Merahputih.com - Peningkatan polusi udara akibat kebakaran hutan dan gelombang panas dapat menghambat upaya global memperbaiki kualitas udara.
Tidak hanya itu, kondisi tersebut sekaligus meningkatkan risiko bagi kesehatan manusia dan ekosistem.
Buletin Tahunan Kualitas Udara dan Iklim, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menekankan hubungan erat antara perubahan iklim dan polusi udara.
Baca juga:
Peringatan PBB: El Nino 2026 Bisa Capai Level Ekstrem dan Bertahan hingga 2027
WMO mendorong negara-negara untuk menerapkan kebijakan terpadu karena kedua persoalan tersebut saling berkaitan dan dapat memperburuk dampaknya.
Asap Kebakaran Hutan Makin Mengkhawatirkan
Salah satu sorotan utama WMO adalah meningkatnya kejadian ekstrem terkait asap kebakaran hutan. Berdasarkan laporan tersebut, frekuensi kejadian asap kebakaran secara global telah meningkat tiga kali lipat sejak 1990-an.
WMO juga mengutip sebuah studi yang memperkirakan asap kebakaran berkontribusi terhadap hampir 100.000 kematian tambahan setiap tahun sepanjang periode 2010-2018.
Memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan semakin sulit, karena cuaca ekstrem yang memicu kebakaran diperkirakan meningkat pada masa mendatang,
demikian pernyataan dalam laporan WMO.
Gelombang Panas Perparah Polusi Ozon
Baca juga:
Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan Mengintai Sumatera, Jawa, dan Kalimantan di Akhir Agustus 2026
Selain asap kebakaran, gelombang panas juga menjadi perhatian WMO. Suhu tinggi, kondisi udara yang stagnan, serta paparan sinar matahari yang intens dapat mempercepat pembentukan ozon di permukaan tanah.
WMO memperkirakan risiko kesehatan akibat paparan ozon akan meningkat seiring semakin seringnya kondisi cuaca ekstrem. Dampaknya bahkan berpotensi memicu puluhan ribu kematian dini tambahan.
Karena itu, WMO menyerukan penguatan sistem pemantauan kualitas udara. Pengawasan tidak hanya perlu mencakup polutan konvensional, tetapi juga zat seperti karbon hitam dan mikroplastik di atmosfer.
Baca juga:
El Nino Bakal Bertahan Hingga Februari 2027, Warga Rasakan Kekeringan dan Panas Ekstrem