Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Afghanistan Nyatakan Perang Besar Lawan Taliban

Eddy Flo - Selasa, 30 Januari 2018

MerahPutih.Com - Rentetan serangan Taliban ke Ibu Kota Kabul, membuat penguasa Afghanistan habis kesabaran. Dalam beberapa hari ini, ratusan orang meninggal akibat serangan roket dan bom bunuh dari kelompok Taliban.

Menanggapi hal ini Afghanistan menyatakan akan membalasnya di medan peperangan. Tidak tanggung-tanggung, Kabul menyiapkan perang besar lawan Taliban.

Perang melawan Taliban ditempuh setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan damai dengan kelompok bersenjata tersebut. Di sisi lain, Taliban juga menyatakan pihaknya tidak berniat untuk berunding dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Senin (29/1) Presiden Trump mengencam aksi berdarah Taliban di Kabul. Trump menegaskan pihaknya tidak akan menggelar perundingan. Komentar tersebut menyatakan Washington akan melakukan operasi militer terhadap Taliban.

Pernyataan Donald Trump memicu tanggapan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Melalui juru bicaranya, Ashraf Ghani menegaskan serangan-serangan yang menyasar Kabul belakangan ini telah menelan banyak korban, sehingga pihaknya tidak akan mengupayakan perundingan dengan Taliban lagi.

"Taliban telah melewati batas dan kehilangan kesempatan untuk menciptakan perdamaian," kata sang juru bicara, Shah Hussain Mutazawi.

Mutazawi sebagaimana dilansir Antara dari Reuters melanjutkan, salah satu cara berdamai dengan Taliban yaitu dengan jalan perang.

"Kami harus mengupayakan perdamaian di medan pertempuran. Mereka harus dikalahkan," kata Mutazawi.

Dari pihak Taliban, Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menegaskan bahwa pihaknya memang tidak berniat untuk maju ke meja perundingan.

"Strategi mereka adalah meneruskan peperangan dan penjajahan," kata Mujahid.

"Jika kalian ingin fokus pada peperangan, maka para pejuang kami tidak akan menyambut kalian dengan bunga," kata dia.

Serangkaian serangan terhadap Kabul sudah sangat memprihatinkan. Selain bom bunuh diri yang menewaskan lebih dari 100 orang, Taliban juga sempat menyerang Hotel Intercontinental pada 20 Januari dengan jumlah korban tewas sedikitnya 20 orang.

Taliban mengatakan bahwa serangan-serangan itu adalah sebuah pesan untuk Trump bahwa kebijakan agresinya di Afghanistan tidak akan menemui keberhasilan.

Sementara itu seorang anggota Taliban lain mengatakan bahwa Amerika Serikat tengah mendekat sejumlah pemerintah daerah yang punya hubungan dengan Taliban untuk mempengaruhi mereka agar mau berunding.

"Trump mengaku tidak mau berunding hanya untuk konsumsi publik. Dia diam-diam tetap berupaya mempengaruhi kami agar mau berunding," kata anggota Taliban yang tidak mau identitasnya diungkap tersebut.

"Serangan terbaru di Kabul telah menyadarkan Trump dan bonekanya di Afghanistan tentang kemampuan Taliban untuk menggelar serangan besar," kata dia.

Amerika Serikat menduga jaringan Haqqani, sebuah faksi dalam Taliban, merupakan dalang pengeboman pada Sabtu di Kabul. Trump juga memotong bantuan militer Amerika Serikat kepada Pakistan.

Washington dan Kabul selama ini menuding Pakistan telah menggunakan Taliban, terutama jaringan Haqqani, sebagai kelompok untuk membatasi pengaruh India di Afghanistan.(*)

Baca Artikel Asli