel dan Iran Bikin Harga Daging di Jakarta Berpotensi Naik


Pemerintah juga akan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi pariwisata dunia UN Tourism, untuk memantau perkembangan situasi global dan dampaknya terhadap mobilitas wisatawan internasional.

Ni Luh menyampaikan gangguan operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali relatif kecil. Penurunan jumlah penerbangan tercatat sekitar 0,5 persen.

Kondisi itu terjadi karena sebagian wisatawan melakukan penyesuaian rute penerbangan melalui sejumlah hub alternatif di kawasan Asia, seperti Malaysia dan Singapura. Kedua negara itu selama ini menjadi simpul konektivitas utama penerbangan menuju Indonesia, termasuk sejumlah hub lain di Asia seperti Hong Kong.

Berdasarkan data konektivitas penerbangan, proporsi terbesar berasal dari Malaysia sebesar 28 persen, diikuti Singapura 18 persen, kawasan Timur Tengah 11 persen, serta Hong Kong dan hub lainnya. "Artinya konektivitas kita masih didominasi Malaysia dan Singapura," kata Ni Luh.

Data kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 juga menunjukkan lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, yakni Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste.(*)

Baca juga:

Imbas Konflik Timur Tengah, Imigrasi Bali Terbitkan 302 Izin Tinggal Darurat untuk WNA

Baca Artikel Asli