Reformasi Polri dan Primitifnya Pikiran Polisi Pemegang Senjata

Zulfikar SyZulfikar Sy - Jumat, 28 April 2017
Reformasi Polri dan Primitifnya Pikiran Polisi Pemegang Senjata

Raker Kapolri dengan Komisi III DPR RI. (MP / Derry Ridwansah)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menilai kasus penembakan oleh anggota polri terhadap masyarakat sipil di Lubuk Linggau dan Bengkulu disebabkan kurangnya sosialiasi dari pimpinan kewilayahaan mengenai Peraturan Kapolri (Perkap) nomor 8 tahun 2009.
Padahal, dalam Perkap tentang implementasi prinsip dan standar Hak Asasi Manusia (HAM) dalam penyelengaraan tugas Polri jelas diatur bahwa setiap anggota Polri wajib untuk menghormati, melindungi dan menegakkan Hak Asasi Manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
"Masalahnya adalah banyak anggota belum tahu aturan itu," ujar Komisioner Kompolnas, Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto dalam sebuah diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/4).
Masalah lain adalah masih primitifnya pemikiran tiap anggota Polri yang diberikan kewenangan memegang senjata, khususnya di daerah, mengenai prosedur penggunaan senjata api dalam situasi-situasi tertentu.
Contoh, masih ada anggota Polri pemegang senjata yang masih percaya bahwa dalam menghadapi situasi tertentu, yang mengharuskan senjata api digunakan, harus memberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali ke udara.
"Aturan itu tidak ada. Harus mengacu Perkap nomor 8 Tahun 2009, itu sangat detail, jelas," ungkap Bekto.
Masalah lainnya adalah minimnya kemahiran seorang anggota Polri dalam penggunaan senjata api lantaran jarang diberikannya porsi latihan. Dalam investigasinya ke Lubuk Linggau, Kompolnas menemukan fakta bahwa Brigadir K, pelaku penembakan terakhir kali latihan menembak pada tahun 2008. Itu pun latihan semasa Brigadir K masih menjalani pendidikan kepolisian.
"Ini jadi masalah. Ketika kami ke Polres lain juga alami hal sama," ungkap Bekto.
Harusnya, anggota pemegang senjata tiap 3 bulan menjalani latihan kemahiran menembak. Tak sekedar latihan menembak, anggota Polri, pemegang senjata wajib diberikan porsi latihan mengenal situasi kapan harus memberikan peringatan hingga keputusan menembak.
"Pengawasan internal kita dorong untuk evaluasi ini. Agar masyarakat tidak bertanya-tanya 'kok gampang sekali menembak'," ucap Bekto.
Kepala Biro Pengamanan Internal (Karo Paminal) Divpropam Polri, Brigjen Baharudin Djafar mengakui tidak adanya sosialisasi mengenai Perkap Nomor 8 Tahun 2009. Untuk itu, Mabes Polri telah membentuk tim untuk datang ke wilayah-wilayah mensosialisasikan seluruh Perkap mulai dari 2005 hingga 2017, termasuk Perkap Nomor 8 Tahun 2009.
Sehingga, kasus di Lubuk Linggau, menurutnya adalah tidak dapatnya anggota polri pemegang senjata memahami Pasal 5 ayat (1) Perkap No 1 Tahun 2009 mengenai enam tahapan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian.
"Masuk sebagai anggota Polri harus segera cari aturan. Dia harus cari dong 'saya harus berbuat apa, tidak boleh berbuat apa'. kalau dia pandai harus lewati 5 tahap (sebelum menembak sesuai Perkap No 1/2009)," kata Baharudin.
Faktor ketidaktersediaan amunisi di tingkatan Polres yang menyebabkan tidak rutinnya latihan penggunaan senjata api juga ditemukan. "Kondisi itu ada di lapangan," ucap Baharudin.
Mabes Polri meminta tiap kepala kepolisian wilayah untuk bisa berkoordinasi jika ditemukan adanya kekosongan Pamunisi untuk latihan. "Harus diingatkan latihan 6 bulan sekali. Kalau ada keberatan bisa diajukan ke Mabes Polri,"
Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel mengapresiasi langkah Mabes Polri yang mengakui kurangnya sosialisasi yang mengakibatkan penembakan Brigadir K terhadap satu keluarga di Lubu linggau.
Kasus ini, bisa jadi pintu masuk bagi Polri melakukan reformasi tidak hanya per anggota, namun secara keorganisasian secara utuh.
"Pembenahan secara individu harus, tapi tidak cukup. Pasti ada yang dibenahi di level organisasi," kata Reza.
Ketika kasus ini jadi sorotan publik, maka sudah semestinya Mabes Polri tidak hanya berkutak pada si oknum belaka. Walau kasus itu dilakukan secara individiu tapi organisasi secara umum tak bisa dilepaskan. "Organisasi tak bisa lepas tangan. Harus ada tanggung jawab. Kalau dua (secara individu dan organisasi) yang dibenahi, punya harapan besar kejadian ini tidak terulang lagi,"
Menurutnya, secara organisasi, ujung tombak Reformasi Polri ada 3 titik terkuat. yaitu Lembaga Pendidikan (Lemdik), Biro Sumber Daya Manusia (SDM) dan Humas. Ketiganya bisa menginjeksi nilai-nilai kebaikan sebelum reformasi besar-besaran di tubuh Polri.
