Pionir Hak Azasi Manusia Navanethem 'Navi' Pillay Menangi Hadiah Nobel Perdamaian 2026

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
Pionir Hak Azasi Manusia Navanethem 'Navi' Pillay Menangi Hadiah Nobel Perdamaian 2026

Pionir Hak Azasi Manusia Navanethem 'Navi' Pillay Menangi Hadiah Nobel Perdamaian 2026.(foto: Instagram @nobelprize)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — NAVANETHEM ‘Navi’ Pillay resmi diumumkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2026. Ia dianugerahi penghargaan tersebut atas upayanya dalam mempromosikan perdamaian dan hukum internasional. Pengumuman nama pemenang disampaikan Ketua Komite Nobel Norwegia Jorgen Watne Frydnes.

“Navi Pillay telah memperluas cakupan serta dampak dari hukum internasional secara signifikan," ujar Frydnes. Saat mengumumkan pemenang tahun ini, ia menambahkan Pillay memelopori jalan menuju tatanan hukum global yang lebih komprehensif dengan keberanian yang luar biasa.

Frydnes memuji perjalanan karier panjang Pillay, yang dimulai sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan dalam menghadapi diskriminasi yang mendalam. Ia menyebut Pillay memiliki ‘kompas moral yang teguh’. Frydnes menyampaikan Pillay telah menuntut pertanggungjawaban dari negara dan para pemimipin, serta membawa harapan bagi para korban. Pillay dinilai selalu menekankan tanggung jawab individu maupun negara untuk mematuhi supremasi hukum.

Di tengah pidato, Frydnes menyempatkan diri untuk menyoroti bahwa sistem hukum internasional saat ini sedang berada dalam tekanan yang sangat besar, sembari menambahkan bahwa dunia sedang mengalami pergeseran ke arah yang ia sebut sebagai ‘politik kekuasaan’ (power politics).

"Ketika kekuatan mengalahkan kebenaran, hal itu akan merusak stabilitas,” ujarnya.

Baca juga:

Penyair Kanada Anne Carson Raih Hadiah Nobel Sastra, Menghadirkan Karya Sastra yang Berani dan Inovatif



Ia menyimpulkan komitmen Pillay terhadap keadilan dan martabat manusia merupakan sumber harapan dan inspirasi bagi semua orang yang memperjuangkan dunia yang lebih damai.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan Pillay telah menatap kejamnya ketidakadilan secara langsung dan tidak pernah berpaling.

"Beliau ialah pelindung bagi mereka yang tertindas, rentan, tak bersuara, dan tersingkirkan," lanjut von der Leyen. Melalui unggahannya di platform X, ia mengatakan hanya sedikit orang yang mendedikasikan hidupnya untuk keadilan, perdamaian, dan martabat manusia seperti halnya Navi Pillay.

Di dunia yang membutuhkan keadilan lebih dari sebelumnya, keberanian dan kejelasan moral beliau ialah kompas yang sangat berharga.

Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa



Bercanda akan Berbagi Hadiah dengan Donald Trump




Setelah diberi tahu bahwa ia memenangi Hadiah Nobel Perdamaian, Navi Pillay berseloroh ia tidak percaya kabar tersebut nyata. Ia menceritakan bahwa ia dipanggil keluar dari meja kerjanya dan seorang pria bernama Cristoph memberi tahu bahwa ia telah menang.

"Pasti ini bercanda. Tepuk tangan Anda sekalian sangat berarti bagi saya. Namun, sebagai seorang pengacara dan hakim, saya masih ingin memverifikasi hal ini,” katanya kepada kerumunan kecil yang berkumpul di luar kamera.

Di tengah keterkejutan itu, Pillay bercanda akan membagi Hadiah Nobel Perdamaian dengan Trump. “Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih meriah lagi, saya mungkin akan membagi hadiah ini dengan Trump" candanya.

Ucapan itu menjadi sentilan bagi pemenang Hadiah Nobel Perdamian tahun lalu, María Corina Machado, menyerahkan medalinya kepada Presiden AS pada Januari lalu.

Baca juga:

Dua Ilmuwan Pemecah Misteri Asimetri Kehidupan Dianugerahi Hadiah Nobel Kimia



Penyeru Hak Asasi Manusia di Era Apartheid




Navanethem ‘Navi’ Pillay menjadi perempuan pertama yang membuka praktik hukum di Provinsi Natal, Afrika Selatan, pada 1967.

Sebagai putri seorang sopir bus dari kawasan miskin keturunan India di Durban, Afrika Selatan, Pillay tumbuh besar dan memulai kerja-kerja hak asasi manusianya di era apartheid. Ia berhasil menjadi perempuan nonkulit putih pertama yang mendirikan firma hukumnya sendiri serta diangkat sebagai hakim pengadilan tinggi di Afrika Selatan.

Setelah membela banyak penentang rezim apartheid, Pillay dipilih Majelis Umum PBB sebagai hakim di Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda. Ia bertugas di pengadilan tersebut selama delapan tahun, termasuk empat tahun di antaranya menjabat presiden pengadilan.

