Sempat Ditolak Vatikan, Gereja Ganjuran Jadi Khas Jawa Tahun 2009
Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. (MP/Fredy Wansyah)
MerahPutih Tradisi - Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran atau biasa disebut Gereja Ganjuran menjadi ikon perpaduan gereja dengan budaya Jawa di Yogyakarta. Suasana persawahan dan pemandangan nan hijau di sekitarnya membuat gereja ini pun ramai dikunjungi mereka yang ingin memanjatkan doa.
Awal mula berdirinya berkat kepiawaian Smutzer bersaudara, yakni Joseph, Julius. Smutzer dikenal sebagai pengusaha yang datang dari Belanda. Pada tahun 1912, Smutzer membeli pabrik gula di kawasan Ganjuran, Bantul, DI Yogyakarta.
"Di sanalah mulanya Smutzer mengajarkan ajaran gereja ke pekerja. Ajarannya disebut lerum nevorum. Ini ajaran sosial Vatikan, yang menekankan pekerjanya sebagai mitra, bukan cuma pekerja yang dieksploitasi," kata Eko, 32, pengurus Tim Pelayanan Tempat Sejarah Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, saat ditemui merahputih.com, baru-baru ini.
Pada saat itu, Smutzer telah memiliki keinginan membangun sebuah gereja khas budaya Jawa. Namun, menurut Eko, keinginan tersebut tidak mendapat izin dari Vatikan. Meski begitu, Smutzer tetap membangun gereja dengan corak asli dari Eropa, tanpa perpaduan Jawa.
"Setelah 1912 itu, keluarga Smutzer bangun sekolah di sekitar pabrik. Bangun klinik juga, sekarang jadi RS Elizabeth. Di kota ada dibangun RS Panti Rapih. Barulah tahun 1924 dibangun gereja, khas Eropa, belum khas Jawa," paparnya.
Pembangunan gereja diarsiteki oleh JYH Van Oyen. Pembangunan didasarkan pada semangat nilai-nilai sosial gereja. Dengan tonggak sekolah dan klinik, gereja mendapat dukungan penuh dari umatnya.
Namun, keberadaan gereja berubah total saat gempa Yogyakarta 2006. "Tahun 2006 gempa, roboh. Terus dibangunlah gereja yang seperti sekarang ini, yang menyatu dengan budaya lokal. Konsepnya joglo. Diresmikan tahun 2009," paparnya.
Gereja Ganjuran lainnya bisa dibaca di sini Gereja Ganjuran, Wisata Rohani Katolik di Bantul
Bagikan
Berita Terkait
Khidmat Umat Kristiani Ibadah Malam Natal 2025 di GPIB Immanuel Jakarta
Papan Nama Gereja Katolik Santo Joannes Baptista Parung Diresmikan, Romo Paroki: Komitmen Hidup Berdampingan dan Toleransi Beragama yang Baik
Kemenag Pasang Papan Nama Gereja Katolik Santo Joannes Baptista Parung, Bukti Negara Hadir untuk Umat Nasrani
'Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga' Jadi Tema Natal 2025 Gereja Katolik, Refleksi di Tengah Tekanan Sosial dan Ekonomi
Paus Leo XIV Tahbiskan Carlo Acutis sebagai Santo, ‘Influencer Tuhan’ Panutan Anak Muda Zaman Ini
Menag dan Ketua DMI Hadiri Peresmian Masjid Raya Baitul Mukhtar BSD City
Natalius Pigai Siapkan UU Baru Pasca Insiden Perusakan Rumah Ibadah Kristen di Padang
[HOAKS atau FAKTA]: Australia Berikan Dana Khusus untuk Umat Kristen dan Gereja di Indonesia
Israel Hancurkan Gereja Katolik di Gaza, Paus Leo XIV Tegur Netanyahu
Kemenlu Kecam Serangan Israel ke Gereja Katolik Palestina, Merusak Nilai Kemanusiaan dan Kesucian