MerahPutih.com - Serangan militer zionis Israel di Lebanon sejak 2 Maret menyebabkan 3.912 orang tewas, 11.873 orang terluka, dan memaksa lebih dari 1 juta warga mengungsi.
Israel masih terus menduduki berbagai titik di Lebanon selatan, dengan sejumlah wilayah telah diduduki selama beberapa dekade dan sejumlah lainnya diduduki usai konflik kembali meletus.
Dalam serangan terbaru ke Lebanon, pasukan Israel menerobos perbatasan Lebanon dan masuk hingga 10 kilometer ke dalam wilayah negara tersebut. Kondisi ini menjadi ganjalan perdamaian Amerika Serikat dan Iran.
Kabar teranyar, Israel dan Hizbullah, kelompok Syiah berbasis di Lebanon, menyepakati gencatan senjata mulai Jumat (19/6) pukul 16.00 waktu setempat (20.00 WIB).
Baca juga:
Hizbullah Siap Berdamai Tapi Juga Siap Lawan Israel Jika Bombardir Pinggiran Beirut
Hal itu diungkapkan Seorang pejabat senior Amerika Serikat. Namun, pejabat itu tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait kesepakatan tersebut.
Gencatan senjata disepakati setelah sedikitnya 47 orang tewas dan sejumlah warga lain terluka dalam serangkaian serangan udara Israel di Lebanon selatan sejak Jumat pagi. Empat personel militer zionis Israel juga tewas karena serangan Hizbullah di Lebanon selatan.
Pada Rabu (17/6), Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad secara elektronik guna mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran, serta menghentikan serangan Israel ke Lebanon.
Sementara itu, dalam wawancara telepon bersama NBC News, Trump mengaku berbicara dengan otoritas zionis Israel pada Jumat supaya mereka menyetujui gencatan senjata dengan Hizbullah.
"Hasilnya positif," kata Trump seperti dikutip wartawan NBC melalui media sosial X.
Meskipun permusuhan masih terjadi antara Israel dan Hizbullah, Trump menyampaikan kepada NBC News bahwa dia merasa masih baik-baik saja dengan pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu.
"Kau hanya perlu tenang sedikit dan gunakan otakmu," kata Trump. (*)