Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Akal-Akalan Siswa Saat Upacara Bendera

Andreas PranataltaAndreas Pranatalta - Minggu, 04 Juli 2021
Akal-Akalan Siswa Saat Upacara Bendera

Rindu akan upacara. (Foto: Instagram/infokalteng)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BERPAKAIAN atribut lengkap, datang sebelum pukul 07.00 WIB, dan berdiri di lapangan lebih dari 30 menit sambil ditemani teriknya matahari, makin bikin Senin menjadi Monster Day singakatan Monday bagi beberapa pelajar. Belum lagi mata bekas begadang semalam bikin enggak kuat melihat bendera Merah -Putih saat dipasang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Buat angkatan Zoom, Google Meet, dan Microsoft Teams, kangen enggak sama upacara setiap Senin? Mulai dari petugas upacara bergiliran setiap kelas, disetrap karena telat datang, sengaja duduk di barisan belakang supaya bisa tidur, sampai menggoda gebetan pas kepala sekolah memberikan amanat, bikin ingin kembali merasakan sekolah tatap muka seperti sebelum pandemi. Makanya, upacara di sekolah sebenarnya lebih dari sekadar menghormati bendera Merah-Putih.

Baca juga:

Meja Sekolah Jadi Arena Psywar Anak Pagi Versus Siang

upacara bendera
Upacara bendera yang selalu dihindari oleh para siswa. (Foto: Unsplash/Mufid Majnun)

Berbicara soal upacara, setiap sekolah memang mewajibkan para siswa dan gurunya mengikuti upacara setiap Senin. Mengikuti proses upacara dengan khidmat tentu memberikan manfaat bagi para siswa di kemudian hari, seperti membentuk karakter positif, disiplin, cinta Tanah Air, tenggang rasa, sikap sosial, dan masih banyak lagi.

Tapi pernah kepikiran enggak sih kenapa upacara dilakukan setiap Senin?

Jika merujuk pada Hari Kemerdekaan, sepertinya tidak mungkin hari Senin dijadikan pijakan untuk memberlakukan setiap siswa upacara bendera. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 dan jatuh pada Jumat, bukan Senin. Jawabannya, Senin merupakan awal siswa sekolah masuk setelah libur di akhir pekan, serta dirasa pas untuk mengisi nilai-nilai nasionalisme. Menghayati upacara bendera setiap Senin juga membuat siswa terus mengingat para peuang. Siswa ternyata enggak kalah berjuang saat harus upacara pada hari Senin pagi.

Nah supaya bikin makin kangen, yuk nostalgia kejadian-kejadian unik ketika upacara.

1. Baris di paling belakang

Upacara di Sekolah Lebih dari Sekadar Menghormati Merah Putih
Barisan paling belakang memang meresahkan. (Foto: Instagram@smaplusalghifari)


Tingkat kecerdasan di kelas tampaknya bisa dilihat dari urutan baris saat upacara. Barisan paling depan biasanya diisi siswa pintar, tepat waktu, atau minimal ketua kelas supaya bisa mengatur barisan. Sementara, di barisan paling belakang justru di kelas akademisnya kurang dan kalau soal bercanda dan sosialisasi nomor satu. Tak hanya itu, momen ini juga mereka manfaatkan untuk bercanda dengan perempuan di kelas lain atau gebetan di kelas.

Epiknya lagi, ketika kepala sekolah memberi perintah istirahat di tempat dan menyampaikan amanat, mereka benar-benar istirahat, alias tidur dengan tetap berdiri atau jongkok. Makanya tak heran guru-guru killer sering datang ke barisan belakang untuk memastikan semua tetap berdiri tegak. Akal-akalan lain juga sering terjadi di barisan belakang ketika mereka tidak mengenakan atribut lengkap. Dengan pintarnya mereka mengoper atribut teman lain ketika guru lewat supaya terlihat lengkap.

