MerahPutih.com - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperingatkan potensi badai pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur pada kuartal II 2026.
Baca juga:
PHK Meningkat, BPJS Ketenagakerjaan Pastikan Pekerja Dapat JKP Selama 6 Bulan
Simulasi CORE menunjukkan jumlah pekerja yang terdampak bisa mencapai 15.300 hingga 20.300 orang, terutama di wilayah aglomerasi industri.
Tekanan pada pasar tenaga kerja bersumber dari transmisi shock biaya dari konflik global ke dunia usaha dan ketergantungan industri Indonesia pada impor bahan baku,
tulis CORE dalam laporan terbarunya, Rabu (20/5).
Konflik Global dan Dampak ke Industri
CORE menilai konflik di Iran yang mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz telah mendisrupsi suplai global. Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku mengalami kenaikan biaya operasional produksi, sehingga menekan serapan tenaga kerja.
Indikasi ini tercermin dari survei Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global pada April 2026 yang turun ke level 49,1 (zona kontraksi), setelah sebelumnya sempat mencapai 53,8 pada Februari 2026.
Baca juga:
17 Persen Anak Muda Menganggur, DPR Soroti Lemahnya Industri Manufaktur
Subsektor Paling Rentan
CORE mengidentifikasi empat subsektor manufaktur paling rentan terhadap tekanan biaya:
- Tekstil dan pakaian jadi (menyerap 3,76 juta pekerja atau 19% tenaga kerja manufaktur nasional)
- Alas kaki (921 ribu pekerja)
- Elektronik dan komputer (ketergantungan impor tinggi)
- Kimia dan farmasi (85% bahan baku impor)
Provinsi Terdampak PHK
Riset CORE mengungkapkan potensi PHK diperkirakan terkonsentrasi di Batam (elektronik), Jawa Barat (tekstil), Jawa Timur (kimia dan farmasi), serta Banten (alas kaki).
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 15.425 pekerja mengalami PHK sepanjang Januari–April 2026, dengan 59% terjadi di daerah industri.
Baca juga:
PHK Krakatau Osaka Steel Jadi Alarm, DPR Desak Pemerintah Selamatkan Industri Baja Nasional
Meski lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu, CORE menilai tekanan kuartal II berpotensi meningkatkan jumlah PHK.
Dilansir dari Antara, CORE mendorong agar investasi diarahkan ke sektor strategis yang paling rentan, seperti industri tekstil dan produk tekstil, petrokimia berbasis nafta, serta besi dan baja untuk meredam dampak PHK.