Relasi

The Psychology of Hate, Apakah Ada Benci Tanpa Sebab?

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 26 Oktober 2021
The Psychology of Hate, Apakah Ada Benci Tanpa Sebab?

Hati-hati terjebak psychology of hate. (Foto: Unsplash/Tom Ramalho)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAKAH kamu pernah membenci seseorang tanpa sebab? Selama ini urusan benci-membenci di antara manusia memang sesuatu yang kompleks. Umumnya rasa benci bisa timbul karena perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Contohnya seperti kata-kata yang menyinggung perasaan atau janji yang kerap diingkari.

Kamu bisa saja membenci orang lain karena sikapnya menyebalkan, tetapi kamu juga bisa membencinya tanpa sebab. Menurut psychologytoday, sindrom the psychology of hate membuatmu merasa benci dengan seseorang tanpa sebab. Padahal penyebabnya ada di dalam lubuk hati terdalam. Apa saja sih faktor pemicunya?

Baca juga:

Janganlah Membenci Diri Sendiri

1. Insecure

The Psychology of Hate, Apakah Ada Benci Tanpa Sebab?
Merasa lebih buruk dari orang lain. (Foto: Pixabay/StockSnap)

Sebenarnya membenci tanpa sebab itu tidak pernah ada. Meskipun orang yang kamu benci tidak pernah menyakitimu secara langsung, kamu tetap bisa membencinya karena dipengaruhi faktor internal.

Selama ini kamu belum pernah mencapai sesuatu, sedangkan teman-teman di sekitarmu sudah sukses duluan. Hal itu bisa saja menimbulkan rasa insecure akibat merasa kurang daripada orang lain. Berawal dari insecure, kamu akhirnya membenci teman-temanmu karena merasa tertinggal.

2. Trauma masa kecil

The Psychology of Hate, Apakah Ada Benci Tanpa Sebab?
Mengalami peristiwa buruk di masa kecil. (Foto: Pixabay/Counselling)

Trauma yang didapatkan seseorang di masa kecil juga bisa memicu kebencian terhadap orang lain. Misalnya semasa kecil kamu selalu mendapatkan perlakuan kasar dari orangtua, atau kerap mendapatkan perundungan oleh teman-teman sekolah.

Ketika tumbuh dewasa dan menemukan lingkaran pertemanan yang baru, kamu menemukan fakta bahwa ada salah satu teman yang hidupnya terlihat ideal sejak kecil. Temanmu ini tumbuh di keluaga yang bahagia dan harmonis.

Kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki masa kecil yang lebih indah daripada milikmu sehingga kamu merasa berhak untuk membencinya.

Baca juga:

Suka Memendam Kemarahan, Hati-Hati dengan 5 Zodiak Ini

3. Standar sosial

The Psychology of Hate, Apakah Ada Benci Tanpa Sebab?
Merasa harus memenuhi standar sosial yang ada di tengah masyarakat. (Foto: Pixabay/Peggy Marco)

Sudah bukan rahasia lagi bahwa standar sosial di dunia ini membuat semua orang saling bersaing agar bisa diakui kehebatannya. Entah itu standar kecantikan atau pekerjaan.

Dari kompetisi secara positif, kamu bisa membenci orang lain hanya karena kalah bersaing. Standar sosial yang kini ada di tengah masyarakat sangat kejam. Membuat semua orang iri hati dan membenci satu sama lain.

4. Tidak pernah dipuji orangtua

The Psychology of Hate, Apakah Ada Benci Tanpa Sebab?
Tidak pernah mendapatkan pujian dari keluarga. (Foto: Pixabay/Bessi)

Waktu kecil kamu termasuk anak yang tidak pernah dipuji oleh orangtua meskipun memiliki prestasi yang gemilang. Alhasil kamu pun mencari pujian dari orang lain. Kamu merasa harus selalu menjadi yang paling sempurna di antara orang lain.

