MerahPutih.com - Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia sebesar 5,2 persen atau berada di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan tumbuh 4,5 persen. Proyeksi pertumbuhan kawasan itu naik dari perkiraan Bank Dunia pada April 2026 sebesar 4,2 persen.
Kenaikan proyeksi Indonesia diklaim sejalan dengan kinerja ekonomi yang cukup kuat pada paruh pertama 2026. Bank Dunia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen pada semester I 2026, meningkat dari pertumbuhan 5,1 persen pada 2025.
Pertumbuhan tersebut merupakan rata-rata pertumbuhan dua kuartal terkuat sejak 2022 dan terutama mencerminkan penguatan konsumsi swasta serta lonjakan belanja pemerintah di sekitar pergantian tahun.
Bank Dunia menyebut pertumbuhan konsumsi dan belanja pemerintah pada awal 2026 antara lain dipengaruhi oleh Ramadan dan Idul Fitri yang berlangsung lebih awal, pencairan tunjangan hari raya (THR) bagi ASN yang dilakukan lebih cepat, serta percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga:
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
Meski demikian, aktivitas ekonomi domestik selanjutnya menunjukkan pelemahan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kontraksi menjadi 49,3 pada Agustus 2026, sementara kepercayaan konsumen turun menjadi 116,8 pada Juli 2026.
Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan tetap stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Angka ini merupakan kenaikan 0,5 poin persentase pada proyeksi 2026, karena dampak kenaikan harga energi lebih ringan dari yang diperkirakan,
tulis Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 yang dikutip di Jakarta, Selasa (6/10).
Bauran kebijakan pemerintah dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun pada saat yang sama berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.
Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar menjadi 1,5 persen dari PDB pada tahun ini.
Seiring dengan berkurangnya stimulus fiskal, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah diperkirakan akan semakin bergantung pada investasi swasta. Sementara itu, inflasi diproyeksikan tetap berada di sekitar batas atas kisaran sasaran bank sentral. (*)