Sarang Tawon Radioaktif Ditemukan di Situs Bekas Pembuatan Bom Nuklir, Pengelola Malah Nyatakan itu tak Berbahaya
Pekerja temukan sarang tawon dengan radiasi radioaktif.(foto:pexels-umsiedlungen)
MERAHPUTIH.COM — SARANG tawon biasa saja sudah cukup menakutkan. Bayangkan sarang tawon yang bersifat radioaktif. Kekhawatiran langsung memuncak saat para pekerja di sebuah lokasi di South Carolina menemukan sarang tawon bersifat radioaktif tersebut. Pasalnya, lokasi penemuan itu dulunya membuat komponen penting untuk bom nuklir di Amerika Serikat.
Seperti dilansir CNN, para karyawan yang secara rutin memeriksa tingkat radiasi di Savannah River Site dekat Aiken menemukan sarang tawon tersebut pada 3 Juli, di tiang dekat tangki tempat limbah nuklir cair disimpan. Demikian laporan dari Departemen Energi AS.
Sarang tersebut dikatakan memiliki tingkat radiasi 10 kali lebih tinggi daripada batas yang diizinkan peraturan federal. Para pekerja menyemprotkan pembasmi serangga ke sarang tersebut, lalu mengangkat dan membuangnya sebagai limbah radioaktif. “Tidak ditemukan adanya tawon,” ujar mereka.
Laporan tersebut menyatakan tidak ada kebocoran dari tangki limbah, dan amat mungkin sarang itu menjadi radioaktif karena apa yang disebut sebagai kontaminasi radioaktif warisan di lokasi. Itu berarti sisa radioaktivitas dari masa ketika lokasi itu masih beroperasi penuh.
Kelompok pengawas Savannah River Site Watch menyatakan laporan itu tidak lengkap karena tidak merinci dari mana asal kontaminasi, bagaimana tawon bisa terpapar, serta kemungkinan adanya sarang radioaktif lain jika memang terdapat kebocoran di suatu tempat.
Baca juga:
“Mengetahui jenis sarang tawon juga bisa sangat penting. Beberapa tawon membuat sarang dari tanah dan yang lain menggunakan bahan berbeda. Itu bisa membantu melacak sumber kontaminasi,” kata Tom Clements, direktur eksekutif kelompok itu.
“Saya marah seperti tawon karena SRS tidak menjelaskan dari mana asal limbah radioaktif itu atau apakah ada semacam kebocoran dari tangki limbah yang perlu diketahui publik,” ujar Clements.
Savannah River Mission Completion, pihak yang kini mengelola situs tersebut, mengatakan area tangki berada jauh di dalam batas wilayah situs, tapi tawon umumnya hanya terbang beberapa ratus meter dari sarangnya, sehingga tidak ada bahaya bahwa mereka berada di luar fasilitas. Jika ada tawon yang ditemukan, tingkat radiasinya akan jauh lebih rendah daripada sarangnya.
Situs tersebut dibuka pada awal 1950-an untuk memproduksi pit plutonium yang dibutuhkan sebagai inti bom nuklir selama awal Perang Dingin dengan Uni Soviet. Situs itu kini telah beralih fungsi menjadi tempat pembuatan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir dan kegiatan pembersihan.
Situs tersebut telah menghasilkan lebih dari 625 juta liter limbah nuklir cair, yang melalui proses penguapan telah dikurangi menjadi sekitar 129 juta liter.
Masih ada 43 tangki bawah tanah yang digunakan, sedangkan delapan lainnya telah ditutup.(dwi)
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
Pemerintahan Donald Trump akan Bubarkan NCAR, Sebut Pebuhan Iklim hanya Tipuan
Trump Tetapkan Rezim Venezuela Sebagai Organisasi Teroris Asing
Presiden Trump Larang Warga 8 Negara Masuk AS, Termasuk Laos dan Palestina
Indonesia Pastikan Impor Minyak dari Amerika Serikat
Satpam di Cikande Jadi Aktor Intelektual Pencurian Limbah Radioaktif Cesium-137
Setelah Maduro, Donald Trump Incar Gulingkan Presiden Kolombia Gustavo Petro
Makin Panas, AS Sita Kapal Tanker Minyak di Pesisir Venezuela
Indonesia Tepis Kabar Perundingan Tarif dengan AS Terancam Batal, Sebut Cuma Dinamika
Warga Asal Negara Dengan Pemerintahan Tidak Stabil Bakal Sulit Masuk AS