MerahPutih.Com - Perluasan jalur penerbangan sipil yang dilakukan China di Selat Taiwan membuat Pemerintah Taiwan gerah. Penguasa Taipei menyebutkan tindakan sepihak China sangat tidak bertanggung jawab karena mengancam keamanan di kawasan tersebut.
China membuka beberapa jalur udara, yang disengketakan, pada minggu lalu, termasuk jalur M503 di utara di Selat Taiwan, tanpa memberi tahu Taiwan, yang dinilai bertentangan kesepakatan pada 2015, saat kedua negara pertama kali membahas jalur penerbangan tersebut.
Taiwan layak mencemaskan tindak-tanduk Beijing belakangan ini. Sebab, setelah pembukaan jalur penerbangan sipil secara sepihak, Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan lalu mengumpulkan sebagian tentara China dan membakar semangat mereka untuk tidak takut mati dalam berperang.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, pada Minggu (7/1) kemarin mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak hanya secara serius memengaruhi keselamatan penerbangan, namun juga merusak keadaan saat ini di selat Taiwan.
"Perubahan sepihak keadaan seperti itu, merusak ketenangan kawasan, bukan sesuatu yang akan dipandang baik oleh masyarakat internasional," kata Tsai dalam pernyataan.
Sebagaimana dilansir Antara Senin (8/1) Tsai meminta Beijing untuk memberikan prioritas untuk memulihkan diskusi teknis mengenai jalur penerbangan.
Dalam pertemuan itu Tsai juga mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas militer China di kawasan tersebut mengancam stabilitas keamanan kawasan.
Langkah Beijing datang saat China menekan program modernisasi militer yang mencakup pembangunan kapal induk dan jet tempur siluman untuk memberikan kemampuan proyeksi kekuatan jauh dari daratannya, dan meningkatkan apa yang mereka sebut "patroli pengepungan pulau" di dekat Taiwan.
Pada Kamis, otoritas penerbangan sipil China dalam pernyataan mengumumkan jalur baru mengatakan bahwa pesawat akan mengikuti jalur penerbangan yang diarahkan secara ketat.
"Beberapa tahun terakhir, penerbangan terjadwal untuk wilayah udara pantai Barat di selat tersebut telah meningkat dengan cepat dan penundaan menjadi lebih kritis. Dengan menggunakan rute M503 dan rute yang berdekatan, akan mengurangi tekanan lalu lintas udara yang ada saat ini," katanya.
China menganggap Taiwan sebagai provinsinya dan menghentikan komunikasi resmi dengan pemerintah Taiwan setelah Partai Progresif Demokratik yang berpihak pada Tsai berkuasa pada 2016. China menduga Tsai ingin mendorong kemerdekaan. Ia mengatakan ingin mempertahankan "status quo" dengan China dan bertekad memastikan perdamaian.(*)