Musik

Studio Ramai-ramai Belanja Royalti Musik

P Suryo RP Suryo R - Senin, 28 Februari 2022
Studio Ramai-ramai Belanja Royalti Musik

Demam royalti musik tengah melanda studio selama dua tahun terakhir. (Foto: freepik/pvproductions)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APA kesamaan Bruce Springsteen, Paul Simon, Red Hot Chili Peppers, dan Neil Young? Tentu saja daftar panjang penciptaan lagu apik dan sederet hits.

Tetapi baru-baru ini apa yang membuat para seniman ini memiliki banyak persamaan adalah urusan keuangan mereka. Semua musisi tersebut telah menjual royalti atas katalog musik lama mereka hingga triliunan rupiah.

Baca Juga:

Apakah Masa Depan Musik Ada di Blockchain?

musik
Platform streaming telah mencapai skala pendapatan yang berarti. (Foto: freepik/rawpixel.com)

Bruce Springsteen baru-baru ini menjual royalti atas musiknya ke Sony seharga USD500 juta (Rp7,8 triliun), Red Hot Chili Peppers menjual musik mereka dengan harga USD140 juta (Rp2 triliun) yang dilaporkan pada Mei 2021, Paul Simon menjaring USD250 juta (Rp3,6 triliun) untuk lagu-lagu folk-nya pada April 2021 dan Neil Young menjual setengah dari katalog lamanya pada Januari 2022.

Semua kesepakatan ini adalah bagian dari demam royalti musik yang melanda studio selama dua tahun terakhir. Momentum hanya meningkat pesat selama setahun terakhir seiring mengalirnya triliunan rupiah ke kantong musisi papan atas.

“Kondisi ini meningkat ketika saya pikir orang mengira akan mereda pada awal tahun,” kata Sachin Saggar, seorang analis di Stifel yang mengamati fenomena tersebut.

Selama 15 tahun pertama abad ini, musik tidak disukai di dunia keuangan akibat pengunduhan ilegal dan penjualan lagu seiring kebangkitan platform streaming yang pada awalnya hanya menghasilkan sedikit keuntungan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri ini telah berubah arah. Platform streaming seperti Spotify dan Apple Music telah mencapai skala pendapatan yang sangat berarti dan perusahaan seperti Facebook, YouTube, TikTok, dan bahkan Peloton sekarang membayar artis untuk menggunakan lagu mereka. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, industri ini mengalami pertumbuhan.

Investor tertarik pada bisnis musik tersebut karena pendapatan royalti "tidak berkorelasi", dalam bahasa industri. Tidak seperti aset lain seperti saham yang cenderung bergerak seiring dengan hal-hal seperti suku bunga atau pertumbuhan PDB, musik tampaknya bergerak mengikuti iramanya sendiri. Seperti yang dikatakan analis RBC Christine Zhou, "Orang-orang mendengarkan musik di saat-saat baik, buruk, dan parah."

Daya tarik lainnya adalah keteraturan pendapatan royalti. Pergeseran dari membeli musik ke menyewanya, dalam bentuk streaming, berarti investor sekarang dapat membeli produk dalam bentuk pembayaran yang jumlah uangnya diharapkan dapat diprediksi setiap tahun. Itulah yang disukai para pebisnis.

Baca Juga:

Musik tak Peduli Batasan

musik
Pandemi COVID-19 mempercepat tren demam royalti ini. (Foto: freepik/azerbaijan_stock)

Merck Mercuriadis, bos dana investasi musik Hipgnosis, mengatakan, "Lagu-lagu hebat yang telah terbukti menjadi bagian dari struktur kehidupan kita dan sebagai hasilnya memiliki pendapatan yang sangat dapat diprediksi, andal, dan tidak berkorelasi. Ini membuat mereka dapat diinvestasikan."

Hasilnya? Triliunan telah mengalir ke pasar hak musik selama beberapa tahun terakhir. Bob Dylan, Shakira, Stevie Knicks, dan The Killers semuanya bergabung dalam demam royalti ini.

"Musik telah berubah dari sesuatu yang tidak banyak orang dengar sebagai kelas aset yang dapat diinvestasikan lima tahun lalu menjadi begitu terdepan," Saggar mengatakan seperti diberitakan standard.co.uk.

Berlangsungnya pandemi COVID-19 ini pun hanya mempercepat tren. Dengan tur luring yang tertunda, pecinta musik di seluruh dunia telah menghabiskan lebih banyak waktu streaming lagu favorit. Dan, peningkatan konsumsi digital dari segala sesuatu mulai dari film hingga video gim dapat mendatangkan lebih banyak pendapatan juga ketika lagu digunakan di latar belakang.

