Vaksinasi COVID-19 Dimulai, Apakah Pandemi Berakhir?
Vaksinasi tak serta-merta membuat kita keluar dari pandemi. (foto: unsplash/hakan nural)
INDONESIA memulai vaksinasi COVID-19, Rabu (13/1). Presiden Jokowi jadi yang pertama mendapat vaksin. Selain Presiden, ada juga sejumlah tenaga kesehatan, pemuka agama, hihngga selebritas yang juga mendapat vaksin.
Namun, beberapa saat setelah vaksinasi, aktor Raffi Ahmad kedapatan kumpul-kumpul tanpa mengenakan masker. Warganet langsung riuh mengomentari.
Banyak yang bertanya, apakah setelah adanya vaksinasi, kita terbebas dari pandmei dan bisa mengabaikan 3M?
Faktanya, vaksin COVID-19 diberikan dua dosis dalam rentang 14 hari. Dokter spesialis penyakit dalam konsultasi alergi imunologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Iris Rengganis, seperti dilansir ANTARA, menjelaskan, setelah vaksinasi, antibodi baru terbentuk 14 hari setelah diberikan vaksin kedua COVID-19.
Selama rentang waktu itu, seseorang yang sudah divaksin masih mungkin tertular infeksi dan jatuh sakit karena belum cukup waktu untuk vaksin memberikan perlindungan.
Ia menyarankan para penerima vaksin tetap menjaga protokol kesehatan, yakni memakai makser, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M). "Saat ini masih pandemi, belum semua orang divaksin. Herd immunity belum 70% dan perlindungan vaksin tidak ada yang 100%. Jadi tetap jaga protokol kesehatan hingga pandemi berakhir," kata Iris.
Hal senada juga disarankan internis di University of Illinois School of Public Health, Jay Bhatt, dan dokter di Massachusetts, Shazia Ahmed. Seperti dilansir ABC News, mereka mengatakan protokol kesehatan menjadi alat utama mencegah infeksi dan penularan virus corona. Mengenakan masker wajah, misalnya, bisa mengurangi risiko infeksi hingga 70%.
Sementara itu, mendapatkan vaksin mengajarkan tubuh cara berhasil melawan virus tanpa harus benar-benar sakit. Hal itu amat berbeda dengan protokol kesehatan yang mengurangi paparan virus.
Ahli epidemiologi di Boston University, Eleanor Murray seperti dikutip Vox, mengingatkan mendapatkan vaksin COVID-19 bukan berarti seseorang bisa langsung kembali ke kehidupan sebelum pandemi.
Ahli virologi yang berafiliasi dengan Georgetown University, Angela Rasmussen, mengingatkan, vaksin tidak bekerja secara instan dan ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan baik pada semua orang. Menurut dia, rencana liburan akhir pekan beramai-ramai tidak akan sepenuhnya aman.
Pada tahap saat herd immunity atau kekebalan kawanan terjadi, orang-orang akan dapat dengan aman kembali mengunjungi lokasi publik seperti bioskop dan restoran.
Jika nanti 80% populasi divaksinasi, payung kekebalan akan tercipta. Kondisi itu akan mampu melindungi bahkan orang rentan yang belum divaksinasi.
Meskipun demikian, ingatlah, pada tahap itu bukanlah waktu untuk bepergian ke negara-negara yang belum mencapai kekebalan kelompok atau yang memiliki sedikit infrastruktur perawatan kesehatan.
Waktu yang dibutuhkan berbagai negara untuk mencapai kekebalan kelompok bergantung pada seberapa cepat orang-orang di negara itu dapat mengakses vaksin dan berapa bagian dari populasi mereka yang bersedia untuk mendapatkan suntikan. Ada kemungkinan kondisi itu terjadi pada 2022 atau setelahnya.
Jadi, saat ini untuk mengatasi pandemi COVID-19 secara efektif, semua orang harus mengurangi paparan virus dengan menerapkan protokol kesehatan dan divaksin. Protokol kesehatan mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tetap harus dilakukan.(dwi)
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya