Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn

Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026

MERAHPUTIH.COM — IBU hamil dan bayi baru lahir ada dalam risiko terdepan dalam dampak cuaca panas ekstrem. Demikian peringatan yang disampaikan Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Simon Stiell, Senin (5/10).

Saat berbicara pada KTT ‘pra-COP’ di Nadi, Fiji, Stiell mengutip sebuah survei baru yang menunjukkan lebih dari dua pertiga profesional kesehatan di lima benua telah menyaksikan komplikasi yang disebabkan gelombang panas intens dalam lima tahun terakhir.

Suhu yang meningkat berarti bahaya yang meningkat pula dalam kehamilan.

Simon Stiell, Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)


Stiell menjelaskan suhu panas ekstrem akibat perubahan iklim yang terjadi selama kehamilan makin terikat dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati (stillbirth), berat badan lahir rendah, serta komplikasi maternal pada ibu.

Baca juga:

Cuaca Panas Ekstrem Berlanjut di Eropa, Prancis Catat 2.025 Kematian



"Gambarannya sangat jelas dan amat mengkhawatirkan: seiring dengan memburuknya cuaca panas ekstrem, kehamilan dan persalinan kini menjadi titik rentan baru dalam krisis iklim global. Titik ini berpotensi fatal," ujar Stiell.

Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa titik rentan ini tidak boleh berubah menjadi jurang penderitaan, ketimpangan, dan ketidakadilan baru yang dipicu perubahan iklim.



Cuaca Panas Ekstrem, si Pembunuh tak Kasatmata




Survei terhadap 1.000 bidan dan dokter di Inggris, Australia, India, Brasil, dan Zimbabwe tersebut diprakarsai yayasan amal Wellcome. Ketua yayasan tersebut, mantan Perdana Menteri Australia Julia Gillard, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para ibu dan bayi sedang ditempatkan dalam risiko yang terus meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim.

"Suhu panas ekstrem ialah pembunuh yang tak kasatmata. Para ibu hamil tidak boleh diabaikan begitu saja. Para pemimpin sudah memiliki bukti dan solusi yang mereka butuhkan. Sekarang mereka harus bertindak," tegas Gillard.

Survei tersebut menemukan hampir semua bidan dan dokter pernah merawat ibu atau bayi yang menderita akibat dampak suhu panas ekstrem. Sekitar sepertiga dari responden menyatakan mereka telah menyaksikan kasus berat badan lahir rendah atau pertumbuhan terhambat, kesulitan menyusu, serta dehidrasi atau penyakit terkait panas, yang semuanya dipicu apa yang mereka yakini sebagai dampak cuaca panas ekstrem.

Stiell mengatakan masa kehamilan seharusnya menjadi masa yang penuh harapan. Namun, sayangnya, bagi jutaan orang, masa ini justru menjadi saat-saat yang penuh kecemasan, karena dampak iklim memenuhi kehidupan sehari-hari dengan bahaya.



Rekor Suhu Terpanas



Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat fenomena cuaca ekstrem terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi serta menyebabkan rekor rekor suhu terpanas makin sering terlampaui. Berdasarkan analisis AFP terhadap data dari observatorium iklim Copernicus milik Uni Eropa, sekitar 33 negara, membentang dari Eropa Barat hingga Sahel dan Amerika Tengah, mencatatkan Juli terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu pada tahun ini.

KTT pra-COP31 di Fiji dan atol karang terpencil Tuvalu dipandang para pemimpin Pasifik sebagai kesempatan untuk menarik perhatian dunia terhadap kehidupan di garis terdepan krisis perubahan iklim. Pertemuan ini merupakan cikal bakal menuju KTT iklim global PBB yang lebih besar, yang dikenal sebagai COP31, yang akan diselenggarakan pada November di Turki.(dwi)


Baca juga:

1000 Orang Meninggal Akibat Cuaca Panas Ekstrem di Prancis, 40 Persen Kematian Terjadi di Rumah

Baca Artikel Asli