Di suatu waktu, datang seseorang dengan kemampuan yang jauh lebih hebat. Apalagi orang-orang di sekitarmu mulai mengagumi orang tersebut di hadapanmu. Daripada bersaing secara positif, kamu malah memilih untuk membencinya diam-diam. (Mar)

Baca juga:

Penelitian: Ada 6 Emosi yang Membuat Orang Berteriak

#Psikologi #Relasi
Bagikan
Ditulis Oleh

Maria Theresia

Your limitation -- it's only your imagination.

Berita Terkait

Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Psikiater: Mood Swing saat Menstruasi Itu Normal, Begini Cara Mengelolanya
Mood swing saat menstruasi sering disalahpahami. Psikiater Elvine Gunawan menjelaskan cara mengatasinya dan pentingnya self love serta pola hidup sehat.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 22 April 2026
Psikiater: Mood Swing saat Menstruasi Itu Normal, Begini Cara Mengelolanya
Fun
Tren AI Therapy Meningkat di Kalangan Milenial - Gen Z, Psikolog: Bukan Pengganti Terapi Manusia
AI therapy makin populer di dunia dan Indonesia, namun psikolog menegaskan teknologi ini tidak bisa menggantikan peran manusia dalam terapi kesehatan mental.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 14 April 2026
Tren AI Therapy Meningkat di Kalangan Milenial - Gen Z, Psikolog: Bukan Pengganti Terapi Manusia
Indonesia
Belajar dari Tragedi Bocah SD NTT, Anak Cowok Juga Butuh Ruang Aman Bercerita
Tragedi yang dialami siswa SD YBR di NTT membuktikan anak laki-laki juga kerap mengalami masalah psikis, tetapi belum mendapatkan ruang aman untuk berbicara.
Wisnu Cipto - Kamis, 05 Februari 2026
Belajar dari Tragedi Bocah SD NTT,  Anak Cowok Juga Butuh Ruang Aman Bercerita
Fun
Cegah Modus Love Scamming, Kenali Ciri-cirinya
Love scamming merupakan jenis kejahatan digital yang ramai terjadi sejak 2017.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 20 Juni 2025
Cegah Modus Love Scamming, Kenali Ciri-cirinya
Indonesia
Jangan Dipendam! Layanan Konsultasi Kesehatan Mental Gratis dan Rahasia Tersedia Nonstop di Jakarta, Bisa Kontak ke Nomor Ini
Tidak hanya itu, layanan ini juga terintegrasi dengan Kartu Tanda Peserta ASABRI
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 14 Juni 2025
Jangan Dipendam! Layanan Konsultasi Kesehatan Mental Gratis dan Rahasia Tersedia Nonstop di Jakarta, Bisa Kontak ke Nomor Ini
Fun
Kamu Clingy ke Pasangan? Bisa Jadi Itu Tanda Insecure dan Takut Ditinggalkan
Istilah clingy sering ditujukan kepada seseorang yang punya kemelekatan berlebih pada pasangan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 17 Februari 2025
Kamu Clingy ke Pasangan? Bisa Jadi Itu Tanda Insecure dan Takut Ditinggalkan
Fun
Kesedihan Seringkali Berujung pada Impulsive Buying, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Bukan tentang barangnya, seseorang yang bersedih hanya mencari sensasi kesenangan dari aktivitas kesibukannya.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 04 Februari 2025
Kesedihan Seringkali Berujung pada Impulsive Buying, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Fun
Jangan Coba-Coba FWB, Risiko Negatif Membayangi
FWB banyak dilakukan di kalangan anak muda yang tidak mau pusing dengan drama cinta konvensional.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 28 Desember 2024
Jangan Coba-Coba FWB, Risiko Negatif Membayangi
Fun
Alasan Psikologis Seseorang Jadi Fomo, Kenali Tanda-tandanya
Ada banyak alasan orang menjadi fomo, salah satunya butuh validasi.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 28 Desember 2024
Alasan Psikologis Seseorang Jadi Fomo, Kenali Tanda-tandanya
Bagikan