2. Jam pelajaran terpotong

upacara
Jam pelajaran yang terpotong. (Foto: Unsplash/Haseeb Modi)


Estimasi upacara di sekolah biasanya 45 menit sampai satu jam, tergantung dari amanat upacarar diberikan dan acara apa saja dilakukan setelah upacara. Jam pelajaran pertama setiap Senin entah kenapa tidak disukai beberapa pelajar, misalnya matematika, kimia, ekonomi, atau fisika. Yang berbau hitung-hitungan pokoknya. Dengan durasi upacara lama, biasanya jam pelajaran pertama akan dipotong dan langsung digantikan dengan jam pelajaran kedua. Semuanya tergantung dengan silabus diberikan masing-masing sekolah.

Bagian sebagian siswa, upacara lama ada sisi baik-buruk. Mungkin bagi staminanya kurang fit pasti akan kurang senang, sementara siswa malas menghadapi pelajaran sulit di jam pertama akan bersorak ria.

3. Sengaja tidak memakai atribut

Upacara di Sekolah Lebih dari Sekadar Menghormati Merah Putih
Disetrap guru. (Foto: Instagram@wenyfabiannnn)

Beberapa pelajar malah sengaja tidak mengenakan atribut lengkap supaya disetrap saat upacara. Entah apa di pikiran mereka, mungkin ingin terlihat keren di depan gebetan atau biar bisa dilihat seluruh siswa di sekolah, atau memang bagian dari rencana bersama satu pertemenan. Mereka tak mengenakan atribut lengkap akan dihukum membersihkan lingkungan sekolah, dan malah senang karena tidak mengikuti pelajaran. Sebuah pengalaman unik, tentunya.

Baca juga:

Bolos Sekolah Belum Tentu Anak Salah

4. Petugas upacara bergiliran

Upacara di Sekolah Lebih dari Sekadar Menghormati Merah Putih
Menjadi momen tunjuk menunjuk. (Foto: Instagram@fauzulzynhadilukasarialanggasy)


Beberapa sekolah menetapkan aturan setiap minggu petugas upacaranya harus bergantian setiap kelas. Tunjuk menunjuk pun dimulai. Banyak enggan menjadi pemimpin upacara atau petugas paling kanan karena merasa malu berdiri di tengah lapangan. Mungkin pula tidak kuat berdiri tegak di bawah teriknya matahari. Nah mereka tidak ditunjuk akan 'main aman' saja bertindak sebagai paduan suara. Momen pergantian petugas upacara ini memang selalu bikin kelas deg-degan.

5. Kangen upacara

Upacara di Sekolah Lebih dari Sekadar Menghormati Merah Putih
Semoga bisa merasakan kembali upacara di sekolah. (Foto: Instagram@husindo)


Meski sering telat, malas untuk ikut upacara, dihukum menyapu lingkungan sekolah, sampai alasan sakit biar bisa ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS), momen di sekolah tidak bisa dilupakan. Para alumni apalagi masih berstatus pelajar tapi harus Belajara jarak Jauh karena pandemi COVID-19, pasti kangen kenangan di masa-masa sekolah, terutama kenakalan-kenakalan saat upacara bendera. Kangen disetrap, kena nyapu sekolah, sampai dijemur seharian di tengah lapangan enggak sih.

Mari berdoa semoga situasi COVID-19 ini bisa segera membaik sehingga bisa merasakan kembali ke sekolah bukan di rumah saja. (and)

Baca juga:

PPDB Daring Meminimalisasi 'Bangku Kosong' Negeri Aing

#Fashion #Juli Ngilmu Di Negeri Aing #Sekolah
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Andreas Pranatalta

Stop rushing things and take a moment to appreciate how far you've come.
Show More

