Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Antrean SNI Hambat Pasokan Industri, DPR Desak Kemenperin Evaluasi

Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026

MERAHPUTIH.COM - KELAMBANAN proses sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) di Kementerian Perindustrian mulai mengancam napas operasional dunia usaha. Anggota Komisi VII DPR RI Eva Monalisa mendesak pemerintah segera melakukan evaluasi total terhadap prosedur perizinan guna menghindari kelangkaan bahan baku yang berpotensi memicu gelombang pengurangan jam kerja.

Aspirasi ini disampaikan Eva langsung di hadapan Menteri Perindustrian dalam Rapat Kerja Komisi VII di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/6). Eva mengungkapkan ia menerima banyak keluhan dari Badan Pengurus Pusat Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (BPP GINSI) terkait dengan implementasi wajib SNI yang karut marut di lapangan.

"Berdasarkan masukan dari pelaku usaha, tingkat ketidakpastian di lapangan saat ini sangat tinggi. Pemerintah harus memastikan seluruh instrumen pendukung dan layanan perizinan benar-benar siap sebelum kebijakan diterapkan penuh. Jangan kebijakannya dipaksa, tapi sistemnya belum siap," kritik Eva.

Baca juga:

Kemenperin Rilis Aturan Baru, Pengelolaan Lingkungan Kawasan Industri Kini Berbasis Risiko


Eva membeberkan bahwa hambatan utama terletak pada lambatnya respons pengajuan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI). Kondisi ini diperparah minimnya kapasitas Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang memicu antrean panjang nan melelahkan.

Jika tidak segera diurai, sejumlah pabrik memproyeksikan stok bahan baku mereka akan habis dalam waktu dekat. Dampak domino dari kemacetan rantai pasok ini bahkan sudah mulai memukul sektor ketenagakerjaan.

“Jangan sampai regulasi yang tujuannya baik malah menjadi barikade baru bagi dunia usaha. Akibat pasokan bahan baku tersendat, sejumlah perusahaan mulai mengurangi shift kerja operasional. Jika dibiarkan, ini bukan lagi soal penurunan produksi, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan lapangan kerja.”

Eva Monalisa, anggota Komisi VII DPR RI


Di tengah tekanan ekonomi makro, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah yang tak menentu hingga melemahnya daya beli masyarakat, Eva mengingatkan Kemenperin untuk tidak menambah beban industri dalam negeri dengan urusan birokrasi yang berbelit.
Perempuan politikus PKB ini menegaskan partainya mendukung penuh standardisasi produk nasional, tapi prosesnya wajib transparan, cepat, dan akuntabel.

"Kami mendukung penguatan standar industri nasional. Namun, implementasinya harus diiringi kesiapan sistem dan kapasitas lembaga sertifikasi yang memadai. Layanan harus cepat dan transparan agar tujuan baik regulasi ini tidak berujung pada ketidakpastian di lapangan," pungkasnya.(Pon)

Baca juga:

6 Sektor Ini Dibanjiri Barang Impor, Ini Kata Kemenperin














Baca Artikel Asli