Sengketa Kepulauan Spratly Memanas, Patroli Filipina Usir 4 Kapal China

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Senin, 04 Mei 2026
Sengketa Kepulauan Spratly Memanas, Patroli Filipina Usir 4 Kapal China

Ilustrasi Laut China Selatan. (Foto: google map)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Penjaga Pantai Filipina mengumumkan telah mengusir empat kapal penelitian China yang dituding melakukan aktivitas tanpa izin di perairan sekitar Kepulauan Spratly.

Aksi pengusiran dilakukan setelah radar patroli penjaga pantai Filipina mendeteksi kapal-kapal China tengah melakukan penelitian ilmiah kelautan yang dianggap ilegal.

“Kami tidak akan mentolerir penelitian ilmiah kelautan ilegal apa pun yang dilakukan tanpa persetujuan pemerintah kami,” kata Komandan Penjaga Pantai Filipina, Laksamana Ronnie Gil Gavan, dikutip kantor berita Anadolu, Senin (4/5).

Baca juga:

China Tahan Kapal Milik Filipina, Bakal Bangun Cagar Alam 3.500 Hektare di Laut China Selatan

Kedaulatan dan Hak Ekonomi Maritim

Filipina menekankan tindakan pengusiran bukan hanya untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga melindungi hak ekonomi eksklusif sesuai hukum internasional.

“Kami mengerahkan pesawat dan kapal untuk menantang dan mengusir kapal-kapal tidak berizin ini,” imbuh Gavan, dilansir Antara.

Dalam aksi pengusiran itu, Filipina mengerahkan pesawat dan kapal untuk menantang serta mengusir kapal-kapal China. Kantor berita resmi China, Xinhua, membenarkan adanya insiden antara dengan Filipina di area tersebut.

Baca juga:

ASEAN Tengah Bahas Kode Etik Luat China Selatan, Tekan Konflik Regional

Tudingan Balik Beijing

Namun, Beijing menyatakan lima awak kapal Filipina disebut “secara ilegal mendarat” di Tiexian Jiao, bagian dari Nansha Qundao yang diklaim sebagai wilayah China.

Aparat penegak hukum China juga mengklaim telah menangani insiden sesuai hukum dan secara efektif melindungi kedaulatan teritorial serta hak maritim negara mereka.

Baca juga:

Peneliti Temukan Spesies Baru Ikan Siprinid di China Selatan

Sengketa Panas Kepulauan Spratly

Untuk diketahui, Pemerintah China menyebut Kepulauan Spratly sebagai Nansha Qundao, sementara Filipina menegaskan wilayah tersebut berada dalam zona kedaulatan mereka.

Kepulauan Spratly merupakan salah satu titik panas sengketa maritim di kawasan Asia Tenggara. Selain Filipina dan China, beberapa negara lain seperti Vietnam, Malaysia, dan Brunei juga memiliki klaim atas wilayah yang sama. (*)

#China #Filipina #Laut China Selatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
China dan Indonesia Bakal Lakukan Kerja Sama Keamanan Maritim
Pada 21 Agustus 2026 lalu, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menhan China Laksamana Dong Jun bertemu di Jakarta dalam Mekanisme Dialog 2+2 antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan Indonesia dan China.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
China dan Indonesia Bakal Lakukan Kerja Sama Keamanan Maritim
Dunia
Baru Jabatan Maret 2023, Jenderal Orang Kedua Setelah Xi Jinping dan Kepala Staf Gabungan Dipecat Karena Korupsi
Zhang menjabat sebagai orang kedua setelah Presiden Xi Jinping dengan posisi wakil ketua Komisi Militer Pusat (CMC)
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Baru Jabatan Maret 2023, Jenderal Orang Kedua Setelah Xi Jinping dan Kepala Staf Gabungan Dipecat Karena Korupsi
Dunia
Penembakan Sekolah Kembali Terjadi di Filipina, 3 Siswa Tewas
Penembakan terjadi di sebuah sekolah menengah di South Cotabato, Filipina selatan.
Yusuf Abdillah - Jumat, 18 September 2026
Penembakan Sekolah Kembali Terjadi di Filipina, 3 Siswa Tewas
Dunia
Kebakaran Kapal Feri di Filipina, 5 Tewas dan 87 Orang Hilang
Gambar dari lokasi kejadian menunjukkan kapal terbakar di lautan.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
 Kebakaran Kapal Feri di Filipina, 5 Tewas dan 87 Orang Hilang
Dunia
Korupsi Rp 388 Miliar! China Hukum Mati Mantan Gubernur Provinsi Shanxi Jin Xiangjun
Di China hukuman mati yang ditangguhkan biasanya diubah menjadi penjara seumur hidup jika tidak ada kejahatan baru yang dilakukan selama masa percobaan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 09 September 2026
Korupsi Rp 388 Miliar! China Hukum Mati Mantan Gubernur Provinsi Shanxi Jin Xiangjun
Dunia
Pengadilan Keluarkan Perintah Penangkapan Wakil Presiden Filipina, Hadapi 3 Dakwaan
Duterte, 48 tahun, menjadi wakil presiden ke-15 dan termuda di negara Asia Tenggara saat terpilih mendampingi Marcos pada 2022 untuk masa jabatan tetap enam tahun.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 04 September 2026
Pengadilan Keluarkan Perintah Penangkapan Wakil Presiden Filipina, Hadapi 3 Dakwaan
Indonesia
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal
Jumlah orang yang hilang setelah bencana longsor lumpur di dekat perlintasan perbatasan Gyirong (Jilong) antara China dan Nepal bertambah menjadi 558 orang
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 27 Agustus 2026
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal
Kuliner
Skandal Sawi Putih Berformaldehida di China Picu Kewaspadaan Korea Selatan, Parno Kimchi Beracun
Kasus ini mendorong Korea Selatan memperketat pemeriksaan terhadap impor sawi putih dari China.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Skandal Sawi Putih Berformaldehida di China Picu Kewaspadaan Korea Selatan, Parno Kimchi Beracun
Kuliner
Produk Sawi Putihnya Dikabarkan Diawetkan dengan Formaldehida, China Gerak Cepat Gelar Penyelidikan
Video terverifikasi memperlihatkan sejumlah orang mencelupkan kubis ke dalam larutan sebelum memasukkannya ke truk untuk diangkut.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Produk Sawi Putihnya Dikabarkan Diawetkan dengan Formaldehida, China Gerak Cepat Gelar Penyelidikan
Indonesia
Rusia Buka Peluang Pertemuan Putin dan Trump Saat KTT APEC di China
November merupakan waktu di mana para pemimpin dunia mengikuti KTT Organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Shenzhen, China.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Rusia Buka Peluang Pertemuan Putin dan Trump Saat KTT APEC di China
Bagikan