Tragedi Solo 1948: Baku Tuduh di Tubuh TNI

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Jumat, 05 Oktober 2018
Tragedi Solo 1948: Baku Tuduh di Tubuh TNI

Divisi Sliwangi. (Foto diambil dari ash-shiddiq.org)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KOLONEL Sutarto baru saja tiba di rumahnya. Ia berniat melepas lelah. Beristirahat. Tak lama berselang, suara tembakan memecah keheningan. Tubuh Sutarto roboh. Ia meninggal.

Kepergian Kolonel Sutarto, Komandan Divisi IV/TNI (Divisi Panembahan Senopati) pada Juli 1948 memercik api perselisihan di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Hubungan Divisi Siliwangi dan Divisi IV Panembahan Senopati sebelum peristiwa itu terjadi sejati telah menegang. Dan semakin meruncing ketika Mayor Om-om Abdoerachman, di dalam keterangannya, melihat sebuah peci dengan lencana Siliwangi di samping mayat Sutarto.

Alhasil, sejak kepergian Sutarto, dua divisi berkedudukan di Solo itu pun saling mencurigai.

Pasukan Divisi Siliwangi saat hijrah ke Jawa Tengah.
Pasukan Divisi Siliwangi saat hijrah ke Jawa Tengah.

Suasana terus memanas hingga kalender berganti tanggal, memasuki awal September 1948. Aksi penculikan pun merebak. Puluhan orang berpengaruh di Solo seketika hilang.

"Dari jumlah 24 korban penculikan, terdapat 4 orang dari PKI, 4 Pasukan Panembahan Senopati, 12 dari Pesindo, Dr. Muwardi dan 3 orang Barisan Banteng," tulis Julianto Ibrahim dalam Bandit dan Pejuang di simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta.

Soedirman Turun Tangan

Jendral Sudirman. (Foto/wikipedia)
Jendral Soedirman. (Foto/wikipedia)

Panasnya suasana Solo ternyata terasa hingga Jakarta. Jenderal Soedirman sebagai pucuk pimpinan langsung bertolak ke Solo untuk mengurai benang kusut.

Soedirman lantas berjumpa Komandan Pertemuan Surakarta. Sang Jenderal beroleh informasi Lukas Kustatyo dan kawan-kawan Siliwangi terindikasi bermain dalam penculikan para perwira Panembahan Senopati dan anggota-anggota PKI di Solo.

"Maka Jenderal Soedirman memanggil Brigadir Sadikin secara langsung," seperti ditulis dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Pemberontakan PKI 1948. Sadikin merupakan Komandan Brigade II KRU (Kesatuan Reserve Umum) Siliwangi yang ada di Solo.

Pertemuan keduanya terjadi di Loji Gandrung–kini, rumah dinas Walikota Solo, untuk mencari keterangan atas asal-usul ketegangan tersebut. Soedirman pun terlibat percakapan tak mengenakan dengan Sadikin.

“Jangan mikir apa-apa dulu, kecuali satu, bagaimana perasaanmu sebagai tentara jika perwiramu jadi korban penculikan?” tanya Soedirman kepada Sadikin.

“Tentu saja saya sangat marah dan tidak senang. Saya pasti akan menuntut balas,” jawab Sadikin, seperti ditulis Julius Pour dalam Ignatius Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS.

“Memang, semua juga tidak ada yang senang. Oleh karena itu bebaskan saja para perwira yang sudah terlanjur kau tahan,” ujar Soedirman.

“Maaf panglima, saya sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai penculikan. Saya juga tidak punya informasi sedikit pun mengenai persoalan yang diributkan. Justru dengan adanya perintah kepada saya untuk membebaskan, saya sudah merasa dituduh terlibat aksi penculikan dan dimintai bertanggung jawab. Apa kesalahan saya dan anak buah saya? Pokoknya, Siliwangi tidak pernah melakukan penculikan!,” tukas Sadikin keras.

“Slamet Rijadi anak saya!” jawab Soedirman tak kalah keras.

“Lantas..., saya anak siapa?” tanya Sadikin retoris. Percakapan keduanya tak membuahkan hasil. Solo tetap panas.

Presiden Turun Tangan

Sukarno dan Soeharto. (Foto/Istimewa)
Sukarno dan Soeharto. (Foto/Istimewa)

18 September 1948, Sukarno memberi keterangan dari corong Radio Republik Yogyakarta bahwa kota Solo dalam kondisi bahaya. Gatot Subroto pun ditunjuk sebagai gubernur militer yang bertanggungjawab atas keamanan Solo hingga Madiun.

