MERAHPUTIH.COM — SEMMY Dalawir duduk di dalam mobilnya yang terparkir di kawasan Palmerah, Selasa (25/8) malam. Driver taksi Blue Bird itu tengah mangkal tak jauh dari Halte Stasiun Palmerah. Udara di luar terasa sesak dan perih karena gas air mata. Demonstrasi baru saja mereda di kawasan itu. Banyak pekerja dan warga yang beseliweran mencari transportasi alternatif setelah layanan KRL dihentikan.
Driver Blue bird yang telah sembilan tahun mengarungi aspal Ibu Kota ini berharap bisa mengangkut penumpang demi memenuhi setoran hariannya. Dari tempatnya menunggu, ia melihat penumpang memadati stasiun dan berbaris melewati jembatan penyeberangan orang (JPO). Namun, hingga orang-orang berangsur meninggalkan kawasan stasiun, tak ada satu pun orderan untuknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 lewat saat seorang pengemudi ojek online berjaket hijau yang tak dikenalnya menghampiri taksinya. Ia mengetuk kaca pintu mobil Semmy. Sang pengemudi ojek online itu meminta bantuan Semmy untuk mengantarkan sepasang suami istri penyandang tunanetra ke Duren Sawit, Jakarta Timur.
"Mas ojol itu mengetuk pintu saya, lalu bilang mau minta tolong. Ada penyandang disabilitas, suami istri yang kondisinya buta dan butuh tumpangan," ujar Semmy mengenang kejadian malam itu, saat ditemui di Lawson, Cipulir, Jakarta Selatan, Jumat (16/10).
Baca juga:
Kemensos Ungkap Alasan di Masih Ada Sekolah yang Tolak Siswa Disabilitas
Membuka Pintu bagi Tunanetra
Semmy sempat berpikir sebelum memutuskan membantu. Pengemudi ojek online menjelaskan pasangan tersebut hendak menuju Duren Sawit. Namun, layanan kereta yang terhenti membuat mereka tak bisa melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum. Uang yang mereka miliki terbatas untuk memesan transportasi alternatif.
"Saya dan abang ojol sama-sama kasihan. Namun, abang ojol enggak mungkin bisa mengantarkan karena penumpangnya ada dua orang. Jaraknya juga jauh. Abang ojol sudah mencoba ke pengemudi lain, tetapi mereka menolak karena jaraknya jauh," kenang Semmy.
Bagi Semmy kehidupan di jalanan Jakarta memang keras. Namun, kesulitan mencari nafkah bukan alasan untuk menutup mata terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Ia juga memahami alasan pengemudi lain menolak perjalanan tersebut karena mungkin sedang menghadapi kesulitan masing-masing. Lebih daripada itu, Semmy menyadari setiap perjalanan memiliki konsekuensi biaya. Bahan bakar dan kebutuhan operasional kendaraan tetap harus ditanggung, sedangkan target setoran tak bisa diabaikan. Semmy bimbang, Membantu orang lain terasa seperti keputusan yang benar, tetapi kebutuhan ekonominya tak bisa dikesampingkan.
"Malam itu sudah pukul 20.00 lewat. Saat menghadapi hal seperti ini, manusia akan bicara dengan hatinya sendiri. 'Kita aja kekurangan, kita nolongin orang. Mau dibilang apa?' Otaknya berputar lagi. Kita orang taksi begini yang dituntut, yang dicari uang. Uang," kata Semmy sambil tergelak pahit.
Dalam kondisi sama-sama tak punya uang yang cukup, Semmy mengerti kesulitan yang dirasakan calon penumpangnya. Dia mengejar setoran, penumpangnya mengejar waktu.
"Ya, atas kemanusian. Sebagai driver itu ada iba hatinya, melihat dari kemanusiaan sejati. Nilai inilah yang ditanamkan Blue Bird," katanya.
Sejurus kemudian, Semmy membuka pintu. "Sini, Pak, saya antar," kata Semmy kepada pengemudi ojek online yang menghampirinya.
Semmy kemudian membantu pasangan tersebut masuk ke taksi, menuntun mereka secara bergantian agar bisa duduk dengan ama. “Saya bukakan pintu, tuntun mereka satu per satu masuk ke mobil. Ternyata istrinya bisa melihat sedikit, berbeda dengan sang suami,” katanya.
Setelah memastikan keduanya berada di dalam mobil, Semmy bergegas melanjutkan perjalanan. Malam semakin dingin, sedangkan kedua penumpangnya masih harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju Duren Sawit. Semmy memilih melewati Jalan Sudirman karena jalur utama tersebut tidak ditutup saat itu.
"Jalanan Sudirman tidak ditutup. Kita putar lewat Sudirman, lalu ke Kota Kasablanka, terus saja. Lurus ke Kampung Melayu. Itu kan berhenti di Duren Sawit. Masuk saja," tuturnya.