Hingga baru-baru ini, Pillay—yang kini berusia 85 tahun—menjabat Ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, dan saat ini bertindak sebagai hakim di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam kasus Myanmar dituduh melakukan genosida.(dwi)

Baca juga:

Ilmuwan Belgia Raih Hadiah Nobel Fisika untuk Temuan ’Partikel Hantu' dari Teleskop Luar Angkasa

#Hadiah Nobel #Perdamaian #Hadiah Nobel Perdamaian
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Pionir Hak Azasi Manusia Navanethem 'Navi' Pillay Menangi Hadiah Nobel Perdamaian 2026
Pillay memelopori jalan menuju tatanan hukum global yang lebih komprehensif dengan keberanian yang luar biasa.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
Pionir Hak Azasi Manusia Navanethem 'Navi' Pillay Menangi Hadiah Nobel Perdamaian 2026
Dunia
Penyair Kanada Anne Carson Raih Hadiah Nobel Sastra, Menghadirkan Karya Sastra yang Berani dan Inovatif
Carson, 76 tahun, dikenal luas lewat karya-karyanya yang kerap melintasi batas antara puisi, fiksi, dan akademisi.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
  Penyair Kanada Anne Carson Raih Hadiah Nobel Sastra, Menghadirkan Karya Sastra yang Berani dan Inovatif
Dunia
Dua Ilmuwan Pemecah Misteri Asimetri Kehidupan Dianugerahi Hadiah Nobel Kimia
Mereka ialah ilmuwan asal Prancis Henri B Kagan dan Kenso Soai dari Jepang.
Dwi Astarini - Rabu, 07 Oktober 2026
 Dua Ilmuwan Pemecah Misteri Asimetri Kehidupan Dianugerahi Hadiah Nobel Kimia
Dunia
Ilmuwan Belgia Raih Hadiah Nobel Fisika untuk Temuan ’Partikel Hantu' dari Teleskop Luar Angkasa
Temuannya telah membuka tabir rahasia alam semesta nan jauh.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
 Ilmuwan Belgia Raih Hadiah Nobel Fisika untuk Temuan ’Partikel Hantu' dari Teleskop Luar Angkasa
Dunia
3 Ilmuwan Pemecah Misteri Otak Terima Hadiah Nobel Bidang Kedokteran 2026
Metode optogenetika yang mereka perkenalkan diibaratkan sebagai ‘sakelar peka cahaya’.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 3 Ilmuwan Pemecah Misteri Otak Terima Hadiah Nobel Bidang Kedokteran 2026
Indonesia
Penulis Utama Makalah Nobel MBG Pakai Gelar Palsu, Minta Maaf Catut Nama Prabowo
Menteri Brian Yuliarto ungkap penulis makalah Nobel MBG akui catut nama Presiden Prabowo Subianto dan tokoh lain tanpa izin.
Wisnu Cipto - Senin, 10 Agustus 2026
Penulis Utama Makalah Nobel MBG Pakai Gelar Palsu, Minta Maaf Catut Nama Prabowo
Indonesia
Jejak AI di Makalah Ilmiah Pengusung MBG Nominasi Nobel Perdamaian 2026
Makalah Nobel Peace Prize 2026 yang mengusung Program MBG diduga menggunakan AI. Publik menemukan jejak prompt AI dalam dokumen, sementara pemerintah menginvestigasi pencatutan nama Presiden Prabowo.
Wisnu Cipto - Kamis, 06 Agustus 2026
Jejak AI di Makalah Ilmiah Pengusung MBG Nominasi Nobel Perdamaian 2026
Indonesia
Kepala Bakom Investigasi Nama Prabowo Dicatut Jadi Penulis Makalah Usung MBG Masuk Nominasi Nobel
Pemerintah Indonesia investigasi dugaan pencatutan nama Presiden Prabowo Subianto dalam makalah Nobel Peace Prize 2026 terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wisnu Cipto - Kamis, 06 Agustus 2026
Kepala Bakom Investigasi Nama Prabowo Dicatut Jadi Penulis Makalah Usung MBG Masuk Nominasi Nobel
Dunia
Pertemuan Perdamaian Iran dan AS di Swiss Dibatalkan, Tidak Ada Penjelasan Pembatalan
Memorandum tersebut memberikan waktu 60 hari bagi kedua negara untuk merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan sanksi Amerika Serikat.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 19 Juni 2026
Pertemuan Perdamaian Iran dan AS di Swiss Dibatalkan, Tidak Ada Penjelasan Pembatalan
Indonesia
Gubernur Pramono Gaungkan Perdamaian Dunia dari Monas, Ingatkan Prinsip Ahimsa
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung serukan perdamaian dunia di Monas, tekankan nilai Ahimsa dan Tri Hita Karana.
Wisnu Cipto - Minggu, 19 April 2026
Gubernur Pramono Gaungkan Perdamaian Dunia dari Monas, Ingatkan Prinsip Ahimsa
Bagikan