Serbia Dituduh Coba Menganeksasi Wilayah Utara Kosovo
Kosovo - Serbia. (Tangkapan Layar)
MerahPutih.com - Bentrokan terjadi di desa Banjska, Kosovo utara di dekat perbatasan Serbia, ketika sebuah kelompok bersenjata Serbia memblokir sebuah jembatan dengan dua truk.
Baku tembak terjadi setelah kelompok itu melepaskan tembakan ke arah polisi, membuat seorang polisi tewas dan lainnya terluka.
Baca Juga:
Kim Jong-un Dukung Upaya Rusia Menangkan Perang di Ukraina
Sejumlah besar pasukan keamanan kemudian dikerahkan di wilayah itu, serta perbatasan Bmjak antara Kosovo dan Serbia ditutup.
Otoritas Kosovo mengatakan memiliki bukti Serbia mencoba menganeksasi wilayah utara negara itu dan para penyerang telah mempersiapkan hal ini sejak lama di pangkalan militer.
"Organisasi teroris ini hanya memiliki satu tujuan: menganeksasi bagian utara Republik Kosovo," kata Menteri Dalam Negeri Kosovo Xhelai Svecia.
"Dalam rangka mewujudkan tujuannya, institusi Serbia mengatur militer, logistik, dan kapasitas keuangan mereka," kata Svecia.
Menurut Svecia, Presiden Serbia Aleksander Vucic, Menteri Pertahanan Milos Vucevic dan Kepala Staf Militer Milan Mojsilovic berhubungan langsung dalam upaya tersebut.
"Presiden Serbia berusaha menyangkal fakta bahwa negaranya terlibat dalam rencana dan eksekusi serangan 24 September, namun dokumen yang kami keluarkan sebelumnya dan rekaman yang akan kami siarkan hari ini adalah bukti nyata keterlibatan militer dan struktur negara dalam organisasi ini," kata dia.
Kawasan tersebut menjadi lokasi kerusuhan sejak April, ketika etnis lokal Serbia memboikot pemilu di Kosovo utara, menyusul protes menentang pemilihan walikota etnis Albania. Hingga kini Albania menjadi etnis terbesar di Kosovo, menyusul Serbia, di mana setengahnya tinggal di bagian utara negara itu.
Di tengah kerusuhan terkait pemilu, pasukan penjaga perdamaian NATO dikerahkan, termasuk sekelompok bala bantuan tambahan dari Turki.
Minggu lalu telah terjadi “pengerahan militer Serbia dalam jumlah besar di sepanjang perbatasan dengan Kosovo,” menurut Dewan Keamanan Nasional AS, yang juru bicaranya menyebut pengerahan tersebut sebagai “perkembangan yang sangat mengganggu stabilitas.”
Pada Sabtu, Kosovo meminta Serbia untuk menarik mundur tentaranya. Serbia menyangkal terlibat dalam peningkatan militer di sepanjang perbatasan dengan Kosovo.
"Sebuah kampanye kebohongan telah diluncurkan terhadap kami, Serbia. Mereka telah berbohong mengenai kehadiran pasukan militer kami faktanya, mereka merasa terganggu karena Serbia memiliki apa yang mereka gambarkan sebagai senjata canggih,” ujar Presiden Serbia Aleksander Vucic.
Kosovo menyatakan, kemerdekaannya dari Serbia pada 2008 dan memperoleh pengakuan dari banyak negara, termasuk Turki. Namun Serbia tidak pernah mengakui Kosovo dan menyatakan wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Serbia.
Baca Juga:
1 Juta Warga Tinggalkan Sudan Akibat Perang Antara Militer dan RSF
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
SBY Cemas dan Khawatir Kondisi Geopolitik Picu Perang Dunia III
Israel Belum Siap Serangan Balasan, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Trump Tebar Lagi Ancaman, Siap Serang Iran
Kemenlu Tengah Berupaya Keluarkan WNI dari Yaman, Wilayah Udara Masih Ditutup
Menlu: AS Ingin Beli Greenland Bukan Menginvasi
Seruan Indonesia Untuk Redakan Konflik Thailand dan Kamboja, Desak Saling Tahan Diri
Israel Lakukan 813 Kali Pelanggaran Gencatan Senjata di Gaza, Akses Bantuan Masih Dihambat
Konflik Kamboja dan Thailand Bikin Sekolah Tutup, Ratusan Warga Mengungsi
Trump Klaim Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza Bakal Didukung Banyak Negara
Kapal Perang USS Cincinnati-20 dan Drone AS Merapat ke Batam