MerahPutih.com - Anggota DPR dari Fraksi PKS Netty Prasetiyani Aher menanggapi penilaian media asing terhadap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang tak sigap dalam menangani pandemi COVID-19 yang terus meningkat.
“Saya pikir wajar jika media asing menyoroti Kementerian Kesehatan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas buruknya pengelolaan pandemi di Indonesia,” kata Netty dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu, (24/9).
Baca Juga:
Kemenkes Jadi Penyumbang Klaster COVID-19 Terbanyak di Jakarta
“Bagaimana tidak dianggap gagal jika kurva COVID-19 makin meningkat tajam, angka positif dan kematian makin tinggi, bahkan terus saja mencetak rekor baru. Zona merah makin meluas, sementara nakes dan fasilitas kesehatan makin kedodoran menghadapi pandemi,” sambung dia.
Menurut Netty, media asing berpikir bahwa Menkes Terawan Agus Putranto seharusnya adalah orang kuat di balik penanganan pandemi, memiliki kewenangan dan otoritas besar serta didukung anggaran ratusan trilliun rupiah.
“Jadi ada benarnya jika mereka menimpakan beban kesalahan itu pada Menkes dan Kementerian Kesehatan yang dianggap sebagai leading sector,” ujarnya.
Namun, Netty mempertanyakan, benarkah kegagalan penanganan pandemi sepenuhnya kesalahan Menkes. Pasalnya sejak awal, dia mengaku sudah menyampaikan bahwa penanganan pandemi ini harus berbasis kesehatan sebagai akar masalah.
Oleh karena itu, menurut Ketua Tim COVID-19 Fraksi PKS DPR ini, seharusnya yang diberi kewenangan dan otoritas mengatur adalah Menkes. Lembaga yang menjadi leading sector dan diberi anggaran besar adalah Kementerian Kesehatan.
"Lalu ada dukungan antarlembaga dan Kementerian serta partisipasi masyarakat dengan informasi yang tinggi dalam berkolaborasi melawan pandemi. Dan terakhir, semua elemen itu harus di-orkestrasi dengan benar oleh presiden,” ujarnya.
Ironisnya, kata Netty, kita menjumpai situasi yang berbeda di Indonesia. Hal itu, kata Netty diakibatkan oleh penanganan pandemi setengah-setengah antara kesehatan dan pemulihan ekonomi.
"Skema program dan pembiayaan tidak fokus pada stimulus mengatasi persoalan kesehatan. Bahkan anggaran Kemenkes untuk penanganan pandemi terbilang kecil dan proses pencairan pun berbelit,” tegas dia.
Baca Juga:
Luhut Perintahkan Kemenkes Turun Lapangan Pantau Rumah Sakit COVID-19
Oleh karena itu, menurut istri mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriyawan ini, jika media asing menyorot Menkes berkinerja buruk, sebaiknya kita semua berintrospeksi.
“Sudahkah arahan, kewenangan dan otoritas diberikan? Jangan sampai kita membenarkan penilaian orang luar, sementara persoalan utamanya adalah kurangnya kepemimpinan transformatif yang mampu mengharmonisasikan semua perangkat,” tutup Netty. (Pon)
Baca Juga:
Menkes Siap Tambah Hotel Berbintang Buat Isolasi Orang Tanpa Gejala