Merahputih.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan pergerakan variatif menyusul kombinasi sentimen dari tingkat global serta domestik pada pembukaan perdagangan, Senin (31/8). Fluktuasi pasar terlihat jelas semenjak awal sesi perdagangan.
IHSG dibuka melemah 7,01 poin atau 0,11 persen menuju posisi 6.511,11. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ikut turun 1,11 poin atau 0,17 persen pada level 640,71.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Meroket Tajam! Kepanikan Mereda, Saatnya Borong Saham Blue Chip?
"Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.357, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat serta menembus support 6.454, indeks bisa terkoreksi menuju 6.385-6.377 sebagai support kuatnya,”
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata.
Sentimen Domestik Penggerak Pasar

Dari dalam negeri, pemerintah merilis relaksasi kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam bagi 64 eksportir sektor pertambangan.
Seluruh eksportir pemegang kriteria kini wajib menempatkan minimal 30 persen devisa selama paling singkat tiga bulan, berubah drastis dari ketentuan umum penempatan 100 persen selama 12 bulan.
CORE Indonesia memproyeksikan kebijakan baru memuat potensi devisa berkisar 30 miliar hingga 40 miliar dolar AS per tahun, bersumber utama dari rantai industri nikel, baja, dan mineral olahan.
“Relaksasi tersebut memberikan fleksibilitas likuiditas lebih besar bagi eksportir, tetapi sekaligus mengurangi jumlah devisa dalam sistem keuangan domestik pada rentang waktu panjang,” terang Liza.
Selain itu, BEI menjadwalkan uji coba perubahan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler serta pemberlakuan klasifikasi baru auto rejection.
Dinamika Bursa Global
Kondisi mancanegara menunjukkan risiko geopolitik kawasan Timur Tengah mulai mereda. Pelaku pasar kini memandang situasi Iran sebatas konflik berfokus pada tekanan ekonomi ketimbang ancaman pasokan fisik.
“Membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran–Oman turut menurunkan premi risiko terhadap pasokan energi global,” papar Liza.
Namun, kekhawatiran datang dari Amerika Serikat. Ketua The Fed Kevin Warsh menilai laju inflasi belum menunjukkan perlambatan berarti. Pejabat bank sentral merasa perlu mempertahankan kebijakan ketat guna mengembalikan tekanan harga menuju target rasional.
“Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat lebih lama apabila perkembangan inflasi tidak menunjukkan perbaikan cukup signifikan,” ungkap Liza.
Kondisi tersebut mendorong para investor melakukan reposisi portofolio, terutama pada deretan saham berorientasi pertumbuhan bersensitivitas tinggi terhadap perubahan suku bunga.
Baca juga:
IHSG Anjlok ke 6.501 Sore Ini, Rekor Defisit Transaksi Berjalan dan Tensi Global Jadi Biang Kerok
Sebagai referensi komprehensif, berikut adalah rekapitulasi data pergerakan berbagai indeks bursa saham utama dunia pada sesi penutupan terakhir: