Parenting

Jangan Salah Berikan Dukungan pada Anak yang Berduka

P Suryo RP Suryo R - Senin, 05 Agustus 2019
Jangan Salah Berikan Dukungan pada Anak yang Berduka

Penyampaian dan kata-kata yang tepat akan membuat anak-anak lebih menerima kematian orangtuanya. (Foto: Pixabay/Darksouls1)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KEMATIAN adalah sebuah kepastian. Tidak diketahui kapan akan datang, kematian kebanyakan menimbulkan duka dan luka bagi orang-orang disekitarnya. Meskipun begitu, kehidupan terus berjalan dan kita harus mampu menghadapi segala duka sembari menjalani kehidupan yang terus berlangsung.

Laman huffpost menuliskan bahwa orang yang kita cintai bisa saja meninggal kapan saja, termasuk orangtua kita sendiri. Ini disertai dengan emosi natural manusia seperti kesedihan, kebingungan, panik, dan kemarahan akan hadir bercampur aduk.


Baca Juga: Anak Tetap Bahagia dan Sehat Setelah Perceraian


Kematian anggota keluarga bisa sangat berpengaruh bagi mental seseorang, apalagi anak-anak. Menghadapi kehilangan, apalagi orangtua, merupakan sesuatu yang membutuhkan dukungan mental khusus dari orang lain. Berikut akan dijelaskan beberapa cara membantu anak yang berduka ketika kehilangan orangtuanya menurut beberapa terapis.


1. Bahasa dan penyampaian sangat berpengaruh

anak
Tidak perlu pakai ungkapan yang halus. (Foto: Pexels/Pixabay)

Meskipun ingin menyampaikan sesuatu kepada anak-anak, sebisa mungkin hindari eufemisme atau ungkapan yang lebih halus untuk mengganti kata yang dirasakan kasar. Meskipun menurutmu mengatakan bahwa "ibu telah pergi", atau "ayah sedang tidur" akan lebih memperhalus segalanya, namun pendekatan ini dapat menimbulkan kebingungan bagi sang anak yang cenderung mengartikan segala kata secara literal.

Kate Zera Kray, seorang pekerja sosial dan psikoterapis yang biasa mengatasi duka mengatakan, bahwa seorang remaja pernah mengalami rasa takut tidur saat kecil. Ia takut tidak akan bangun lagi seperti anggota keluarganya yang diberitakan "tertidur untuk selamanya."

Gunakan pemilihan kata sederhana dan langsung, jangan takut menggunakan kata seperti "meninggal", atau "terbunuh" meskipun itu terdengar kejam.

Menurut Judy Schiffman, seorang direktur dari Barr-Harris Children's Grief Center, kamu juga bisa mengatakan sesuatu seperti "jantung ayah sudah berhenti berdenyut", diikuti dengan penjelasan bahwa kita membutuhkan jantung yang berdenyut untuk bisa hidup.

Baca Juga: Jurus Jitu Mengatasi Tantrum pada Anak Berkebutuhan Khusus


2. Balita kemungkinan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orangtua

anak
Anak Balita lebih sulit menerima kematian orangtuanya. (Foto: Pexels/mohamed Abdelgaffar)


Meskipun harus menyampaikan secara jujur dan tidak eufemisme. Namun penyebab kematian dari orangtua yang bersangkutan harus disesuaikan dengan umur anak. Anak-anak yang berusia 3-5 tahun akan mengalami kesulitan untuk menerima kepermanenan dari kematian. Setelah diberitahu, mereka bisa menunggu didepan pintu satu jam kemudian untuk menunggu ayahnya pulang.

Anak-anak balita juga masih mempercayai hal-hal magis, maka kemungkinan mereka percaya bahwa mereka bertanggungjawab atas kepergian orangtuanya. Entah karena apa yang mereka katakan, apa yang mereka perbuat, atau kepercayaan yang mengatakan bahwa orangtua mereka bisa hidup kembali.

Sebisa mungkin yakinkan bahwa mereka bukanlah penyebab kematian orangtuanya, dan kematian bukanlah bentuk dari hukuman.


3. Biarkan sang anak untuk menghadiri pemakaman orangtuanya

anak
Biarkan anak ikut ke pemakaman. (Foto: Pexels/brother's photo)


Jika sang anak bersedia, kehadiran anak saat pemakaman dapat menjadi nilai yang berharga dalam masa healing mereka. Jika mereka mau berada di pemakaman, siapkan seseorang yang dirasa nyaman bagi sang anak untuk menemani keseharian mereka. Menurut Schiffman, biasanya akan timbul banyak pertanyaan seperti "mengapa ibu dikubur di tanah jika ia akan naik ke surga?" Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, sang wali dapat merespon, "jiwa ibu dan cintanya terhadapmu telah berada di surga, namun tubuhnya tetap kembali ke tanah." (shn)

Baca Juga: Sayang Anak Sangatlah Penting, Tapi Jangan Lupa untuk Mencintai Pasanganmu

#Anak #Keluarga
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Iis R. Soelaeman mendorong dukungan pemerintah bagi anak dengan cerebral palsy melalui akses terapi, kesehatan, pendidikan inklusif, dan fasilitas aksesibel.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Lifestyle
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
World Cerebral Palsy Day 2026 jadi momentum untuk memperkuat dukungan bagi anak dengan CP. Tekankan potensi anak dan pentingnya support system bagi keluarga.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
Indonesia
Bahaya Flexing Bikin Kalap! KPK Ingatkan Gaya Hidup Mewah Keluarga Picu Korupsi
: KPK beri peringatan tegas bahaya flexing dan gaya hidup mewah keluarga yang berpotensi memicu korupsi. Cek rincian program Keluarga Berintegritas!
Wisnu Cipto - Selasa, 20 Oktober 2026
Bahaya Flexing Bikin Kalap! KPK Ingatkan Gaya Hidup Mewah Keluarga Picu Korupsi
Indonesia
Ibu di Solo 2 Kali Jual Anak Rp 15 Juta dan 6 Juta Buat Bayar Hutang dan Penuhi Kebutuhan Sehari-hari
Sebelumnya tersangka juga berniat menjual anak pertamanya R p15 juta. Tetapi batal dan saat ini bayi telah berusia sekitar satu tahun
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Ibu di Solo 2 Kali Jual Anak Rp 15 Juta dan 6 Juta Buat Bayar Hutang dan Penuhi Kebutuhan Sehari-hari
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Lainnya
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Usus buntu bisa mengakibatkan kematian. Jangan anggap semua sakit perut anak sebagai keluhan biasa.
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Berita Foto
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Sejumlah anak mengikuti pertandingan padel dalam ajang Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026 di Tangerang, Banten, Sabtu (29/8/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 29 Agustus 2026
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Foto Essay
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Gio dan Hamzah berlatih tinju dengan alat seadanya di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 19 Agustus 2026
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Indonesia
Ramai Bincang Anak Jadi Bintang Vape di Media Sosial, DPR Desak Polisi Bertindak
Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Jangan pernah menjadikan anak sebagai alat untuk memperoleh keuntungan ekonomi
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 03 Agustus 2026
Ramai Bincang Anak Jadi Bintang Vape di Media Sosial, DPR Desak Polisi Bertindak
Bagikan