MerahPutih.com - Israel secara resmi menolak untuk membayar iuran US$ 1 miliar (Rp 17 triliun) kepada Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) yang dipimpin Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Laporan Radio Angkatan Darat Israel dikutip Selasa (24/2), pemerintah Israel telah menyampaikan keputusan itu langsung kepada Trump dan telah disetujui.
“Tidak ada pembenaran untuk membayar uang setelah kami diserang, maupun untuk mendanai rekonstruksi Gaza,” kata Kementerian Urusan Politik dan Keamanan Israel, Ze’ev Elkin, dalam laporan radio militer itu.
Baca juga:
Prabowo Optimis Visi Damai Trump Sukses Indonesia Kirim Pasukan Terbesar Ke Dewan Perdamaian
AS Donasi US$ 1 Miliar
Dewan Perdamaian sendiri merupakan forum internasional yang diikuti sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tujuan mendukung rekonstruksi Gaza pascakonflik.
Washington disebut telah menyetujui pengecualian Israel dari kewajiban pembayaran, berbeda dengan negara anggota lain seperti Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menjanjikan kontribusi lebih dari US$ 2 miliar.
Hingga kini, Dewan Perdamaian dilaporkan telah mengumpulkan sekitar US$ 5 miliar dari para anggotanya. Negosiasi masih berlangsung untuk komitmen tambahan dari sejumlah negara lain, masing-masing diharapkan menyumbang sekitar USD 1 miliar.
Pekan lalu, Trump mengumumkan negaranya akan menyumbang US$ 10 miliar (Rp 162 triliun) untuk mendukung rekonstruksi Gaza melalui BoP.
Baca juga:
Kemenlu Tegaskan Indonesia Tak Ada Main Mata Dengan Israel usai Sama-Sama Berada di 'Board of Peace'
Standar Ganda Israel
Keputusan Israel menolak kontribusi finansial berpotensi memengaruhi dinamika diplomasi di kawasan Timur Tengah, sekaligus menunjukkan adanya standar ganda.
Di satu sisi, Israel menegaskan posisinya sebagai pihak yang merasa menjadi korban konflik Gaza. Namun, negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan UEA justru menunjukkan komitmen besar untuk mendukung rekonstruksi.
“Washington setuju untuk membebaskannya dari pembayaran apa pun, tidak seperti negara anggota lainnya seperti Qatar dan UEA, yang menjanjikan lebih dari dua miliar dolar,” tulis laporan Khaberni, kantor berita berbahasa Arab. (*)