ATTENTION-deficit/hyperactivity disorder atau ADHD termasuk salah satu gangguan mental paling umum yang terjadi pada anak-anak dan remaja. Sejumlah usia dewasa juga mengalaminya.
Dikutip dari WebMD, diperkirakan bahwa ADHD pada usia dewasa mempengaruhi lebih dari 8 juta orang dewasa (atau hingga 5% orang Amerika).
Banyak dari mereka bahkan tidak mengetahuinya. Beberapa penelitian menunjukkan kurang dari 20% orang dewasa dengan ADHD menyadari bahwa mereka mengidapnya.
Banyak orang dewasa pengidap ADHD memiliki karier yang sukses. Namun di sisi lain, kondisi ini juga dapat menimbulkan tantangan dalam pekerjaan.
Meski gejalanya bervariasi, tapi orang dengan ADHD bisa memiliki ciri-ciri seperti impulsif, hiperaktif, dan kurang perhatian. Menurut Huffington Post, berikut diantaranya:
Baca juga:
Sulit bagi otak mereka para pengidap ADHD untuk tetap terstimulasi cukup lama dan benar-benar melakukan tugas seperti membaca email atau melihat dokumen. (Foto: Freepik/Wayhomestudio)
1. Perfeksionis
Psikolog Dede O'Shea berpendapat ada tumpang tindih antara penderita ADHD dengan karyawan yang memiliki kecenderungan perfeksionis. ADHD memengaruhi bagian otak yang mengontrol cara seseorang mengarahkan perhatian. Pada penderita ADHD, fungsi kontrol tersebut tak berjalan dengan baik.
"Jadi mereka tidak bisa fokus pada apa yang harus diselesaikan. Itu terus terjadi bolak-balik di antara semua ide yang berbeda. Dan terkadang, perfeksionisme bisa muncul sebagai cara untuk mencoba mengatasinya," ujar O'Shea.
2. Menunda Pekerjaan
Kecenderungan untuk menunda sesuatu jadi salah satu gejala umum ADHD pada orang dewasa. Ini biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam menyusun tugas secara tepat waktu. Pada karyawan dengan ADHD, ketidakmampuan memenuhi tenggat waktu sering kali disebabkan oleh rasa cemas.
3. Sering Telat
Orang dengan ADHD kesulitan untuk datang tepat waktu, baik untuk agenda rapat maupun bekerja. Banyak karyawan kerap terlambat, tapi penderita ADHD mengalami kondisi yang dikenal sebagai 'buta waktu'.
Kondisi tersebut membuat mereka sulit memperkirakan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk tiba di suatu tempat.
"Misalnya, mereka seharusnya berada di tempat kerja pada jam 9 pagi. Jadi, yang mereka pikirkan hanya-lah jam 9 pagi. Dan di saat itu-lah biasanya mereka baru meninggalkan rumah, karena yang mereka pikirkan hanya jam 9 pagi," jelas O'Shea.
Baca juga:
Banyak karyawan yang kerap terlambat, tapi penderita ADHD mengalami kondisi yang dikenal sebagai 'buta waktu'. (Foto: Freepik/Master130)
4. Sering Stres
Bagian korteks prefrontal otak bertugas mengontrol perhatian dan respons emosional. Pada penderita ADHD, area tersebut kurang berkembang.
O'Shea mengemukakan, saat stres terjadi, karyawan dengan ADHD bisa memberikan respons yang luar biasa hingga tak mampu mengendalikan diri. "Beberapa orang merasa hampa atau beberapa lainnya meledak-ledak dan menjadi sangat emosional serta mudah tersinggung," jelasnya.
Dengan kata lain, karyawan dengan ADHD bisa memberikan respons berlebih. Saat ada tugas baru atau perubahan-perubahan tertentu yang memicu stres terkait pekerjaan, itu akan terjadi tiba-tiba.
5. Salah Kirim E-mail
Fungsi otak salah satunya membantu seseorang tetap terorganisir. Pada penderita ADHD, fungsi tersebut bisa terganggu. Kondisi ini membuat mereka kesulitan mendapatkan fokus dan memiliki kecenderungan untuk melakukan segalanya dengan terburu-buru.
"Sulit bagi otak mereka para pengidap ADHD untuk tetap terstimulasi cukup lama dan benar-benar melakukan tugas seperti membaca e-mail atau melihat dokumen," ungkap O'Shea.
6. Sering Brainstorming, tapi Susah Praktek
Pada dasarnya, orang dengan ADHD adalah pribadi yang kreatif. Mereka mampu memecahkan masalah dengan cara-cara yang kreatif.
"Di tempat kerja, orang dengan ADHD dikenal sebagai pemikir kreatif yang hebat, sangat bersemangat. Mereka sosok orang yang benar-benar dibutuhkan dalam tim kerja," ujar O'Shea. Namun, gangguan pada fungsi eksekutif otak membuat mereka justru kesulitan dalam mewujudkan solusi kreatif tersebut.
Beberapa penelitian melihat bahwa obat stimulan yang digunakan untuk mengobati ADHD, seperti methylphenidate, dapat memperbaiki gejala ADHD. Namun, hal tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut, karena obat stimulan ini, pada beberapa orang ADHD, hanya mengatasi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) saja.
(dgs)
Baca juga: