MerahPutih.com - Perdebatan baru mengenai tata kelola AI mencuat setelah pimpinan Anthropic, Dario Amodei, menyerukan perlambatan AI secara terkoordinasi. Langkah itu didukung oleh Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari SpaceX. Selain itu, Australia menjadi negara yang mengusulkan pengendalian AI.
Amerika Serikat dan China dikabarkan telah sepakat untuk membentuk mekanisme guna membahas isu-isu terkait pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Bessent menyampaikan pernyataan tersebut usai pertemuannya dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York, Minggu (20/9), menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington yang dijadwalkan akhir pekan ini serta pembicaraannya dengan Presiden AS Donald Trump.
Hal terpenting adalah memulai pembicaraan, jadi kami telah membentuk Dialog AI. Kami kemungkinan akan bertemu lagi dalam dua bulan,
kata Bessent dalam wawancara dengan Financial Times yang diterbitkan pada Senin (22/9).
AS bertujuan untuk mengelola risiko yang terkait dengan pengembangan AI, khususnya mengenai agen AI yang tidak terkendali dan ancaman siber dari aktor non-negara, kata Bessent.
Washington juga menaruh perhatian pada potensi penggunaan AI untuk menciptakan senjata biologis. Sementara, China lebih fokus pada pengendalian teknologi AI itu sendiri, ungkap seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya kepada surat kabar tersebut.
Belakangan ini muncul kekhawatiran di AS bahwa AI dapat menimbulkan ancaman bagi umat manusia. Trump secara terbuka mendukung kelanjutan pengembangan bidang tersebut, dengan menegaskan bahwa AS tidak boleh membiarkan China memimpin.
Xi Jinping dijadwalkan tiba di Washington pada 24 September. Trump sebelumnya telah mengunjungi Beijing pada Mei didampingi oleh delegasi perwakilan bisnis AS.