Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Productive Procrastination, Menunda yang Prioritas sambil Tetap Produktif

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 03 April 2023
Productive Procrastination, Menunda yang Prioritas sambil Tetap Produktif

Productive procrastination dianggap bermanfaat pada momen tertentu. (foto: Pexels.com_Cottonbro Studio)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAKAH kamu acap menunda pekerjaan utama demi mengerjakan hal lain yang bukan prioritas? Jika iya, itu berarti kamu melakukan productive procrastination. Seperti disebut Psychology Today, productive procrastination berarti melakukan hal lain yang bermanfaat sambil menunda pekerjaan prioritas yang penting.

Productive procrastination bisa dianggap bermanfaat dalam beberapa momen. Meski demikian, hal ini bisa menyebabkan berbagai masalah karena meninggalkan pekerjaan prioritas. Productive procrastination dapat membantu orang menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada tidak melakukan apa-apa. Itu berarti ia masih produktif, tapi tak mengutamakan pekerjaan prioritas.

BACA JUGA:

Procrastination, Menunda Pekerjaan yang Bikin Hidup jadi Berat

“Ketika saya menyelesaikan sesuatu, tugas pertama yang saya lakukan ialah mengumpulkan semua materi dan informasi. Setelah itu, saya mengatur ruang untuk membuat waktu khusus agar bisa lebih produktif,” ucap salah seorang pengidap ADHD, Jaden, kepada Psychology Today.

bekerja
Cara bekerja agar tetap produktif, meski menunda agenda prioritas. (foto: Pexels.com_Cottonbro Studio)

Tak hanya itu, seperti dikutip dari Instagram USS Feeds, kamu bisa melakukan hal itu dengan dua cara seperti tetap produktif dan bikin perkembangan. Hal itu menjadi sebuah motivasi agar tugas prioritas menjadi tetap ditangani dengan baik.

Productive procrastination setidaknya menyelesaikan sesuatu yang bermanfaat dan membuat beberapa kemajuan sambil menunda hal lain. Misalnya, pelajar mengerjakan tugas lain walaupun bukan yang segera dikumpulkan. Hal itu masih tergolong produktif daripada menghabiskan waktu untuk bermain media sosial.

Contoh lain productive procrastination yang produktif saat seseorang cenderung menunda tugas yang dianggap tidak menyenangkan. Bisa saja itu mendorong diri untuk menyelesaikan tugas itu pada lain waktu jika memungkinkan.

BACA JUGA:

Mengenal Procrastination, Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Melakukan hal itu pastinya memiliki dampak yang positif, tetapi ada juga dampak negatif yang ditimbulkan. Seperti saat mengerjakan hal lain untuk menghindari tugas yang lebih susah, itu membuat kamu menjadi terlihat lebih rajin dan produktif tanpa disadari. Dengan apa yang kamu sedang lakukan, hal yang menjadi tujuan utama dengan membedakan yang diprioritaskan, direncanakan, dan didelegasikan.

Seperti dikabarkan Psychology Today, mengendalikan productive procrastination tergantung kemauan dari diri dan kemampuan untuk mengutamakan pekerjaan. Orang perlu mengelola kecemasan dan pikiran berlebihan untuk mencermati hal penting agar mampu memilah yang lain.

bekerja
Mempelajari cara berkerja yang disukai untuk menyelesaikan tugas menjadi kunci untuk mengurangi pola menunda pekerjaan.(foto: Pexels.com_Cottonbro Studio)

Mempelajari cara berkerja yang disukai untuk menyelesaikan tugas menjadi kunci untuk mengurangi pola itu. Beberapa orang suka melakukan tugas yang lebih kecil untuk membuka jalan bekerja secara sungguh-sungguh sesudahnya. “Saya juga menyemangati diri sendiri dan mengingatkan bahwa tidak boleh cemas dan harus menyelesaikannya dengan baik,” ujar Kesley, responden untuk Psychology Today.

Oleh karena itu, cobalah merefleksikan kesibukan kamu selama ini. Apakah itu benar-benar prioritas atau justru kamu sedang melakukan productive procrastination.(dkr)

BACA JUGA:

Hobi Menunda Pekerjaan Indikasi Gangguan Mental

#Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Bagikan