Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Industri Garmen di Dalam Tahanan Rutan Surakarta, Ubah Penjahat Jadi Penjahit

Andika Pratama - Kamis, 09 September 2021

MerahPutih.com - Dea (25) tampak mengerakkan kakinya menginjak mesin jahit. Tangannya bergerak mengikuti arah jarum mesin jahit. Siang itu, ia bersama puluhan warga binaan sedang mengerjakan pesanan ribuan goodie bag.

Pekerjaan menjahit dilakukan warga binaan dari pagi sampai siang. Rutinas memberdayakan warga binaan menjadi karyawan pabrik garmen ini merupakan terobosan baru yang digagas Rutan Kelas 1 Surakarta, Jawa Tengah

Baca Juga

Dukung Ciptakan Lapangan Kerja, Rutan Solo Bangun Pabrik Garmen Pertama di Jateng

"Saya awalnya sama sekali tidak mengetahui teknik menjahit. Setelah mengikuti pelatihan beberapa hari akhirnya bisa menjahit," ujar Dea saat berbincang dengan MerahPutih.com, Kamis (9/9).

Perempuan yang terjerat kasus penyalahgunaan narkotika ini mengaku beruntung bisa lolos seleksi menjadi karyawan menjahit program industri Rutan Surakarta. Dengan mengikuti kegiatan ini, ia bisa punya penghasilan dari upah menjahit.

"Saya ditahan, tapi bisa punya penghasilan setelah mengikuti kegiatan ini," katanya.

Kepala Rutan Surakarta, Urip Dharma Yoga. (MP/Ismail)
Kepala Rutan Surakarta, Urip Dharma Yoga. (MP/Ismail)

Berbekal dengan keahlian ini, ia mengaku saat bebas nanti akan tobat dan membuka usaha menjadi penjahit baju di rumah.

"Nanti setelah bebas bisa saya kembangkan lagi. Bisnis online mungkin lebih cocok,” kata dia

Kepala Rutan Surakarta, Urip Dharma Yoga mengatakan dalam membuat industri garmen di dalam rutan ini pihaknya kerjasama dengan pihak ketiga CV Amura Pratama.

Para warga binaan pemasyarakatan (WBP) dituntut terampil dalam produksi garmen yang terus berdatangan ke Rutan Industri Solo.

"Para narapidana dituntut terampil dalam menjahit. Warga binaanbang sebelumnya penjahat kini narapidana sebagai penjahit," kata Urip.

Dikatakannya, untuk bisa menjadi penjahit tidak asal-asalan. Prosesnya harus melalui asesmen dengan Bapas Solo. Narapidana yang dirasa aman dan bersemangat tinggi merubah jalan hidupnya baru bisa masuk.

"Hanya 50 orang saja yang bisa dan telah tersertifikasi pelatihan dari ratusan warga binaan di Rutan Surakarta,” katanya.

Menurutnya, asesmen itu untuk mencegah hal-hal yang dirasa membahayakan. Meski merupakan WBP pilihan, prosedur ketat berupa penggeledahan saat masuk dan keluar ruangan garmen.

"Itu untuk mencegah alat-alat menjahit seperti jarum hingga gunting berada di luar ruangan garmen," ucap dia.

Urip mengatakan untuk awal September ini sudah ada pesanan 3.000 jersey dari Tangerang. Sebelumnya, pihaknya mendapatkan ribuan goodie bag.

"Setiap satu produk dibuat, warga binaan dapat uang. Kami bahkan sampai menolak pesanan lain karena pengerjaan penuh,” tandanya. (Ismail/Jawa Tengah)

Baca Juga

513 Warga Binaan Rutan Kelas 1 Surakarta Terima Vaksin Dosis Kedua

Baca Artikel Asli