Melapangkan Hati, Rezeki Datang dalam Bentuk Lain
Semmy mengaku tidak keberatan mengantarkan kedua penumpang tersebut meski belum mengetahui berapa ongkos yang akan mereka bayarkan. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbincang. Percakapan lebih berkisar pada biaya perjalanan. Ketika pasangan itu menanyakan tarif, Semmy tidak mematok ongkos tertentu. Ia mempersilakan mereka membayar seikhlasnya. Bagi Semmy, malam itu ia memang berniat membantu. Uang yang diterima nantinya bisa digunakan untuk membeli kopi, bekal agar tetap terjaga saat melanjutkan pekerjaannya pada malam hari. Baginya, itu pun rezeki.
"Mereka memberikan Rp 25 ribu. Ya, enggak apa-apa, buat uang kopi. Kopinya bisa sampai besok pagi. Itu juga membantu, apalagi saya pengemudi yang kerjanya malam. Suka mengantuk kalau malam, jadi bisa terbantu dengan ngopi," kata dia.
Pengalaman Semmy memperlihatkan bagaimana kelapangan hati seorang pengemudi dapat membantu penumpang yang terjebak dalam situasi darurat. Namun, bagi penyandang disabilitas, kebutuhan akan pelayanan yang sigap dan memahami kondisi mereka tidak berhenti ketika keadaan darurat berakhir. Dalam perjalanan sehari-hari, akses terhadap transportasi yang aman dan nyaman terasa seperti kedaruratan.
Mobilitas Terbatas bagi Disabilitas
Hambatan lain yang amat terasa yakni soal biaya mobilitas. Kajian riset advokasi hak disabilitas ‘Kendaraan Listrik dan Tantangan Aksesbilitas Perempuan Disabilitas Netra’ oleh LBH APIK Indonesia dan Yayasan Mitra Netra mengungkapkan pengeluaran mobilitas bagi penyandang disabilitas fisik dan sensorik netra dapat melonjak hingga empat kali lipat jika dibandingkan dengan warga nondisabilitas. Hal itu terjadi karena pilihan moda terbatas. Disabilitas menghadapi hambatan trotoar, ketiadaan ubin pemandu (guiding block), serta halte atau stasiun yang belum dapat diakses secara mandiri.
Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Provinsi Riau Purwo Setia Rini, yang merupakan penyandang disabilitas daksa, mengatakan ia selalu menjelaskan kondisi disabilitasnya juga membayar lebih ongkos ketika memesan transportasi daring. Tujuannya agar pesanannya tidak ditolak. Dia juga membayar lebih agar menghindari pengalaman tidak menyenangkan karena membawa kursi roda sebagai alat bantu mobilitas.
"Saat pengemudi di lokasi, saya dimarahin, dicecar dengan kata-kata yang cukup kasar. Pengemudi mengatakan mestinya saya memesan mobil barang jika membawa kursi roda. Katanya, kalau memesan taksi online, yang dibawa penumpang saja. Kursi roda itu barang," kata Rini saat dihubungi lewat saluran telepon, Minggu (18/10).
Padahal alat bantu mobilitas bukan sekadar barang bawaan, melainkan bagian tubuh penyandang disabilitas untuk kebutuhan mereka sehari-hari.
Perjalanan pengalaman Rini menggunakan taksi online tak selalu buruk begitu. Dia pernah hendak pergi menuju Bandara Sultan Syarif Kasim Riau untuk terbang ke Jakarta menghadiri rapat organisasi. Ia memilih menggunakan taksi online Blue Bird. Dia mengakui pelayanan driver Blue Bird terhadap disabilitas sangat baik. Ia bahkan merasa tidak perlu terus-menerus menjelaskan kondisi dirinya sebelum mendapatkan bantuan.
"Mereka mungkin sudah lebih teredukasi ya soal melayani pelanggan. Jadi memang terasa bedanya melayani disabilitas, khususnya ya," kata Rini.
Menurut Rini, perbedaan pelayanan Blue Bird itu terlihat dari hal-hal sederhana, terutama kesabaran pengemudi ketika membantu penumpang masuk ke kendaraan. Ia merasa tidak terburu-buru dan diberi waktu untuk bergerak sesuai kemampuannya. Pengemudi juga terkadang menawarkan bantuan untuk menuntunnya.
"Sesederhana mereka enggak buru-buruin saya saat naik mobil. Mereka bisa sabar menunggu gerak saya masuk, kadang juga menawarkan menuntun," katanya.
Layaknya Semmy yang malam itu membuka pintunya untuk sejoli tunanetra, kebaikan seperti itu tak semestinya menunggu situasi darurat. Rini menyebut hal-hal sederhana, seperti dibukakan pintu dan tak diburu-buru saat naik dan ditawari tuntunan membuat perbedaan layanan terasa. Di saat pintu itu dibuka, ketika itulah kelapangan hati sang driver tertampak.(Tka)
Baca juga:
Wacana Lahan Eks Pasar Taman Puring Disulap Jadi RTH Setara yang Ramah Disabilitas