AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Selasa, 06 Januari 2026 -
MERAHPUTIH.COM — AMERIKA Serikat mengambil langkah yang belum pernah terjadi dengan mengurangi jumlah vaksin yang direkomendasikan untuk setiap anak, Senin (5/1). Namun, imunisasi lain, seperti vaksin flu, diserahkan kepada pilihan keluarga tanpa panduan yang jelas.
Para pejabat mengatakan perubahan besar pada jadwal vaksin federal tersebut tidak akan menyebabkan keluarga kehilangan akses atau perlindungan asuransi terhadap vaksin. Namun, para ahli medis mengkritik langkah itu dengan mengatakan kebijakan tersebut dapat menurunkan tingkat cakupan vaksin penting dan meningkatkan risiko penyakit.
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Desember 2025 meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin dan mempertimbangkan revisi panduan agar selaras dengan praktik mereka. HHS mengatakan perbandingan terhadap 20 negara sejawat menemukan AS merupakan penyimpang baik dalam jumlah jenis vaksin maupun jumlah dosis yang direkomendasikan untuk semua anak. Para pejabat lembaga tersebut membingkai perubahan ini sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan publik dengan hanya merekomendasikan vaksin yang paling penting untuk diterima anak-anak.
“Keputusan ini melindungi anak-anak, menghormati keluarga, dan membangun kembali kepercayaan terhadap kesehatan masyarakat,” kata Menteri Kesehatan Robert F Kennedy Jr dalam pernyataan pada Senin.
Baca juga:
Para pakar medis tidak sependapat. Mereka menyatakan perubahan tanpa diskusi publik atau peninjauan data yang transparan akan membahayakan anak-anak.
“Menghentikan rekomendasi untuk vaksin yang mencegah influenza, hepatitis, dan rotavirus, serta mengubah rekomendasi untuk HPV tanpa proses publik untuk menimbang risiko dan manfaatnya akan menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah di kalangan anak-anak Amerika,” kata Michael Osterholm dari Vaccine Integrity Project yang berbasis di Universitas Minnesota.(dwi)
Baca juga:
Pemerintah Jemput Bola Vaksinasi Ribuan Hewan Peliharaan, Jakarta Targetkan Bebas Rabies