MerahPutih.com - Mahasiswa Program Studi Bisnis Kreatif Vokasi Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Rekat, sebuah bra inklusif yang dirancang untuk mempermudah proses berpakaian bagi perempuan dengan keterbatasan motorik, lansia, maupun penyandang disabilitas.
Baca juga:
Patricia Revi De Mila, salah satu anggota tim pengembang, menjelaskan motivasi di balik proyek ini. Menurutnya, Rekat hadir tanpa mengorbankan kenyamanan dan estetika, sekaligus membuka jalan bagi fesyen yang lebih ramah aksesibilitas.
Aktivitas berpakaian merupakan rutinitas dasar harian yang sering kali menjadi tantangan besar bagi perempuan dengan keterbatasan fisik, bahkan memengaruhi kemandirian serta rasa percaya diri mereka,
Patricia Revi De Mila, mahasiswa UI.
Dalam keterangan kepada media, dikutip Kamis (9/7), Total ada lima mahasiswa UI yang terlibat dalam pengembangan bra Rekat. Dilansir Antara, kelima mahasiswa itu Patricia Revi De Mila, Quency Nova Mardira, Aulia Attaya, Nayang Nurizah, dan Annas Tasya.
Baca juga:
Teknologi dan Kelebihan Bra Rekat
Proyek bra Rekat ini lahir dari mata kuliah Pengembangan Produk yang menuntut mahasiswa mengidentifikasi masalah riil di masyarakat, merancang solusi, hingga menghasilkan prototipe fungsional.
Teknologi bra Rekat menggunakan pendekatan user-centered design dengan struktur bra tanpa kawat (wireless bra) yang dilengkapi sistem front magnetic interlock.
Baca juga:
Mekanisme pengait magnet di bagian depan memungkinkan pengguna mengenakan dan melepas pakaian dengan gerakan sederhana, berbeda dari pengait konvensional di bagian belakang.
Proses pengembangan Rekat sendiri memakan waktu tiga bulan, mencakup studi literatur, riset kebutuhan, eksplorasi material, hingga wawancara mendalam dengan calon pengguna.
Inovasi terbaik hadir dari kemampuan memahami kebutuhan pengguna dan menyederhanakan pengalaman mereka. Dari proses ini, kami menyadari bahwa empati merupakan bagian penting dalam menciptakan solusi yang relevan dan berdampak,
Patricia Revi De Mila, mahasiswa UI.
Pasar Besar Fesyen Inklusif di Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, terdapat sekitar 22,97 juta jiwa penyandang disabilitas di Indonesia, setara dengan 8,5 persen dari total penduduk.
Angka ini menunjukan besarnya pasar produk fesyen inklusif, terutama pakaian dalam yang selama ini jarang tersentuh inovasi berbasis desain inklusif.
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, menegaskan Rekat adalah manifestasi nyata dari bagaimana sains dan kreativitas di dalam kelas ditransformasikan menjadi aksi sosial.
Baca juga:
Jangan Salah Pilih Pakaian Dalam Demi Kesehatan Jangka Panjang
Menurutnya, Rekat berpotensi menjadi model inovasi fesyen inklusif di Indonesia, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya produk kreatif lain yang ramah disabilitas dan berkeadilan sosial.
“Rekat menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat,” tandas Dr Safrin. (*)