"Ini bertentangan dengan banyak orang yang Masih ada anggapan polisi prestisnya terletak pada senjata api. Padahal polisi dan militer prestisnya adalah kesantunan dan menjunjung tinggi HAM," pungkas Reza. (Ayp)
#Kasus Penembakan #Polri #HAM
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Polri Kerahkan 300 Personel Brimob dari Kaltim dan Bali ke Kalbar untuk Tangani Karhutla
Polri mengerahkan 300 personel Brimob dari Kaltim dan Bali ke Kalbar untuk memperkuat pencegahan, pemadaman, dan penanganan karhutla.
Ananda Dimas Prasetya - 5 menit lalu
Polri Kerahkan 300 Personel Brimob dari Kaltim dan Bali ke Kalbar untuk Tangani Karhutla
Indonesia
Polri Tetapkan 72 Orang Tersangka Karhutla, Cukong Pendana Pembakaran Belum Terungkap
Sosok cukong pendana pembakaran yang diduga berada di balik layar maraknya kasus kebakaran lahan belum tersentuh.
Wisnu Cipto - Senin, 24 Agustus 2026
Polri Tetapkan 72 Orang Tersangka Karhutla, Cukong Pendana Pembakaran Belum Terungkap
Indonesia
Kemenhaj Serahkan 34 Kasus ke Bareskrim Polri
Kasus tersebut berasal dari penyelenggaraan haji khusus dan umrah.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Kemenhaj Serahkan 34 Kasus ke Bareskrim Polri
Indonesia
Gempa NTT, Pengungsi Hadapi Persoalan Air Bersih hingga Akses Jalan
Kebutuhan air bersih, fasilitas sanitasi, layanan kesehatan, hingga akses jalan menjadi perhatian di sejumlah lokasi pengungsian.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Gempa NTT, Pengungsi Hadapi Persoalan Air Bersih hingga Akses Jalan
Indonesia
Polri Evakuasi Dua Warga Palue Lewat Jalur Udara, Lansia Korban Reruntuhan dan Ibu Hamil di Maumere NTT
Proses evakuasi dilakukan sebagai bentuk respons cepat Polri bersama seluruh unsur terkait.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Polri Evakuasi Dua Warga Palue Lewat Jalur Udara, Lansia Korban Reruntuhan dan Ibu Hamil di Maumere NTT
Indonesia
Hari Keenam Pascagempa NTT, Polri Kerahkan Brimob hingga Starlink untuk Bantu Pengungsi
Memasuki hari keenam gempa NTT, Polri terus melakukan evakuasi, melayani pengungsi, memasang Starlink, dan mengirim 249,2 ton bantuan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 20 Agustus 2026
Hari Keenam Pascagempa NTT, Polri Kerahkan Brimob hingga Starlink untuk Bantu Pengungsi
Indonesia
Polri Kirim 247,66 Ton Bantuan ke NTT, Logistik Terbaru Diangkut Pesawat CN 295
Polri telah mengirim 247,66 ton bantuan logistik untuk korban gempa NTT. Distribusi dilakukan melalui CN 295 dan Helikopter Bell 429.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 20 Agustus 2026
Polri Kirim 247,66 Ton Bantuan ke NTT, Logistik Terbaru Diangkut Pesawat CN 295
Indonesia
Praperadilan Febrie Memanas, Kuasa Hukum Klaim Jawaban Polri Justru Jadi Penguat
Kuasa hukum Febrie Adriansyah menilai jawaban Polri dan Kejagung justru memperkuat gugatan praperadilan, termasuk soal pemeriksaan dan penyitaan.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 19 Agustus 2026
Praperadilan Febrie Memanas, Kuasa Hukum Klaim Jawaban Polri Justru Jadi Penguat
Indonesia
Hebatnya Prestasi Terbaru Polri, Cetak Rekor MURI Tanam Bawang Terluas
Polri raih Rekor MURI penanaman bawang putih serentak di lahan 279,53 hektare. Melibatkan 2.174 petani.
Wisnu Cipto - Rabu, 19 Agustus 2026
Hebatnya Prestasi Terbaru Polri, Cetak Rekor MURI Tanam Bawang Terluas
Indonesia
3.500 Paket Sembako dan 17,5 Ton Beras Dikirim untuk Warga Terdampak Gempa Flores
Polri menyiapkan bantuan untuk warga terdampak gempa di Pulau Flores. Sebanyak 17,5 ton beras, 3.500 paket sembako dan bantuan lainnya dikirim.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 19 Agustus 2026
3.500 Paket Sembako dan 17,5 Ton Beras Dikirim untuk Warga Terdampak Gempa Flores
Bagikan