London berada di garis depan demam royalti musik ini, dengan dua dana paling menonjol di tempat yang tercantum di sini. Hipgnosis, dijalankan oleh mantan manajer musik Merck Mercuriadis, terdaftar di London pada 2018.

Pendiri Chic Nile Rogers, seorang penasihat, tampil pada upacara IPO perusahaan. Hipgnosis sejauh ini telah mengumpulkan £1 miliar (Rp19,5 triliun) dari investor dan merupakan pembeli katalog lama Neil Young dan The Red Hot Chili Peppers.

Pemain utama lainnya adalah Round Hill Music, yang mengumpulkan lebih dari £200 juta (Rp3,9 triliun) dalam daftar pada November 2020. (aru)

Baca Juga:

Video Gim Membuat Anak Tertarik Belajar Instrumen Musik

#Lipsus Februari Musik #Musik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

ShowBiz
Harry Styles Bawakan 'What Is Enough' untuk Liam Payne, Liriknya Singgung Kehilangan Sahabat
Harry Styles membawakan lagu baru 'What Is Enough' untuk mengenang Liam Payne, dua tahun setelah kepergian mantan personel One Direction tersebut.
Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 19 menit lalu
Harry Styles Bawakan 'What Is Enough' untuk Liam Payne, Liriknya Singgung Kehilangan Sahabat
ShowBiz
'Tak Ingin Pulang', Lagu Terbaru MARBLES tentang Kebersamaan dengan Orang Terkasih
Tak Ingin Pulang menggambarkan perasaan seseorang yang begitu menikmati kebersamaan dengan orang terkasih hingga tak ingin momen tersebut berakhir.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
'Tak Ingin Pulang', Lagu Terbaru MARBLES tentang Kebersamaan dengan Orang Terkasih
ShowBiz
Barsena Bestandhi Rilis 'Coba Lagi' untuk Soundtrack Film 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'
Barsena mengangkat kisah tentang seseorang yang tengah menghadapi masa-masa sulit hingga berada di titik terendah kehidupannya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Barsena Bestandhi Rilis 'Coba Lagi' untuk Soundtrack Film 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'
ShowBiz
Kenzy Taulany Merangkum Rindu dan Jarak dalam 'Siapa Duluan Rindu'
Siapa Duluan Rindu bercerita tentang beratnya merelakan seseorang untuk pergi, sekaligus keinginan untuk tetap memberikan dukungan kepada orang tersebut.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Kenzy Taulany Merangkum Rindu dan Jarak dalam 'Siapa Duluan Rindu'
ShowBiz
Makna Lagu 'Our' Hwang Min-yun, Ungkap Arti Cinta yang tak Tergoyahkan
'Our' menjadi ruang bagi Min-hyun untuk merefleksikan perjalanan dirinya sekaligus mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang-orang terdekat
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Makna Lagu 'Our' Hwang Min-yun, Ungkap Arti Cinta yang tak Tergoyahkan
ShowBiz
Dari Topeng Munir hingga 'Olah Tubuh', Aksi Penuh Makna Efek Rumah Kaca di Synchronzie Fest 2026
Para penerka dalam balutan topeng Munir pun ikut membentangkan poster-poster berisi pesan perjuangan.
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Dari Topeng Munir hingga 'Olah Tubuh', Aksi Penuh Makna Efek Rumah Kaca di Synchronzie Fest 2026
ShowBiz
Lisa BLACKPINK Umumkan Tracklist Mini Album Terbaru PRESS PLAY
'PRESS PLAY' dijadwalkan meluncur pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Lisa BLACKPINK Umumkan Tracklist Mini Album Terbaru PRESS PLAY
ShowBiz
Mawar de Jongh Rilis 'Oh Semoga', Lagu tentang Harapan dan Kehidupan
Sejalan dengan judulnya, Oh Semoga yang merepresentasikan sebuah ungkapan yang mencerminkan harapan seseorang terhadap sesuatu yang ingin diwujudkan.
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Mawar de Jongh Rilis 'Oh Semoga', Lagu tentang Harapan dan Kehidupan
ShowBiz
Dari Jakarta ke Kyoto, Rimba Menembus Batas Bahasa lewat Musik
Rimba membawa perpaduan melodi pop, aransemen musikal yang eksploratif, serta lirik berbahasa Indonesia yang kaya makna
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Dari Jakarta ke Kyoto, Rimba Menembus Batas Bahasa lewat Musik
ShowBiz
Synchronize Fest 2026 Dibuka, Cek Deretan Penampil Spesial 3 Hari
Synchronize Fest kembali menghadirkan deretan penampil dari beragam genre dan generasi.
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Synchronize Fest 2026 Dibuka, Cek Deretan Penampil Spesial 3 Hari
Bagikan