Merahputih.com - Tiga langkah strategis dinilai bisa mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang saat ini mengancam keseimbangan ekosistem perairan. Dominasi spesies invasif ini memerlukan penanganan serius karena berpotensi merusak habitat asli ikan lokal di berbagai aliran sungai, terutama di wilayah Jakarta.
Dr Charles PH Simanjuntak, pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, menyatakan bahwa pengendalian ikan invasif tidak mungkin hanya mengandalkan satu metode tunggal.
Baca juga:
Negara-Negara yang Menjadikan Ikan Sapu-Sapu Menu Tradisional
Gabungan berbagai pendekatan menjadi solusi paling masuk akal untuk menekan angka pertumbuhan ikan yang dikenal sangat tangguh ini.
“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” jelas Dr Charles dikutip dari laman resmi IPB, Minggu (19/4).
Regulasi Ketat dan Teknologi eDNA
Langkah pencegahan menempati posisi krusial dalam rantai pengendalian. Dr Charles mendorong pemerintah daerah, khususnya Pemprov Jakarta, untuk memperketat aturan perdagangan ikan hias. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak sembarangan melepasliarkan ikan ke perairan umum.
Selain aturan hukum, penggunaan teknologi environmental DNA (eDNA) menjadi rekomendasi utama untuk mendeteksi keberadaan spesies ini sebelum populasi melonjak tak terkendali.
“Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak,” tambah Dr Charles.
Penangkapan Selektif dan Predator Alami
Pada area dengan kepadatan populasi tinggi, penangkapan secara masif dan selektif menjadi keharusan. Pakar IPB University menyarankan penangkapan difokuskan pada ikan berukuran di bawah 30 cm guna memutus siklus reproduksi secara efektif.
Baca juga:
Perburuan berbasis komunitas yang terorganisir di sepanjang aliran sungai diyakini mampu mengurangi jumlah ikan sapu-sapu secara signifikan, dengan catatan hasil tangkapan harus segera dimusnahkan.
Di sisi lain, pendekatan kontrol biologis melalui pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu turut ditawarkan. Meskipun predator ini efektif menyasar fase juvenil (anak ikan), sinergi antara teknologi, partisipasi masyarakat, dan regulasi pemerintah tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan ekosistem perairan Indonesia. (Tka)