MerahPutih.com - Israel telah melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh Hizbullah pada 2 Maret, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024. Otoritas Lebanon menyatakan sedikitnya 1.422 orang tewas dan 4.294 lainnya terluka akibat serangan Israel.
Tentara Israel menghancurkan semua kamera pengawas yang menghadap markas besar pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon selatan, kata juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) Kandice Ardiel, pada Sabtu (4/4).
Sejak Jumat, tentara Israel telah menghancurkan semua kamera yang membantu memastikan keselamatan dan keamanan personel militer dan sipil di dalam markas UNIFIL di Naqoura.
UNIFIL menyatakan keprihatinan serius atas tindakan Israel itu dan memutuskan untuk mengajukan protes resmi.
Baca juga:
Peluk dan Cium Prabowo Saat Prosesi Penyambutan Jenazah 3 Prajurit Pasukan Perdamaian TNI
Ardiel mengingatkan, tentara Israel bahwa mereka wajib memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB serta menghormati fasilitas PBB.
Dalam pernyataan terpisah, ia mengonfirmasi bahwa tiga penjaga perdamaian PBB asal Indonesia terluka, dua di antaranya serius, akibat ledakan pada di fasilitas PBB di dekat El Adeisse, Lebanon selatan.
UNIFIL telah beroperasi di Lebanon selatan sejak 1978 dan diperluas berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan 1701 setelah perang antara Israel dan Hizbullah meletus pada 2006.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menerima laporan terkini mengenai adanya sejumlah prajurit TNI yang kembali terluka dan harus menjalani perawatan medis akibat insiden di Lebanon.
"Jadi kami hari ini berduka, tiga anggota kita gugur. Termasuk juga kami mendengar ada berita yang memang kami sendiri masih belum terlalu pasti untuk menerima kondisi terakhirnya. Ada yang kondisi masuk rumah sakit ada berapa orang, ada di Angkatan Darat ada dua orang," kata Maruli saat memberikan keterangan kepada media di Tangerang, Banten, Sabtu.
TNI AD belum mendapatkan informasi secara rinci mengenai kronologi maupun tingkat keparahan luka yang dialami para prajurit tersebut. Menurut dia, laporan yang diterima saat ini baru sebatas identitas personel dan status kesehatan mereka yang tengah menjalani perawatan.
Menurut KSAD, koordinasi intensif terus dilakukan dengan Markas Besar (Mabes) TNI karena jalur komunikasi langsung dengan satuan tugas di luar negeri berada di bawah kendali komando tersebut.
"Yang kontak langsung kan Mabes TNI ya, kami dapat informasi hanya identitas tertentu dalam kondisi sakit," kata Maruli.