KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) menjadi masalah yang belum terselesaikan. Akibatnya, kepulan asap pekat nampak di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan asap tersebut sampai ke negara tetangga, Malaysia.
Asap yang dihasilkan dari karhutla sangat berbahaya dan mengganggu kesehatan. Banyak orang termasuk anak-anak yang terkena infeksi saluran pernapasan (ispa). Beberapa di antaranya bahkan harus meregang nyawa.
Baca juga:
Pakar Internis Pulmonologistdari UGM, dr Sumardi menjelaskan kelompok yang paling rentan terkena bahaya asap karhutla adalah lansia, anak-anak dan ibu hamil. "Kabut asap ini perlu diwaspadai terutama bagi kelompok rentan,” tuturnya di Yogyakarta, Selasa (24/9).
Pada lansia papar kabut karhutla bisa memicu penyakit bawaan. Misalnya ketika memiliki penyakit jantung, maka hal itu bisa kambuh akibat terpapar kabut asap.
Sementara bagi masyarakat yang punya penyakit paru kronis seperti asma, TBC maupun bekas TBC, batuk berdahak, serta penyakit paru kronis karena merokok, paparan kabut asap akan semakin memperburuk penyakit yang diderita.
Baca juga:
Selain itu kabut asap juga bisa menimbulkan gangguan hipoksia yang membahayakan ibu hamil. "Ibu hamil yang kena hipoksia akan mudah mengalami kekurang pasokan oksigen dalam tubuh," terang pakar penyakit dalam paru ini.
Berkurangnya pasokan oksigen ini akan menganggu pertumbuhan janin. Dampaknya yang dirasakan adalah perkembangan otak maupun organ janin terganggu dan kebanyakan terlahir dengan berat badan rendah.
Kabut asap ini juga berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Kabut asap dapat membuat perkembangan otak terganggu. Efeknya kecerdasan anak ikut terganggu.
Mardi menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker. Dia pun menyarankan agar bagian luar masker juga dibasahi dengan air bersih sebelum dipakai agar partikel-partikel polusi di udara bisa langsung menempel di masker.
Baca juga:
“Gunakan masker dan jika mulai terasa sesak segera ganti,” katanya.
Apabila memungkinkan ia menyarankan bagi kelompok rentan untuk mengungsi ke daerah yang terbebas dari kabut asap sementara waktu. Dengan begitu diharapkan dapat meminimalisir dampak kambuhnya penyakit akibat kabut asap.
Tulisan dari Teresa Ika kontributuor merahputih.com untuk wilayah DI. Yogyakarta dan sekitarnya.