Kesehatan

Vaksin Sinovac Dinilai Punya Tingkat Efikasi 65,3 Persen

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Senin, 01 Februari 2021
 Vaksin Sinovac Dinilai Punya Tingkat Efikasi 65,3 Persen

Vaksin Sinovac punya tingkat efikasi 65,3% (Foto: pixabay/alexandra_koch)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

VAKSIN COVID-19 buatan Sinovac Biotech memiliki tingkat efikasi 65,3 persen. Hal itu disampaikan oleh Kepala Divisi Penjamin Mutu dan Regulasi PT Biofarma, Jeni Treshnabudhi.

Tingkat efikasi mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat umum. Mengenai hal itu, Jeni menjelaskan bahwa bila vaksin memiliki tingkat efikasi 65,3 persen, artinya peluang seseorang terkena COVID-19 turun sebanyak 65,3 persen.

"Dengan kita melakukan vaksinasi, kemungkinan kita terpapar menjadi sakit karena COVID-19 turun sebanyak 65,3 persen. Jadi, 5M tetap berlaku karena vaksinasi tidak menjamin 100 persen kita tidak akan terinfeksi virus penyebab COVID-19," kata Jeni mengutip laman Antara.

Baca Juga:

Tetap Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan meski Vaksin sudah Tersedia

Jeni Treshnabudhi menjelaskan bahwa vaksin sinovac mempunyai tingkat efikasi 65,3 persen. (Foto: pixabay/wir_pixs)

Jeni juga mengatakan dengan memiliki antibodi, tubuh kamu masih bisa bertahan meski terpapar COVID-19. Biasanya gejala yang mungkin timbul tidak berat, melainkan ringan atau sedang.

Untuk saat ini, tim peneliti masih memantau sejauh mana antibodi dalam tubuh yang telah divaksin bisa bertahan serta menetralisir virus.

Mengenai hal itu, data terkini menunjukkan, antibodi di dalam tubuh tersedia dalam jumlah cukup meskipun ada penurunan. "Nanti akan dilihat data setelah enam bulan, satu tahun apa yang terjadi dengan level antibodi protektif ini," jelas Jeni.

Sementara itu, Jeni menjelaskan apabila terjadi penurunan hingga kurun waktu tertentu, maka dibutuhkan booster berikutnya untuk menaikkan kembali antibodi ke level protektif.

Soal efek samping, Jeni menyampaikan jarang yang termasuk kategori berat. Tapi, khusus Sinovac yang menggunakan aluminium hidroksida, Jeni mengingatkan para calon penerima vaksin yang memiliki riwayat alergi untuk berhati-hati.

Sejauh ini, efek samping setelah divaksin terbanyak berupa nyeri dan pegal di lokasi suntikan. Beberapa juga merasa letih.

Mengenai keberhasilan penurunan kasus COVID-19 di Tanah Air, Jeni memprediksi kondisi tersebut bisa terjadi. Yang terpenting program vaksinasi nasional bisa mencakup 70% penerima dalam waktu 15 bulan.

Terkait vaksin di Indonesia, Dirjen SDPPI Kemenkominfo dan Tim Vaksin Nasional, Ismail menjelaskan bahwa vaksin di Indonesia terbagi dua.

Baca Juga:

Persiapkan Ini Sebelum Divaksin COVID-19

Pertama yakni vaksin gratis dan yang kedua vaksin gotong royong. Ismail menuturkan bahwa fokus saat ini pada vaksin gratis yang diberikan berdasarkan tahap vaksinasi sesuai kategori.

Sementara itu, untuk vaksin gotong royong dikabarkan masih dalam pembahasan, termasuk penetapan harga oleh pemerintah.

"Untuk vaksin gotong royong akan dilakukan berikutnya tetapi berbeda dari yang lima (vaksin gratis yakni dari Sinovac, Novavac, Gavi, AstraZeneca dan Pfizer), harga akan ditentukan kemudian, siapa yang akan divaksin diprogram pemerintah," jelas Ismail.

Nantinya alur pelayanan vaksinasi bagi masyarakat, melalui empat tahapan, yang dimulai dari pendaftaran di meja pertama. Di meja tersebut, calon penerima vaksin diwajibkan menunjukan e-ticket untuk verifikasi data yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi Pcare.

Akan ada beberapa tahapan yang perlu dilalui sebelum masyarakat bisa menerima vaksin. (Foto: pixabay/geralt)

Kemudian, di meja kedua, petugas kesehatan akan melakukan ammnesa serta pemeriksaan fisik sederhana. Hal itu dimaksudkan untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta.

Selanjutnya, petugas akan memberikan vaksinasi secara intra muskular sesuai dengan prinsip penyuntikan aman. Lalu mencatat merek atau jenis dan nomor batch vaksin yang diberikan.

Kemudian, pada meja keempat, petugas akan mencatat hasil pelayanan vaksinasi ke aplikasi PCare. Nantinya, si penerima vaksin diobervasi selama kurang lebih 30 menit untuk melihat kemungkinan KIPI atau kejadian ikutan pasca imunisasi.

Setelah itu, petugas kesehatan akan memberikan penyuluhan tentang 3M dan vaksinasi COVID-19. Setelahnya memberikan kartu vaksinasi kepada penerima vaksin. (ryn)

Baca Juga:

Sejumlah Negara Pakai Eventbrite untuk Jadwalkan Vaksin COVID-19, Apa Itu?

#Kesehatan #Vaksin Covid-19 #Vaksinasi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan