Kesehatan

Tak cuma Nasi, Kenali Jenis Lain Karbohidrat

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 27 November 2020
Tak cuma Nasi, Kenali Jenis Lain Karbohidrat

Bentuk karbohidrat tak cuma nasi. (foto: pixabay/emily1974)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KARBOHIDRAT adalah jenis zat gizi yang mempunyai fungsi utama sebagai sumber energi untuk tubuh. Saat berdiet, kamu tidak bisa menghindari karbohidrat sama sekali. Bila kamu melakukannya, banyak masalah kesehatan yang akan timbul setelahnya.

Ada dua jenis karbohidrat, yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Kedua karbohidrat itu diolah dan dicerna dengan cara yang sedikit berbeda oleh tubuh. Keduanya memang akan memengaruhi kadar gula darah, tetapi kecepatannya untuk menjadi gula darah berbeda.

Karbohidrat sederhana

Karbohidrat sederhana ini terkandung di dalam makanan manis, gula, madu, dan gula merah. Di antara jenis karbohidrat lain, karbohidrat sederhana ini yang paling cepat diserap dan diolah tubuh menjadi gula darah, karena bentuknya yang sederhana, sehingga mudah untuk dicerna.

Karbohidrat kompleks

Ada beberapa jenis karbohidrat kompleks. Namun, sebagian besar karbohidrat kompleks bisa kamu temukan di makanan pokok yang setiap hari kamu konsumsi, seperti nasi, kentang, mi, bihun, dan singkong. Pati dan serat merupakan jenis karbohidrat kompleks.

  • Pati

Semua makanan pokok mengandung jenis karbohidrat yang mengandung pati. Pati dicerna lebih lama oleh tubuh karena memiliki bentuk yang lebih rumit ketimbang karbohidrat sederhana. Saat kamu makan nasi, roti, atau karbohidrat kompleks lainnya, kadar gula darah kamu akan meningkat dalam waktu beberapa saat.

Akan tetapi, jenis karbohidrat ini tetap saja akan membuat kadar gula darah kamu naik, meski tidak secepat gula. Maka dari itu, bila mengonsumsi makanan pokok terlalu banyak, gula darahmu bisa tak terkendali dan berisiko mengalami hiperglikemia.

  • Serat

Serat termasuk karbohidrat kompleks. Sayur dan buah yang kamu konsumsi sebenarnya mengandung karbohidrat. Jenis karbohidrat ini juga bisa ditemukan dalam makanan pokok yang tinggi serat seperti nasi merah, roti gandum, dan makanan yang terbuat dari gandum utuh lainnya.

Berbeda dari jeni karbohidrat lainnya, serat tidak akan berdampak buruk pada gula darah. Justru sebaliknya, dalam beberapa peneitian disebutkan bahwa serat mampu membantu mengendalikan kadar gula darah.

Ketika serat masuk ke tubuh, jenis karbohidrat ini tidak akan dipecah sebagai karbohidrat, jadi tidak akan ada karbohidrat atau jumlah kalori yang diserap. Hal itu membuat serat tidak akan bikin berat badanmu naik dan kadar gula darah akan tetap normal.(dwi)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan