Tubuh Manusia Bakal Alami Perubahan Drastis saat Tinggal di Mars

Soffi AmiraSoffi Amira - Senin, 26 Agustus 2024
Tubuh Manusia Bakal Alami Perubahan Drastis saat Tinggal di Mars

Tubuh manusia akan mengalami perubahan drastis saat tinggal di Mars. Foto: Dok/NASA

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Manusia yang tinggal di Mars nantinya akan mengalami perubahan fisik drastis. Bahkan, kemungkinan bakal berkembang menjadi sub-spesies baru, kata seorang ahli.

Pendiri OsteoStrong, Kyle Zagrodzky menjelaskan, bahwa lingkungan Mars dapat mendorong manusia untuk berevolusi menjadi versi "sepupu Bumi".

Pada awalnya, astronaut yang menuju Mars akan merasa cukup baik. Menurut Zagrodzky, hal itu dikarenakan adanya tingkat gravitasi yang lebih rendah, kemudian meringankan beban pada tulang dan persendian mereka.

“Pendatang baru akan mendapatkan keuntungan fisik yang sangat besar dalam jangka pendek, sampai tulang dan otot mereka tidak terganggu," katanya dikutip dari The Sun, Senin (26/8).

Manusia yang Hidup di Mars Bisa Menderita Osteoporosis

Sebagian manusia yang hidup di Mars bisa alami osteoporosis
Sebagian manusia yang hidup di Mars bisa alami osteoporosis. Foto: Unsplash/Nicolas Lobos

Hidup dalam gravitasi Mars sama dengan sekitar 38% gravitasi Bumi. Dalam jangka waktu lama, diperkirakan akan memberikan dampak signifikan pada tubuh manusia.

Berdasarkan studi yang dilakukan Stanford pada 2020 menemukan, bahwa astronaut yang menjalankan misi tiga tahun ke Mars dan kembali lagi ke Bumi, akan kehilangan sepertiga kepadatan tulang mereka. Lalu, sebagian dari mereka bisa menderita osteoporosis.

“Bagi pengunjung dewasa baru, pemanjangan tulang belakang mungkin merupakan perubahan pertama yang terlihat,” lanjut Zagrodzky.

“Selain perubahan distribusi lemak, yang mungkin terlihat semakin aneh seiring berjalannya waktu, kita mungkin tidak akan melihat perubahan fisik yang signifikan pada orang dewasa yang mengunjungi Mars dalam jangka waktu singkat.”

Rencana besar untuk menjajah Mars juga membingunkan orang-orang seperti Zagrodzky, yang sangat tidak yakin bagaimana manusia akan “bertahan hidup” di lingkungan yang keras. Jika visi masa depan Elon Musk terwujud, maka manusia bisa hidup di Mars tanpa batas waktu.

Elon Musk sendiri ingin membawa manusia ke Mars dalam waktu kurang dari 10 tahun lagi. Kemudian, membangun kota di sana dalam dua dekade.

“Generasi baru yang lahir di Mars kemungkinan besar akan terlihat jauh berbeda dengan sepupu mereka di Bumi,” kata Zagrodzky.

Saat ditanya seperti apa rupa manusia generasi baru ini, Zagrodzky berkata: “Perubahan distribusi lemak, membuat wajah terlihat lebih sembab kemungkinan besar akan menjadi perubahan pertama yang kita lihat.

“Satu generasi baru yang tumbuh sejak lahir akan terlihat sangat berbeda, terutama setelah masa pubertas.”

Manusia yang Lahir di Mars Alami Perubahan di Tulang Belakang

Mars dianggap jauh lebih lemah dibandingkan Bumi
Mars dianggap jauh lebih lemah dibandingkan Bumi. Foto: Unsplash/NASA

Manusia kelahiran Mars tidak hanya memiliki wajah yang lebih bulat, tetapi juga tulang belakang dan anggota badan yang lebih panjang. Mereka mungkin juga pucat secara kronis, karena perkembangan kardiovaskular yang menyimpang.

“Di bumi, adaptasi signifikan terjadi selama tahun-tahun awal pertumbuhan dan melalui masa pubertas,” jelas Zagrodzky.

“Tanpa efek gravitasi bumi, saya memperkirakan manusia akan jauh lebih lemah secara keseluruhan: perkembangan tulang, otot, dan kardiovaskular akan sangat terhambat.”

Ia menambahkan, Mars akan jauh lebih lemah dibandingkan di Bumi. Selain itu, mereka akan bergulat dengan konsekuensi radiasi kosmik dan gangguan kadar glukosa darah.

“Otot digunakan lebih dari sekadar kekuatan. Mereka juga mengandung reseptor insulin yang penting untuk mengatur kadar glukosa darah," kata Zagrodzky.

“Otot yang lemah dan kurang berkembang kemungkinan akan memiliki lebih sedikit reseptor insulin, dan saya membayangkan bahwa Diabetes Tipe 2 akan menjadi salah satu dari banyak masalah serius yang akan dihadapi penduduk Mars.”

Pada Maret lalu, mantan ketua badan antariksa nasional Ukraina yang beralih menjadi pengusaha kosmik, Volodymyr Usov mengatakan, bahwa kita memerlukan astronaut yang dimodifikasi secara genetik untuk menjajah Mars.

Ia juga menyetujui, bahwa biologi kita menghambat manusia untuk menjajah planet lain. Usov juga berpendapat, industri swasta dan ilmuwan harus berinvestasi lebih banyak dalam mengadaptasi biologi manusia untuk ruang angkasa. Jika tidak, kata Usov, perjalanan luar angkasa jangka panjang akan mustahil dilakukan. (sof)

#Sains #Planet Mars #Penelitian
Bagikan
Ditulis Oleh

Soffi Amira

Berita Terkait

Indonesia
Tim Peneliti Indonesia Berhasil Petakan Migrasi Hiu Paus, Jalurnya Lewat 13 Negara
Riset satelit 2015–2025 memetakan migrasi hiu paus melintasi 13 negara. Indonesia berperan sebagai hub konservasi Indo-Pasifik.
Wisnu Cipto - Minggu, 03 Mei 2026
Tim Peneliti Indonesia Berhasil Petakan Migrasi Hiu Paus, Jalurnya Lewat 13 Negara
ShowBiz
Bruce Willis Akan Donorkan Otaknya untuk Penelitian Demensia Frontotemporal
Bruce Willis akan mendonorkan otaknya demi penelitian penyakit langka Demensia Frontotemporal.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 April 2026
Bruce Willis Akan Donorkan Otaknya untuk Penelitian Demensia Frontotemporal
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Indonesia
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto bertemu profesor dari 24 universitas top Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Kerja sama pendidikan hingga rencana bangun 10 kampus baru di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Fun
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Museum MACAN meluncurkan Water Turbine Project, program pendidikan seni kolaborasi dengan Grundfos Indonesia. Angkat isu air, lingkungan, dan keberlanjutan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Desember 2025
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Bagikan