Risiko Kebutaan pada Pasien Diabetes
Kadar gula yang tinggi menyebabkan terjadi pembengkaan dan penebalan di retina. (Foto: freepik/user18526052)
INDONESIA menempati peringkat ke-5 sebagai penderita diabetes terbanyak di dunia. Terdapat 28,6 juta jiwa yang mengalaminya. Mereka juga berisiko mengalami penurunan kualitas kesehatan karena mengidap diabetes.
Pasien diabetes melitus misalnya, mempunyai risiko komplikasi yang menyerang organ tubuh, salah satunya mata. Jika tidak ditangani, mereka berpotensi mengalami gangguan penglihatan, bahkan kebutaan.
Baca Juga:
"43 persen pasien diabetes ini memiliki risiko untuk menderita diabetik retinopati dan 26 persen di antaranya juga memiliki risiko kehilangan penglihatan," ungkap dr. Gitalisa Andayani, dokter spesialis mata konsultan, dalam webinar World Sight Day 2022 , Selasa (11/10).
Gangguan penglihatan disebabkan diabetes juga dikenal dengan sebutan Retino Diabetik. Gangguan ini terjadi karena tingginya kadar gula dalam darah yang akan merusak pembuluh darah, sehingga menyebabkan pembengkakan dan penebalan retina.
Bila pembengkakan sudah terjadi di bagian Makula, yang merupakan titik pusat penglihatan, maka orang tersebut memungkinkan untuk mengalami kebutaan atau dikenal dengan DME (Diabetik Makula Edema).
DME berisiko dialami para penderita diabetes tipe 1 dan 2. Selain itu, DME juga kerap terjadi pada orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun, sehingga mampu menghilangkan produktivitas dan pendapatan. Pasien juga bisa mengalami kecemasan dan depresi karena terbebani dengan kondisi mereka.
Baca Juga:
Waspada Diabetes dan Dislipidemia, Penyebab Kematian Terbesar di Indonesia
"Oleh sebab itu, dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia, kami memandang perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terkait risiko kehilangan penglihatan pada pasien DME," ungkap dr. Dewi Muliatin Santoso yang juga hadir pada kesempatan tersebut.
Ciri-ciri pengidap DME ialah penglihatan kurang fokus, penglihatan tampak berkabut, garis lurus terlihat bengkok atau bergelombang, dan bintik-bintik hitam berada di lapang pandang. "Ini semua bisa mengarah ke kebutaan dan bisa dihindari kalau kita melakukan deteksi dini dan pengobatan dini,” ungkap Gitalisa.
Towfiqu barbhuiya)
Gangguan penglihatan ini terjadi karena dua faktor, yakni konsisten dan non konsisten. Faktor konsisten seperti lamanya menderita diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, kehamilan dan penyakit ginjal. Sedangkan untuk faktor non konsisten diakibatkan oleh obesitas, merokok, konsumsi alkohol, hingga usia.
Langkah utama untuk mencegah penyakit retinopati dan DME karena diabetes ialah mengurangi makanan mengandung gula berlebih. Namun, bila sudah mengidap penyakit ini, sebaiknya kamu rutin memeriksa kadar gula darah, lemak darah dan tekanan darah. Selain itu, jangan lupa untuk mengonsumsi obat-obatan rekomendasi dokter. (nbl)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah