Headline

Rusia Tolak Sanksi Amerika Serikat Terhadap Iran Terkait Kesepakatan Nuklir

Eddy FloEddy Flo - Senin, 15 Januari 2018
Rusia Tolak Sanksi Amerika Serikat Terhadap Iran Terkait Kesepakatan Nuklir

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson berada bersama rekannya Menlu Rusia Sergei Lavrov (kanan) saat bertemu, di Moskow, Rusia (ANTARA FOTO/REUTERS/Stefan Rousseau/Pool)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Iran mendapat penolakan keras dari Rusia. Pemerintah Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan Moskow tidak akan mendukung upaya Washington menekan Iran melalui kesepaktan nuklir.

Pernyataan Sergei Lavrov yang disampaikan Senin (15/1) itu sebagai tanggapan atas kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan sanksi nuklir terhadap Iran. Washington bersama sekutu Eropa-nya berencana akan memberikan sanksi terakhir bagi Iran lantaran tidak menjalankan kesepakatan nuklir sebagaimana mestinya.

Rusia menilai sepak terjang nuklir Iran semenjak kesepakatan tahun 2015 bukanlah suatu ‘kekurangan yang mengerikan’ seperti yang dituduhkan Amerika Serikat dan para sekutunya.

"Kami tidak akan mendukung apa yang Amerika Serikat coba lakukan, mengubah kata-kata kesepakatan tersebut, memasukkan hal-hal yang sama sekali tidak dapat diterima untuk Iran," Lavrov mengatakan pada sebuah konferensi pers di Moskow.

Pejabat diplomat senior Rusia menekankan bahwa Rusia akan bekerjasama menjaga kesepakatan nukliri Iran dan juga memperingatkan sejumlah pihak yang kontra bahwa kegagalan atas kesepakatan tersebut dapat berdampak pada dialog dengna Korea Utara.

"Jika kesepakatan itu dikesampingkan dan Iran diberi tahu, 'Anda telah memenuhi kewajiban Anda atau kami akan menjatuhkan sanksi lagi', maka Anda harus memperhitungkan Korea Utara," kata Lavrov sebagaimana dikutip Antara dari Reuters.

Menlu Rusia Sergei Lavrov melanjutkan, jika sanksi terhadap Iran tidak dicabut maka program nuklir bisa tetap berjalan tanpa kesepakatan yang mengikat.

"Mereka dijanjikan bahwa sanksi akan dicabut jika mereka melepaskan program nuklirnya, mereka akan menghentikannya, tapi tidak ada yang akan mencabut sanksi pada Pyongyang, “ tandas Lavrov.

Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump didesak sejumlah petinggi kabinetnya untuk tidak kembali menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran.

Jika Trump melakukannya, maka kesepakatan internasional, yang ditandatangani untuk membatasi pengembangan nuklir Iran pada 2015, akan berakhir.

Pekan lalu, dua sumber pemerintahan mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah pejabat setingkat menteri koordinator mendesak presiden itu agar tidak menjatuhkan kembali sanksi, yang dicabut seusai penandatanganan kesepakatan nuklir.

Namun, Trump menyatakan keberatan untuk menjalankan saran itu, kata sumber.

Presiden Amerika Serikat diwajibkan memeriksa secara berkala kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir dan kemudian memutuskan apakah sanksi terhadap Teheran diberlakukan kembali atau tidak.

Meskipun Trump memutuskan bahwa Iran patuh terhadap kesepakatan 2015, pemerintahannya akan tetap menjatuhkan sanksi baru dengan target sejumlah tokoh dan perusahaan negara itu.(*)

#Nuklir Iran #Rusia #Amerika Serikat #Donald Trump
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Insiden Rollercoaster di Amerika Serikat, 1 Orang Tewas
Saksi mata memberi tahu media lokal bahwa mereka melihat seorang pria terlempar dari wahana tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
Insiden Rollercoaster di Amerika Serikat, 1 Orang Tewas
Dunia
USS Abraham Lincoln Tiba di San Diego, ABK Stres 265 Hari Satroni Iran Pulang Tanpa Kemenangan
Isak tangis haru berbaur rasa trauma membuncah di San Diego Bay, California, saat kapal induk raksasa Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, akhirnya resmi berlabuh
Wisnu Cipto - Sabtu, 10 Oktober 2026
USS Abraham Lincoln Tiba di San Diego, ABK Stres 265 Hari Satroni Iran Pulang Tanpa Kemenangan
Dunia
Eksekusi Tembak Mati Tentara AS Pembunuh 13 Rekannya Bakal di Siarkan Langsung
Nidal Malik Hasan divonis bersalah karena telah membunuh 13 rekannya sesama tentara AS di sebuah pangkalan militer di Texas pada 2009.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
Eksekusi Tembak Mati Tentara AS Pembunuh 13 Rekannya Bakal di Siarkan Langsung
Indonesia
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
"Mereka juga telah melakukan PHK terhadap 6.000 pekerja Amerika dan menggantinya dengan 6.300 pekerja pemegang visa H-1B," kata Vance.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
Dunia
Jangan Liburan ke New York Dulu, Gubernur Terbitkan Dekrit Darurat Campak Hingga 4 November
Gubernur New York Kathy Hochul resmi menetapkan status darurat bencana akibat ledakan wabah campak hingga 4 November 2026. Simak peringatan penting ini!
Wisnu Cipto - Selasa, 06 Oktober 2026
Jangan Liburan ke New York Dulu, Gubernur Terbitkan Dekrit Darurat Campak Hingga 4 November
Dunia
Donald Trump: Biarkan Iran Hancurkan Los Angeles dan San Diego
Donald Trump menyinggung kemungkinan Iran melancarkan serangan terhadap kota di AS.
Yusuf Abdillah - Selasa, 06 Oktober 2026
Donald Trump: Biarkan Iran Hancurkan Los Angeles dan San Diego
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Dunia
Rektor Cornell University Tegaskan Kampus Harus Berbenah setelah Kasus Pemerkosaan
Rektor Cornell University menggambarkan dugaan yang disampaikan perempuan tersebut, yang diidentifikasi sebagai Jane Doe, sebagai hal yang ‘sangat meresahkan’.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Rektor Cornell University Tegaskan Kampus Harus Berbenah setelah Kasus Pemerkosaan
Dunia
Kasus Pemerkosaan Cornell University, Rektor Dukung Pemeriksaan Eksternal
Korban mengklaim ia dicekoki ketamin, dianiaya, dan diperkosa tujuh anggota fraternity Chi Phi.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kasus Pemerkosaan Cornell University, Rektor Dukung Pemeriksaan Eksternal
Dunia
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Seorang pekerja laboratorium di Rusia meninggal dunia. Ia diduga terinfeksi virus Pes. Namun, penyebabnya masih misterius.
Soffi Amira - Senin, 05 Oktober 2026
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Bagikan