Berita Terkait

Fashion
Lakon Indonesia Hadirkan Koleksi HARSA, Rayakan Kebahagiaan dalam Setiap Proses Berkarya
Dari batik hingga bordir buatan tangan, Lakon Indonesia menghadirkan HARSA sebagai koleksi terbaru yang merayakan proses, craftsmanship, dan kebahagiaan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 16 Juli 2026
Lakon Indonesia Hadirkan Koleksi HARSA, Rayakan Kebahagiaan dalam Setiap Proses Berkarya
Indonesia
Prabowo Buka Peluang Kantin Sekolah Jadi Alternatif MBG, Minta Dikaji Dulu
Presiden RI, Prabowo Subianto, membuka opsi kantin sekolah jadi alternatif MBG. Ia pun meminta hal itu dikaji.
Soffi Amira - Kamis, 16 Juli 2026
Prabowo Buka Peluang Kantin Sekolah Jadi Alternatif MBG, Minta Dikaji Dulu
Indonesia
Banyak Sekolah Kekurangan Murid Baru, Puan Desak Pemerintah Lakukan Pemetaan
Pemerintah perlu terlebih dahulu memetakan penyebab fenomena tersebut sebelum menentukan langkah penanganan agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi di lapangan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 15 Juli 2026
Banyak Sekolah Kekurangan Murid Baru, Puan Desak Pemerintah Lakukan Pemetaan
Indonesia
Ledakan di MAN 3 Padang, Polisi Amankan Siswa Berinisial R dan Sejumlah Barang Bukti
Ledakan diduga bom rakitan terjadi di MAN 3 Padang, Sumatera Barat. Densus 88 menyebut pelaku merupakan siswa berinisial R (17).
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 14 Juli 2026
Ledakan di MAN 3 Padang, Polisi Amankan Siswa Berinisial R dan Sejumlah Barang Bukti
Indonesia
Komisi X DPR Ingatkan MPLS 2026 Harus Bebas Perploncoan dan Perundungan
Anggota Komisi X DPR RI Dedi Wahidi meminta pelaksanaan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 bebas dari perploncoan, kekerasan, dan perundungan.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 14 Juli 2026
Komisi X DPR Ingatkan MPLS 2026 Harus Bebas Perploncoan dan Perundungan
Indonesia
Kondisi SDN Srengseng Sawah 15 Setelah Ancaman Bom, Sekolah Kembali Normal
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan aktivitas belajar di SDN Srengseng Sawah 15 kembali normal setelah ancaman bom dipastikan tidak terbukti.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 14 Juli 2026
Kondisi SDN Srengseng Sawah 15 Setelah Ancaman Bom, Sekolah Kembali Normal
Indonesia
Pelaku Teror Bom SDN 15 Srengseng Sawah Ditangkap, Polisi Dalami Motif dan Keterlibatan Pihak Lain
Polisi menangkap MY (34), pria yang diduga mengirim ancaman bom ke SDN 15 Srengseng Sawah, Jagakarsa. Pelaku mengaku melakukan aksi tersebut karena iseng.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 Juli 2026
Pelaku Teror Bom SDN 15 Srengseng Sawah Ditangkap, Polisi Dalami Motif dan Keterlibatan Pihak Lain
Indonesia
Usai Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Tetap Masuk Sekolah Seperti Biasa
Disdik DKI Jakarta memastikan KBM dan MPLS di SDN Srengseng Sawah 15 tetap berlangsung normal pada Selasa (14/7) usai ancaman bom.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 Juli 2026
Usai Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Tetap Masuk Sekolah Seperti Biasa
Indonesia
Polisi Periksa 3 Saksi, Kantongi Nomor Pengirim Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15
Polisi memeriksa tiga saksi dan telah mengantongi nomor pengirim ancaman bom ke SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 Juli 2026
Polisi Periksa 3 Saksi, Kantongi Nomor Pengirim Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15
Indonesia
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15, Polisi Telusuri Pengirim Pesan WhatsApp
Ancaman bom melalui WhatsApp menggegerkan SDN Srengseng Sawah 15 di hari pertama sekolah. Polisi kini memburu pengirim pesan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 Juli 2026
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15, Polisi Telusuri Pengirim Pesan WhatsApp
Bagikan