MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (30/4) pagi, melemah 23 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 17.349 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.326 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan, pelemahan rupiah dipicu peningkatan permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
"Dari sisi global, rupiah tertekan oleh stabilnya indeks dolar AS di level tinggi (sekitar 98,6) serta meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah," katanya dikutip Antara.
Kekhawatiran terhadap inflasi global akibat kenaikan harga energi turut memperkuat dolar AS, dan mendorong arus modal keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Baca juga:
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama semakin membatasi ruang penguatan rupiah.
Bahwa isu pergantian Ketua Federal Reserve menjadi sumber ketidakpastian tambahan.
“Jika pengganti Jerome Powell cenderung lebih hawkish, pasar akan mengantisipasi suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Sebaliknya, jika arah kebijakan lebih dovish, hal ini dapat membuka ruang stabilisasi atau penguatan rupiah,” ujarnya.