Ia segera mengeluarkan pengumuman bahwa setiap pihak harus menghentikan baku tembak paling lambat 20 September pukul 12.00 dan keesokannya diwajibkan pimpinan Siliwangi dan Panembahan Senopati untuk menghadap Gubernur Militer di Kantor Karesidenan Surakarta.

“Penerimaan yang kurang bersahabat terhadap kesatuan-kesatuannya (Siliwangi -red) terjadi karena kampanye fitnah PKI Moeso, yang melihat Siliwangi sebagai penghalang ke arah tujuannya. Pertempuran di Solo dengan licik ditiup-tiup oleh PKI, yang memanfaatkan perselisihan di tubuh TNI untuk bias menarik pasukan Senopati ke pihaknya,” tulis Harry A. Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak. (*)

#Jenderal Sudirman #Sukarno #Panglima TNI
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Santer Jadi Calon Panglima TNI, Ini Kata KSAD Maruli Simanjuntak
Maruli menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat sejak 29 November 2023, menggantikan Jenderal TNI Agus Subiyanto yang kini menjadi Panglima TNI.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Oktober 2026
Santer Jadi Calon Panglima TNI, Ini Kata KSAD Maruli Simanjuntak
Indonesia
Janda Presiden Pertama Indonesia Sukarno Didenda Rp 22,5 Juta Oleh Pengadilan Jepang
Dewi melemparkan gelas sampanye ke arah asistennya saat itu di sebuah restoran di kawasan Shibuya, Tokyo, pada 13 Februari tahun lalu
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Oktober 2026
 Janda Presiden Pertama Indonesia Sukarno Didenda Rp 22,5 Juta Oleh Pengadilan Jepang
Indonesia
TNI Kenakan Pakaian Dinas Upacara Baru, Dipenhi Unsur Budaya Indonesia
Model PDU ini memiliki unsur yang kental dengan kebudayaan karena berbentuk beskap atau seperti pakaian adat pria dengan kerah menutupi sampai leher.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 05 Oktober 2026
TNI Kenakan Pakaian Dinas Upacara Baru, Dipenhi Unsur Budaya Indonesia
Indonesia
Kapal Induk Eks Italia Resmi Jadi KRI Sriwijaya-100, Panglima TNI Kukuhkan Komandannya
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meresmikan kapal induk eks Italia ITS Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya-100.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 24 September 2026
Kapal Induk Eks Italia Resmi Jadi KRI Sriwijaya-100, Panglima TNI Kukuhkan Komandannya
Indonesia
DPR Panggil Panglima TNI dan Kapolri Bahas Keamanan Jelang HUT Ke-81 RI
Mensesneg juga menyampaikan rapat yang membahas keamanan dan ketertiban itu juga diarahkan untuk persiapan Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 10 Agustus 2026
DPR Panggil Panglima TNI dan Kapolri Bahas Keamanan Jelang HUT Ke-81 RI
Indonesia
Warga Diminta Tidak Terprovokasi Jelang Peringatan HUT Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia
Panglima meminta masyarakat tidak mudah mempercayai kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diminta melaksanakan aktivitas seperti biasa.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 10 Agustus 2026
Warga Diminta Tidak Terprovokasi Jelang Peringatan HUT Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia
Indonesia
Pertemuan Kapolri, Jaksa Agung, dan Panglima TNI, Komisi III DPR: jangan Ada Narasi Keretakan
Kerja sama tersebut dibutuhkan, terutama dalam penegakan hukum, pemberantasan korupsi, serta penguatan pertahanan negara.
Dwi Astarini - Rabu, 15 Juli 2026
Pertemuan Kapolri, Jaksa Agung, dan Panglima TNI, Komisi III DPR: jangan Ada Narasi Keretakan
Indonesia
Panglima TNI, Jaksa Agung, dan Kepala BIN Kumpul di Peringatan Harkopnas 2026
Mereka terlihat tersenyum sambil memperagakan salam komando sebagai simbol kebersamaan. 

Dwi Astarini - Minggu, 12 Juli 2026
Panglima TNI, Jaksa Agung, dan Kepala BIN Kumpul di Peringatan Harkopnas 2026
Berita Foto
Raker Menhan dan Panglima TNI Bahas Perkembangan Dinamika Geopolitik Global
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (tengah) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subianto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 19 Mei 2026
Raker Menhan dan Panglima TNI Bahas Perkembangan Dinamika Geopolitik Global
Indonesia
Kumpulkan Mantan Panglima TNI, Menhan Sjafrie Yakinkan Soal Prinsif Kepentingan Nasional
Dinamika strategi pertahanan negara yang baru tetap harus mengakar pada dua prinsip tersebut.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 25 April 2026
Kumpulkan Mantan Panglima TNI, Menhan Sjafrie Yakinkan Soal Prinsif Kepentingan Nasional
Bagikan