Merahputih.com - Tahukah kamu bahwa fenomena es kutub mencair kini sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan akibat pemanasan global? Faktanya, sekitar 12,5 triliun ton es Greenland dan Antartika telah lenyap tak berbekas sejak era 1970-an, memicu kenaikan permukaan laut yang mengancam jutaan nyawa.
Temuan mengejutkan dari tim ilmuwan internasional ini menjadi bukti kuat bahwa dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar teori, melainkan krisis nyata dan butuh penanganan segera.
Baca juga:
Es di Kutub Utara Mencair, Waktu Global akan Berubah Beberapa Detik
Lewat riset berskala raksasa bernama Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise (IMBIE), para peneliti berhasil memetakan keparahan tingkat es kutub mencair dengan sangat presisi.
Catatan satelit terpanjang dalam sejarah ini mengumpulkan bukti pemanasan global dari 42 survei dan 27 misi satelit berbeda dengan rentang waktu dari 1972 hingga 2023.
Dari belasan triliun ton bongkahan es yang raib tersebut, penyumbang kerusakan paling parah ternyata berasal dari runtuhnya lapisan es Greenland dan Antartika.
Dengan menelusuri data kembali ke tahun 1970-an, kita sekarang bisa melihat langsung bagaimana lapisan es ini telah berubah drastis selama setengah abad terakhir,
Inès Otosaka, peneliti utama dari Northumbria University dalam pernyataan resminya.
Ancaman Nyata Kenaikan Permukaan Laut
Data sejarah dari IMBIE ini nggak cuma nunjukin seberapa banyak es yang hilang, tapi juga mencatat adanya lonjakan permukaan air laut global hingga lebih dari 3 sentimeter atau sekitar 1,18 inci selama periode tersebut.
Kenaikan permukaan laut sebesar tiga sentimeter mungkin kedengarannya sepele, tapi itu cukup untuk menempatkan enam hingga sembilan juta orang dalam bahaya banjir pesisir dan erosi,
Andrew Shephard, Kepala Sekolah Geografi dan Ilmu Pengetahuan Alam di Northumbria University sekaligus pendiri IMBIE.
Ia juga menegaskan bahwa dengan potensi pencairan es yang makin gila-gilaan di masa depan, asesmen global seperti IMBIE sangat vital buat melindungi komunitas yang terdampak perubahan iklim.
Bukan Sekadar Meleleh, Ini Dalang Utamanya
Tebak apa yang bikin es ini hilang begitu cepat? Ya benar, perubahan iklim dan bumi yang makin panas.
Menariknya, peneliti menemukan bahwa 84% hilangnya es kutub disebabkan oleh pergerakan gletser yang mengalir jauh lebih cepat ke lautan, sedangkan proses meleleh di permukaan cuma nyumbang porsi 16% saja.
Lebih dari empat perlima es yang hilang itu terbuang ke laut karena gletser yang mengalir makin cepat, bukan karena meleleh di atasnya. Ini ngasih tau kita bahwa tren jangka panjang ini didorong oleh respons dinamis lapisan es terhadap suhu laut yang makin menghangat,
terang Otosaka.
Laju Kehancuran yang Makin Menggila Sejak 1990-an
Kalau kita bedah datanya secara terstruktur, grafik pencairan es ini melonjak tajam mulai era 90-an. Berikut perbandingan mengerikan laju pencairan es dari dekade ke dekade:
-
Lonjakan Es Greenland: Pada dekade 1980-an, Greenland kehilangan sekitar 66 miliar ton es per tahun. Masuk ke era 2010-an, angkanya meroket nyaris lima kali lipat jadi 291 miliar ton per tahun.
-
Krisis Es Antartika: Nasib serupa terjadi di kutub selatan. Dari kehilangan 53 miliar ton per tahun di era 80-an, angkanya melonjak drastis jadi 222 miliar ton per tahun di era 2010-an.
Masa Depan Bumi dan Krusialnya Pantauan Satelit
Melihat tren yang bikin merinding ini, wajar kalau kekhawatiran global makin meningkat. Apalagi, PBB baru-baru ini merilis laporan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, suhu bumi berisiko melampaui batas ambang 1,5 derajat Celcius atau batas aman yang disepakati 200 negara dalam Perjanjian Paris 2015.
Baca juga:
Riset yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data dan didukung oleh NASA serta European Space Agency (ESA) ini membuktikan betapa kuatnya peran teknologi luar angkasa.
Data satelit nggak cuma ngasih kita gambaran realita, tapi juga jadi senjata ilmuwan buat mendesak perubahan kebijakan demi ngerem aktivitas manusia seperti industri dan agrikultur yang merusak bumi.
Satelit ngasih kita bukti valid dari tahun ke tahun di seluruh benua soal apa yang sedang terjadi sekarang. Ini adalah data krusial yang kita butuhin buat memvalidasi model prediksi dan mempersempit ketidakpastian soal masa depan kenaikan permukaan laut,
ungkap Tyler Sutterly, peneliti pendamping dari University of Washington.
Temuan ini nunjukin betapa pentingnya satelit buat mantau lapisan es. Mempertahankan misi seperti CryoSat-2 dan Sentinel, serta menjaga rekaman data iklim jangka panjang, adalah hal yang mutlak diperlukan untuk dekade-dekade mendatang.
Diego Fernández dari ESA juga ikut menambahkan,