Merahputih.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai serangkaian kesepakatan dagang bernilai besar pada hari kedua kunjungan kenegaraan di Beijing, Jumat (15/5).
Meski detail rincian belum terbuka sepenuhnya, kesepakatan ini mencakup pembelian komoditas pertanian AS dalam skala masif dan komitmen kerja sama sektor teknologi serta energi.
Baca juga:
Dalam pertemuan di kompleks Zhongnanhai, Trump mengungkapkan bahwa kedua negara kini berada di posisi yang selaras. Salah satu poin krusial adalah komitmen China untuk membeli 200 unit pesawat Boeing.
Jika mengacu pada harga pasar rata-rata pesawat komersial Boeing saat ini yang berada di kisaran Rp1,5 triliun hingga Rp3 triliun per unit, nilai transaksi ini berpotensi menembus angka ratusan triliun rupiah.
Diplomasi Energi dan Keamanan Selat Hormuz
Selain urusan dagang, dialog dua pemimpin negara adidaya ini menyentuh stabilitas global di Timur Tengah. China menawarkan bantuan untuk memastikan pembukaan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia. Beijing juga berjanji menghentikan suplai peralatan militer ke Teheran demi meredam konflik.
"Kami membahas begitu banyak hal kemarin dan kami sepertinya sudah saling sepakat," ujar Trump.
Senada dengan itu, Presiden Xi Jinping menyebut kunjungan ini sebagai peristiwa "bersejarah" yang memperkuat hubungan bilateral setelah ketegangan perang dagang yang sempat memanas pada 2025 lalu.
Kementerian Luar Negeri China menegaskan pentingnya menjaga rantai pasok global agar tidak terganggu. Beijing berkomitmen memainkan peran konstruktif dalam mewujudkan perdamaian di Timur Tengah melalui dialog internasional yang lebih kuat.
Aliansi Teknologi "G2" dan Protokol AI
Pertemuan tingkat tinggi ini turut menghadirkan raksasa teknologi AS seperti Elon Musk (Tesla), Jensen Huang (Nvidia), dan Tim Cook (Apple). Di tengah persaingan ketat pengembangan Kecerdasan Artifisial (AI), kedua negara sepakat menyusun protokol pengembangan AI yang aman.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menambahkan bahwa Washington dan Beijing akan membentuk badan investasi khusus.
Baca juga:
Xi Jinping Ingatkan Donald Trump Isu Taiwan Bisa Picu Perang Besar
Lembaga ini nantinya bertanggung jawab mengelola arus modal pada sektor-sektor non-sensitif. Langkah ini menyusul pencabutan sejumlah pembatasan ekspor komoditas tanah jarang (rare earth) China yang menjadi bahan baku utama semikonduktor dan kendaraan listrik.
Kunjungan ini menandai era baru yang disebut Trump sebagai "G2", merujuk pada dominasi dua kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam menjaga stabilitas pasar global.