KEMATIAN adalah sebuah kepastian. Tidak diketahui kapan akan datang, kematian kebanyakan menimbulkan duka dan luka bagi orang-orang disekitarnya. Meskipun begitu, kehidupan terus berjalan dan kita harus mampu menghadapi segala duka sembari menjalani kehidupan yang terus berlangsung.
Laman huffpost menuliskan bahwa orang yang kita cintai bisa saja meninggal kapan saja, termasuk orangtua kita sendiri. Ini disertai dengan emosi natural manusia seperti kesedihan, kebingungan, panik, dan kemarahan akan hadir bercampur aduk.
Baca Juga: Anak Tetap Bahagia dan Sehat Setelah Perceraian
Kematian anggota keluarga bisa sangat berpengaruh bagi mental seseorang, apalagi anak-anak. Menghadapi kehilangan, apalagi orangtua, merupakan sesuatu yang membutuhkan dukungan mental khusus dari orang lain. Berikut akan dijelaskan beberapa cara membantu anak yang berduka ketika kehilangan orangtuanya menurut beberapa terapis.
1. Bahasa dan penyampaian sangat berpengaruh
Meskipun ingin menyampaikan sesuatu kepada anak-anak, sebisa mungkin hindari eufemisme atau ungkapan yang lebih halus untuk mengganti kata yang dirasakan kasar. Meskipun menurutmu mengatakan bahwa "ibu telah pergi", atau "ayah sedang tidur" akan lebih memperhalus segalanya, namun pendekatan ini dapat menimbulkan kebingungan bagi sang anak yang cenderung mengartikan segala kata secara literal.
Kate Zera Kray, seorang pekerja sosial dan psikoterapis yang biasa mengatasi duka mengatakan, bahwa seorang remaja pernah mengalami rasa takut tidur saat kecil. Ia takut tidak akan bangun lagi seperti anggota keluarganya yang diberitakan "tertidur untuk selamanya."
Gunakan pemilihan kata sederhana dan langsung, jangan takut menggunakan kata seperti "meninggal", atau "terbunuh" meskipun itu terdengar kejam.
Menurut Judy Schiffman, seorang direktur dari Barr-Harris Children's Grief Center, kamu juga bisa mengatakan sesuatu seperti "jantung ayah sudah berhenti berdenyut", diikuti dengan penjelasan bahwa kita membutuhkan jantung yang berdenyut untuk bisa hidup.
Baca Juga: Jurus Jitu Mengatasi Tantrum pada Anak Berkebutuhan Khusus
2. Balita kemungkinan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orangtua
Meskipun harus menyampaikan secara jujur dan tidak eufemisme. Namun penyebab kematian dari orangtua yang bersangkutan harus disesuaikan dengan umur anak. Anak-anak yang berusia 3-5 tahun akan mengalami kesulitan untuk menerima kepermanenan dari kematian. Setelah diberitahu, mereka bisa menunggu didepan pintu satu jam kemudian untuk menunggu ayahnya pulang.
Anak-anak balita juga masih mempercayai hal-hal magis, maka kemungkinan mereka percaya bahwa mereka bertanggungjawab atas kepergian orangtuanya. Entah karena apa yang mereka katakan, apa yang mereka perbuat, atau kepercayaan yang mengatakan bahwa orangtua mereka bisa hidup kembali.
Sebisa mungkin yakinkan bahwa mereka bukanlah penyebab kematian orangtuanya, dan kematian bukanlah bentuk dari hukuman.
3. Biarkan sang anak untuk menghadiri pemakaman orangtuanya
Jika sang anak bersedia, kehadiran anak saat pemakaman dapat menjadi nilai yang berharga dalam masa healing mereka. Jika mereka mau berada di pemakaman, siapkan seseorang yang dirasa nyaman bagi sang anak untuk menemani keseharian mereka. Menurut Schiffman, biasanya akan timbul banyak pertanyaan seperti "mengapa ibu dikubur di tanah jika ia akan naik ke surga?" Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, sang wali dapat merespon, "jiwa ibu dan cintanya terhadapmu telah berada di surga, namun tubuhnya tetap kembali ke tanah." (shn)
Baca Juga: Sayang Anak Sangatlah Penting, Tapi Jangan Lupa untuk Mencintai Pasanganmu