MerahPutih.com - Kecerdasan artifisial atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) telah menjadi peluang baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo mengatakan kawasan tersebut memiliki posisi yang kuat untuk memperoleh manfaat dari perkembangan AI karena terintegrasi dalam rantai nilai global dan mempunyai dinamika ekonomi yang tinggi.
Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,
kata Jaramillo.
Jaramillo mengatakan tantangan utama kawasan adalah mengubah keunggulan AI agar adopsi teknologi tersebut secara luas bisa berdampak ke dalam perekonomian.
Baca juga:
POCO F9 Series Andalkan AI Recorder dan Transcription, Bantu Teman Tuli Ikuti Percakapan
Sejumlah negara di kawasan telah memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas AI global lewat produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi yang mendukung investasi AI.
Saat ini, adopsi AI di kawasan masih belum merata dan secara umum berada di bawah negara-negara maju. Kondisi ini antara lain dipengaruhi tingginya biaya, keterbatasan keterampilan sumber daya manusia, serta kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi.
Tantangannya saat ini, lanjut ia, adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang.
Jika negara-negara Asia Timur dan Pasifik bertindak berani sekarang, AI dapat menjadi mesin yang kuat untuk membuka peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi semua,
ujar Jaramillo.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Franziska Ohnsorge mengatakan, Indonesia relatif lebih sedikit terpapar terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
Khusus untuk Indonesia ini menarik. Indonesia relatif lebih sedikit terpapar dibandingkan negara-negara lain terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI ini,
katanya.