Tolak APBN Bayari Utang Whoosh, Menkeu: Untungnya ke Danantara, Susahnya ke Kita
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
MerahPutih.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Pernyataan ini disampaikan usai inspeksi mendadak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
"Whoosh sudah dikelola oleh Danantara. Mereka sudah menerima lebih dari Rp80 triliun dividen dari BUMN. Seharusnya utang proyek itu dikelola dari dana tersebut saja," kata Purbaya, kepada media, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/10).
Menurut Purbaya, penggunaan APBN untuk membayar utang proyek Whoosh tidak masuk akal. Apalagi, lanjut dia, keuntungan dari proyek dinikmati Danantara, sementara beban keuangan justru dialihkan ke negara.
Baca juga:
Menkeu Purbaya menegaskan jika dividen BUMN telah diambil Danantara, maka tanggung jawab utang juga seharusnya ikut ditanggung.
"Kalau pakai APBN agak lucu. Karena untung ke dia (Danantara), susahnya ke kita. Harusnya kalau ambil dividen BUMN, ambil semua, termasuk beban utangnya," tandas bendahara negara itu.
Utang Proyek Whoosh
Sebelumnya, Danantara mengusulkan dua skema penyelesaian utang KCJB yang saat ini membebani PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Opsi tersebut meliputi penyertaan modal kepada KAI atau penyerahan aset infrastruktur kereta cepat kepada pemerintah.
Untuk diketahui, Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung Whoosh bernilai USD 7,27 miliar ini tidak berjalan semulus rel yang membentang dari Halim ke Tegalluar.
Sekitar 75 persen pendanaannya berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), sementara sisanya dari modal para pemegang saham seperti KAI, Wijaya Karya, PTPN I, dan Jasa Marga.
Baca juga:
Kini, beban bunga utang proyek tersebut mencapai hampir Rp 2 triliun per tahun. Kondisi ini menekan kinerja keuangan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium pemegang 60 persen saham KCIC, yang mencatat kerugian Rp4,2 triliun pada 2024, dan Rp 1,63 triliun pada semester pertama 2025.
Pendapatan dari operasional Whoosh juga belum mampu menutup biaya pinjaman. Sepanjang 2024, hanya 6 juta tiket yang terjual dengan harga rata-rata Rp 250 ribu, menghasilkan pendapatan kotor Rp 1,5 triliun jauh di bawah kebutuhan untuk menutupi beban bunga. (*)
Bagikan
Wisnu Cipto
Berita Terkait
Raker Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dengan Komisi XI DPR Bahas Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025
Bandara IMIP Disorot, Menkeu Purbaya Kirim Petugas Bea Cukai dan Imigrasi ke Morowali
[HOAKS atau FAKTA]: Menkeu Purbaya Minta Prabowo Setop Penerimaan CPNS 2026, Anggarannya Dialihkan untuk Lunasi Bayar Utang Kereta Cepat
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Marahi Menkeu Purbaya karena Menolak Membayar Utang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Jelang Angkutan Nataru 2026, Semua Awak Kereta Cepat Jakarta-Bandung Wajib Tes Urine oleh BNN
Bekas Dirjen Jadi Tersangka di Jaksa Agung, Menkeu: Bantah Lagi Bersih-Bersih Ditjen Pajak
Pedagang Thrifting Minta Legalisasi, Menkeu Purbaya: Bukan Soal Bayar Pajak, Melainkan Kepatuhan Aturan
Defisit APBN Sudah Capai Rp 479,7 Triliun, Pendapatan Cuma 73,7 Persen Dari Target
Dikritik Warganet, DPR Minta Danantara Perbaiki Website dan Tingkatkan Keterbukaan Publik
Bukan Cuma Jual Beli Tanah Negara, Penyelidikan KPK Temukan Indikasi Mark Up Dana Lahan Whoosh