MerahPutih.Com - Rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Iran mendapat penolakan keras dari Rusia. Pemerintah Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan Moskow tidak akan mendukung upaya Washington menekan Iran melalui kesepaktan nuklir.
Pernyataan Sergei Lavrov yang disampaikan Senin (15/1) itu sebagai tanggapan atas kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan sanksi nuklir terhadap Iran. Washington bersama sekutu Eropa-nya berencana akan memberikan sanksi terakhir bagi Iran lantaran tidak menjalankan kesepakatan nuklir sebagaimana mestinya.
Rusia menilai sepak terjang nuklir Iran semenjak kesepakatan tahun 2015 bukanlah suatu ‘kekurangan yang mengerikan’ seperti yang dituduhkan Amerika Serikat dan para sekutunya.
"Kami tidak akan mendukung apa yang Amerika Serikat coba lakukan, mengubah kata-kata kesepakatan tersebut, memasukkan hal-hal yang sama sekali tidak dapat diterima untuk Iran," Lavrov mengatakan pada sebuah konferensi pers di Moskow.
Pejabat diplomat senior Rusia menekankan bahwa Rusia akan bekerjasama menjaga kesepakatan nukliri Iran dan juga memperingatkan sejumlah pihak yang kontra bahwa kegagalan atas kesepakatan tersebut dapat berdampak pada dialog dengna Korea Utara.
"Jika kesepakatan itu dikesampingkan dan Iran diberi tahu, 'Anda telah memenuhi kewajiban Anda atau kami akan menjatuhkan sanksi lagi', maka Anda harus memperhitungkan Korea Utara," kata Lavrov sebagaimana dikutip Antara dari Reuters.
Menlu Rusia Sergei Lavrov melanjutkan, jika sanksi terhadap Iran tidak dicabut maka program nuklir bisa tetap berjalan tanpa kesepakatan yang mengikat.
"Mereka dijanjikan bahwa sanksi akan dicabut jika mereka melepaskan program nuklirnya, mereka akan menghentikannya, tapi tidak ada yang akan mencabut sanksi pada Pyongyang, “ tandas Lavrov.
Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump didesak sejumlah petinggi kabinetnya untuk tidak kembali menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran.
Jika Trump melakukannya, maka kesepakatan internasional, yang ditandatangani untuk membatasi pengembangan nuklir Iran pada 2015, akan berakhir.
Pekan lalu, dua sumber pemerintahan mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah pejabat setingkat menteri koordinator mendesak presiden itu agar tidak menjatuhkan kembali sanksi, yang dicabut seusai penandatanganan kesepakatan nuklir.
Namun, Trump menyatakan keberatan untuk menjalankan saran itu, kata sumber.
Presiden Amerika Serikat diwajibkan memeriksa secara berkala kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir dan kemudian memutuskan apakah sanksi terhadap Teheran diberlakukan kembali atau tidak.
Meskipun Trump memutuskan bahwa Iran patuh terhadap kesepakatan 2015, pemerintahannya akan tetap menjatuhkan sanksi baru dengan target sejumlah tokoh dan perusahaan negara itu.(*)